alexametrics
23.7 C
Jayapura
Tuesday, July 5, 2022

Di Jayawijaya, Petani Kewalahan Panen Kopi

Tarsina Wenda bersama Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua , SE, MSi saat memanen Kopi Arabika.( FOTO : Denny/ Cepos )

WAMENA – Petani Kopi di Jayawijaya mengaku untuk  pengembangan kopi arabika ini, mereka  kewalahan dalam memetik kopi tiap harinya. Masalahnya dengan lahan yang luas tak bisa dikerjakan  dengan jumlah tenaga yang minim. Hal ini menyebabkan,  banyak buah kopi yang sudah masuk usia panen harus jatuh ke tanah begitu saja.

  Salah satu Petani  Kopi Kampung Perabaga Distrik Pyramid Tersina Wenda mengakui jika lahannya ada 1 hektar dengan jumlah tanaman kopi 1.600 pohon yang dikelola oleh 12 kepala keluarga, untuk panen biasanya dilakukan perminggu dan hasilnya bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram dan langsung diolah menjadi biji kopi.

  “Kita biasanya pasarkan PT Garuda Mas, Cartenz, dengan harga perkilo yang masih berbentuk biji kopi basah  itu seharga Rp 60.000, kalau yang sudah kering untuk kopi biasa itu Rp 100.000, sedangkan yang kualitasnya natural itu dipasarkan dengan harga Rp 250.000 per kilo,”ungkapnya saat ditemui Distrik Pyramid Selasa (5/3) kemarin.

Baca Juga :  SMA Negeri 1 Wamena Terapkan Protokol Kesehatan di PPDB

  Dalam pengembangan kopi di Distrik Pyramid, kata Tersina Wenda, ada 4 jenis kopi yang dikembangkan, yaki  kopi biasa (namanya asal –asalan), Kopi Boks, Kopi Handi dan Kopi Natural, dan yang paling mahal kopi natural itu kopi yang dijemur dalam bentuk masih buah, 

  “Kami di sini hanya kewalahan untuk memetik kopi, artinya saya harus membayar orang lagi untuk memetik buah kopi ini, karena kalau panen raya 12 kepala keluarga yang mengelola ini tidak mampu memetik buah kopi sendiri,”katanya.

  Tersina berharap kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera membuat brand atau produk yang dihasilkan dari Jayawijaya, sehingga pengembangan kopi ini bisa terus dipertahankan oleh masyarakat,

   Sementara itu,  Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengaku Jayawijaya telah memiliki brand kopi sendiri yang diuruskan lewat Kementrian Hukum dan Ham, namun kalau masyarakat mampu untuk terus memasok kopi maka pemerintah daerah akan membuat satu tempat produksi kopi,

Baca Juga :  Bupati Tolikara teken MoU dengan BPKP Papua

  “Kami juga akan melihat dan memberikan kendaraan bagi petani kopi seperti Tarsina Wenda untuk menjangkau 6 Distrik guna mengepul kopi, karena sebagai petani kopi ia juga sebagai pengepul kopi dari masyarakat,”bebernya.

  Pemerintah Jayawijaya memberikan apresiasi kepada Tersina Wenda karena sudah mau menjadi pengembang kopi dan memacu masyarakat untuk menanam kopi agar masyarakat tidak merasa sulit untuk melakukan penjualan.

  “Saya minta kepada OPD terkait untuk tidak berpikir untuk terus membuka lahan, tetapi bagaimana menghidupkan lahan tidur yang bisa dikembangkan, contoh seperti di Distrik Yalengga ada perkebunan kopi tidak terurus hingga menjadi hutan,”tegasnya.(jo/tri)

Tarsina Wenda bersama Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua , SE, MSi saat memanen Kopi Arabika.( FOTO : Denny/ Cepos )

WAMENA – Petani Kopi di Jayawijaya mengaku untuk  pengembangan kopi arabika ini, mereka  kewalahan dalam memetik kopi tiap harinya. Masalahnya dengan lahan yang luas tak bisa dikerjakan  dengan jumlah tenaga yang minim. Hal ini menyebabkan,  banyak buah kopi yang sudah masuk usia panen harus jatuh ke tanah begitu saja.

  Salah satu Petani  Kopi Kampung Perabaga Distrik Pyramid Tersina Wenda mengakui jika lahannya ada 1 hektar dengan jumlah tanaman kopi 1.600 pohon yang dikelola oleh 12 kepala keluarga, untuk panen biasanya dilakukan perminggu dan hasilnya bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram dan langsung diolah menjadi biji kopi.

  “Kita biasanya pasarkan PT Garuda Mas, Cartenz, dengan harga perkilo yang masih berbentuk biji kopi basah  itu seharga Rp 60.000, kalau yang sudah kering untuk kopi biasa itu Rp 100.000, sedangkan yang kualitasnya natural itu dipasarkan dengan harga Rp 250.000 per kilo,”ungkapnya saat ditemui Distrik Pyramid Selasa (5/3) kemarin.

Baca Juga :  Tidak Ada Dukungan dari Pemkab Jayawijaya

  Dalam pengembangan kopi di Distrik Pyramid, kata Tersina Wenda, ada 4 jenis kopi yang dikembangkan, yaki  kopi biasa (namanya asal –asalan), Kopi Boks, Kopi Handi dan Kopi Natural, dan yang paling mahal kopi natural itu kopi yang dijemur dalam bentuk masih buah, 

  “Kami di sini hanya kewalahan untuk memetik kopi, artinya saya harus membayar orang lagi untuk memetik buah kopi ini, karena kalau panen raya 12 kepala keluarga yang mengelola ini tidak mampu memetik buah kopi sendiri,”katanya.

  Tersina berharap kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera membuat brand atau produk yang dihasilkan dari Jayawijaya, sehingga pengembangan kopi ini bisa terus dipertahankan oleh masyarakat,

   Sementara itu,  Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengaku Jayawijaya telah memiliki brand kopi sendiri yang diuruskan lewat Kementrian Hukum dan Ham, namun kalau masyarakat mampu untuk terus memasok kopi maka pemerintah daerah akan membuat satu tempat produksi kopi,

Baca Juga :  Dinkes Terus Lakukan Pemantauan

  “Kami juga akan melihat dan memberikan kendaraan bagi petani kopi seperti Tarsina Wenda untuk menjangkau 6 Distrik guna mengepul kopi, karena sebagai petani kopi ia juga sebagai pengepul kopi dari masyarakat,”bebernya.

  Pemerintah Jayawijaya memberikan apresiasi kepada Tersina Wenda karena sudah mau menjadi pengembang kopi dan memacu masyarakat untuk menanam kopi agar masyarakat tidak merasa sulit untuk melakukan penjualan.

  “Saya minta kepada OPD terkait untuk tidak berpikir untuk terus membuka lahan, tetapi bagaimana menghidupkan lahan tidur yang bisa dikembangkan, contoh seperti di Distrik Yalengga ada perkebunan kopi tidak terurus hingga menjadi hutan,”tegasnya.(jo/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/