Petani Diminta Antisipasi Musim Kemarau

WAMENA—Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jayawijaya merilis bahwa saat ini Wilayah Lapago mulai masuk pada musim kemarau, bahkan potensi ini akan mengalami puncak yang diperkirakan sampai Agustus hingga September.

Kepala BMKG Jayawijaya, Subahari menyatakan, saat ini memang di Wamena sendiri curah hujannya mulai berkurang, sejak Juni. Curah hujan ada di kisaran kurang dari 50 mili meter, nanti diikuti dasar harian pertama 1-10, dasar harian kedua 11-20, dasar harian ketiga itu tanggal 21-30.

“Kita selama ini pengukuran di curah hujan itu mulai berkurang, dari dasar harian mulai Juni selama satu bulan 36 mili meter atau hanya 15 hari hujan, itu pun itensitasnya sedang di bawah normal atau 50 mili meter,” ungkapnya Senin (4/7) kemarin.

Baca Juga :  DPRK Minta RKPD 2026 Harus Seimbang

Menurutnya, terkait puncak pergantian ke musim kemaru di Wamena itu diperkirakan Agustus ke September, pergantian musim ini akan berpengaruh ke sektor pertanian, kekurangan debit air akibat berkurangnya curah hujan, sehingga perlu diantisipasi oleh petani agar tidak gagal panen nantinya.

“Memang mulai sekarang sudah terlihat sehingga kita berikan peringatan kepada masyarakat agar mengantisipasi masalah ini, sebab di wilayah Lapago itu sebagian besar masyarakatnya perekonomiannya ada di perkebunan, jangan sampai kurang air hingga tanaman mati,” jelasnya.

“Puncak kemarau nanti hampir sama dirasakan di seluruh wilayah pegunungan. Namun kalau di Papua pada umumnya, ini disesuaikan dengan zonasi atau zoom (zona musim), sehingga meskipun sama -sama musim kemarau, namun ada daerah yang masih turun hujan,”tutupnya (jo/tho)

Baca Juga :  497 Tenaga Honorer K2 Pemda Yalimo Mulai Ikuti Test CASN  Selama 3 Hari

WAMENA—Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jayawijaya merilis bahwa saat ini Wilayah Lapago mulai masuk pada musim kemarau, bahkan potensi ini akan mengalami puncak yang diperkirakan sampai Agustus hingga September.

Kepala BMKG Jayawijaya, Subahari menyatakan, saat ini memang di Wamena sendiri curah hujannya mulai berkurang, sejak Juni. Curah hujan ada di kisaran kurang dari 50 mili meter, nanti diikuti dasar harian pertama 1-10, dasar harian kedua 11-20, dasar harian ketiga itu tanggal 21-30.

“Kita selama ini pengukuran di curah hujan itu mulai berkurang, dari dasar harian mulai Juni selama satu bulan 36 mili meter atau hanya 15 hari hujan, itu pun itensitasnya sedang di bawah normal atau 50 mili meter,” ungkapnya Senin (4/7) kemarin.

Baca Juga :  Sejahterakan Rakyat, Pemkab Puncak Beli Hasil Bumi Masyarakat dengan Dana Otsus

Menurutnya, terkait puncak pergantian ke musim kemaru di Wamena itu diperkirakan Agustus ke September, pergantian musim ini akan berpengaruh ke sektor pertanian, kekurangan debit air akibat berkurangnya curah hujan, sehingga perlu diantisipasi oleh petani agar tidak gagal panen nantinya.

“Memang mulai sekarang sudah terlihat sehingga kita berikan peringatan kepada masyarakat agar mengantisipasi masalah ini, sebab di wilayah Lapago itu sebagian besar masyarakatnya perekonomiannya ada di perkebunan, jangan sampai kurang air hingga tanaman mati,” jelasnya.

“Puncak kemarau nanti hampir sama dirasakan di seluruh wilayah pegunungan. Namun kalau di Papua pada umumnya, ini disesuaikan dengan zonasi atau zoom (zona musim), sehingga meskipun sama -sama musim kemarau, namun ada daerah yang masih turun hujan,”tutupnya (jo/tho)

Baca Juga :  Pendistribusian Logistik Untuk PSU Sesuai titik Koordinat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya