Petani Diminta Antisipasi Musim Kemarau

WAMENA—Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jayawijaya merilis bahwa saat ini Wilayah Lapago mulai masuk pada musim kemarau, bahkan potensi ini akan mengalami puncak yang diperkirakan sampai Agustus hingga September.

Kepala BMKG Jayawijaya, Subahari menyatakan, saat ini memang di Wamena sendiri curah hujannya mulai berkurang, sejak Juni. Curah hujan ada di kisaran kurang dari 50 mili meter, nanti diikuti dasar harian pertama 1-10, dasar harian kedua 11-20, dasar harian ketiga itu tanggal 21-30.

“Kita selama ini pengukuran di curah hujan itu mulai berkurang, dari dasar harian mulai Juni selama satu bulan 36 mili meter atau hanya 15 hari hujan, itu pun itensitasnya sedang di bawah normal atau 50 mili meter,” ungkapnya Senin (4/7) kemarin.

Baca Juga :  SMPN 2 Terapkan  Sistem CBT  Dalam Ujian Semester  Kelas VII Hingga Kelas IX

Menurutnya, terkait puncak pergantian ke musim kemaru di Wamena itu diperkirakan Agustus ke September, pergantian musim ini akan berpengaruh ke sektor pertanian, kekurangan debit air akibat berkurangnya curah hujan, sehingga perlu diantisipasi oleh petani agar tidak gagal panen nantinya.

“Memang mulai sekarang sudah terlihat sehingga kita berikan peringatan kepada masyarakat agar mengantisipasi masalah ini, sebab di wilayah Lapago itu sebagian besar masyarakatnya perekonomiannya ada di perkebunan, jangan sampai kurang air hingga tanaman mati,” jelasnya.

“Puncak kemarau nanti hampir sama dirasakan di seluruh wilayah pegunungan. Namun kalau di Papua pada umumnya, ini disesuaikan dengan zonasi atau zoom (zona musim), sehingga meskipun sama -sama musim kemarau, namun ada daerah yang masih turun hujan,”tutupnya (jo/tho)

Baca Juga :  Relawan Jones Siap Hadang Aksi Pengganggu Jalannya Pemerintahan

WAMENA—Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jayawijaya merilis bahwa saat ini Wilayah Lapago mulai masuk pada musim kemarau, bahkan potensi ini akan mengalami puncak yang diperkirakan sampai Agustus hingga September.

Kepala BMKG Jayawijaya, Subahari menyatakan, saat ini memang di Wamena sendiri curah hujannya mulai berkurang, sejak Juni. Curah hujan ada di kisaran kurang dari 50 mili meter, nanti diikuti dasar harian pertama 1-10, dasar harian kedua 11-20, dasar harian ketiga itu tanggal 21-30.

“Kita selama ini pengukuran di curah hujan itu mulai berkurang, dari dasar harian mulai Juni selama satu bulan 36 mili meter atau hanya 15 hari hujan, itu pun itensitasnya sedang di bawah normal atau 50 mili meter,” ungkapnya Senin (4/7) kemarin.

Baca Juga :  Ikut Serta Membangun SDM Papua Pegunungan UNAI'M Wamena Buka PMB

Menurutnya, terkait puncak pergantian ke musim kemaru di Wamena itu diperkirakan Agustus ke September, pergantian musim ini akan berpengaruh ke sektor pertanian, kekurangan debit air akibat berkurangnya curah hujan, sehingga perlu diantisipasi oleh petani agar tidak gagal panen nantinya.

“Memang mulai sekarang sudah terlihat sehingga kita berikan peringatan kepada masyarakat agar mengantisipasi masalah ini, sebab di wilayah Lapago itu sebagian besar masyarakatnya perekonomiannya ada di perkebunan, jangan sampai kurang air hingga tanaman mati,” jelasnya.

“Puncak kemarau nanti hampir sama dirasakan di seluruh wilayah pegunungan. Namun kalau di Papua pada umumnya, ini disesuaikan dengan zonasi atau zoom (zona musim), sehingga meskipun sama -sama musim kemarau, namun ada daerah yang masih turun hujan,”tutupnya (jo/tho)

Baca Juga :  HUT DWP Kabupaten Yalimo Gelar Lomba Peragaan Busana Adat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya