alexametrics
24.7 C
Jayapura
Monday, May 23, 2022

Angka Kemiskinan Diprediksi Naik Jadi 40,48 Persen

WAMENA-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Deaerah (Bappeda) Jayawijaya Petrus Mahuze memprediksi sejak pandemi Covid-19, angka kemiskinan di Kabupaten Jayawijaya naik menjadi 40,48  persen. Dampak Covid di wilayah Pegunungan Tengah Papua, sangat terasa di Wamena yang menjadi pusat aktifitas perekonomian di wilayah Lapago. 

Petrus Mahuze  ( FOTO: Denny/ Cepos )

  Menurutnya, peningkatan angka kemiskinan disebabkan karena aktivitas warga banyak yang tidak berjalan pada berbagai sektor yang terhambat akibat Covid-19. Akibatnya pendapatan masyarakat semakin berkurang selama masa pandemi Ccovid -19 ini terus berlangsung di Kabupaten Jayawijaya.

  “Kita targetkan pada tahun 2020 sebenarnya menurun dari tahun 2019. Kita target itu 36,22 persen presentase penduduk miskinnya, tetapi dengan adanya wabah ini kita prediksi naik di angka 38 sampai 40,48 persen penduduk miskin akan bertambah,”ungkapnya Rabu (1/7) kemarin

   Ia mengatakan imbas corona di Jayawijaya mempengaruhi berbagai sektor yaitu pendidikan, perdagangan dan transportasi serta pertanian yang menjadi leading sektor masyarakat. Sebelumnya Bappeda Jayawijaya memprediksi tingkat pengangguran terbuka tahun 2020 adalah di bawah rata-rata yaitu 0,57 persen, namun kini banyak pengangguran setelah sejumlah sektor usaha merumahkan karyawannya.

Baca Juga :  Fokus Penanganan Covid -19, Kejahatan Jalanan Mulai Meningkat

  “Kita prediksi tingkat pengangguran terbuka akan melonjak kurang lebih 2,57 persen, artinya meningkat dari prediksi kita hanya 0,57 persen,”jelas Petrus Mahuze.

   Dengan melambatnya peredaran uang sejak beberapa bulan terakhir, Kata Kepala Bappeda Jayawijaya diprediksi pertumbuhan ekonomi Jayawijaya minus. Artinya ada beberapa sektor yang tidak berjalan yang mempengaruhi perekonomian masyarakat.

  “Awalnya kita prediksi sekitar Juni kita sudah ada di angka tiga koma sekian dari target pertumbuhan ekonomi kita 2020 itu 8,1 persen. Tetapi kita prediksi sampai dengan Juni kita berada pada angka 2,18 persen karena kalau dilihat, Provinsi Papua sampai triwulan satu, itu baru di angka 1,8 persen,”katanya

Baca Juga :  Hendak Mancing, Seorang Warga Dibacok

  Inflasi yang diprediksi naik cukup tinggi di Jayawijaya dan daerah pegunungan tengah Papua pada umumnya, namun yang dikhawatirkan berdampak terhadap pendapatan per kapita masyarakat, atau pendapatan masyarakat yang menurun saat ini.

  “Kita tahu sendiri bahwa selama ini pendapatan per kapita masyarakat itu berada di angka Rp 4 juta per orang, per keluarga, kita prediksi nanti berada di bawah itu, mungkin di bawah satu koma sekian juta per orang karena aktivitas yang terbatas,” beber Petrus.

  Bappeda mengharapkan dengan kebijakan hidup baru oleh pemerintah pusat. Selain memprioritaskan penanganan kesehatan tetapi juga membuka kegiatan perekonomian namun terbatas hingga bisa kembali menopang pendapatan masyarakat yang kian telah menurun 3 sejak pandemi Covid -19 mulai masuk ke Wamena. (jo/tri)

WAMENA-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Deaerah (Bappeda) Jayawijaya Petrus Mahuze memprediksi sejak pandemi Covid-19, angka kemiskinan di Kabupaten Jayawijaya naik menjadi 40,48  persen. Dampak Covid di wilayah Pegunungan Tengah Papua, sangat terasa di Wamena yang menjadi pusat aktifitas perekonomian di wilayah Lapago. 

Petrus Mahuze  ( FOTO: Denny/ Cepos )

  Menurutnya, peningkatan angka kemiskinan disebabkan karena aktivitas warga banyak yang tidak berjalan pada berbagai sektor yang terhambat akibat Covid-19. Akibatnya pendapatan masyarakat semakin berkurang selama masa pandemi Ccovid -19 ini terus berlangsung di Kabupaten Jayawijaya.

  “Kita targetkan pada tahun 2020 sebenarnya menurun dari tahun 2019. Kita target itu 36,22 persen presentase penduduk miskinnya, tetapi dengan adanya wabah ini kita prediksi naik di angka 38 sampai 40,48 persen penduduk miskin akan bertambah,”ungkapnya Rabu (1/7) kemarin

   Ia mengatakan imbas corona di Jayawijaya mempengaruhi berbagai sektor yaitu pendidikan, perdagangan dan transportasi serta pertanian yang menjadi leading sektor masyarakat. Sebelumnya Bappeda Jayawijaya memprediksi tingkat pengangguran terbuka tahun 2020 adalah di bawah rata-rata yaitu 0,57 persen, namun kini banyak pengangguran setelah sejumlah sektor usaha merumahkan karyawannya.

Baca Juga :  HUT Kabupaten Waropen dan Hardiknas Digelar di Tiga Distrik

  “Kita prediksi tingkat pengangguran terbuka akan melonjak kurang lebih 2,57 persen, artinya meningkat dari prediksi kita hanya 0,57 persen,”jelas Petrus Mahuze.

   Dengan melambatnya peredaran uang sejak beberapa bulan terakhir, Kata Kepala Bappeda Jayawijaya diprediksi pertumbuhan ekonomi Jayawijaya minus. Artinya ada beberapa sektor yang tidak berjalan yang mempengaruhi perekonomian masyarakat.

  “Awalnya kita prediksi sekitar Juni kita sudah ada di angka tiga koma sekian dari target pertumbuhan ekonomi kita 2020 itu 8,1 persen. Tetapi kita prediksi sampai dengan Juni kita berada pada angka 2,18 persen karena kalau dilihat, Provinsi Papua sampai triwulan satu, itu baru di angka 1,8 persen,”katanya

Baca Juga :  Usulan Pencairan Dana Desa Diminta Segera Diajukan

  Inflasi yang diprediksi naik cukup tinggi di Jayawijaya dan daerah pegunungan tengah Papua pada umumnya, namun yang dikhawatirkan berdampak terhadap pendapatan per kapita masyarakat, atau pendapatan masyarakat yang menurun saat ini.

  “Kita tahu sendiri bahwa selama ini pendapatan per kapita masyarakat itu berada di angka Rp 4 juta per orang, per keluarga, kita prediksi nanti berada di bawah itu, mungkin di bawah satu koma sekian juta per orang karena aktivitas yang terbatas,” beber Petrus.

  Bappeda mengharapkan dengan kebijakan hidup baru oleh pemerintah pusat. Selain memprioritaskan penanganan kesehatan tetapi juga membuka kegiatan perekonomian namun terbatas hingga bisa kembali menopang pendapatan masyarakat yang kian telah menurun 3 sejak pandemi Covid -19 mulai masuk ke Wamena. (jo/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/