MERAUKE – Modus penyelundupan satwa liar jenis paruh bengkok dari Papua mulai berubah. Jika sebelumnya satwa dibawa dalam kondisi hidup, kini pelaku menggunakan telur yang dikumpulkan dari alam untuk diselundupkan keluar Papua.
Kepala Karantina Papua Selatan, Irsan, mengungkapkan, petugas sebelumnya berhasil menggagalkan pengiriman sebanyak 115 butir telur paruh bengkok yang dibawa oleh seorang penumpang dengan tujuan Surabaya.
“Kalau dulu mereka membawa hewan hidup, sekarang penyelundupannya melalui telur. Ini modus baru yang menjadi kewaspadaan kita,” kata Irsan menjawab pertanyaan media ini, di Merauke, Rabu (7/10).
Menurutnya, perubahan modus tersebut menjadi perhatian petugas karena paruh bengkok merupakan satwa yang tidak diperbolehkan untuk dibawa keluar dari wilayah Papua.
Dikatakan, dari 115 butir telur yang berhasil diamankan, sebanyak 35 butir telah berhasil menetas. Seluruh anakan yang telah menetas tersebut hingga kini masih hidup dan mendapatkan perawatan dari petugas.
“Yang sudah menetas itu hidup. Jadi kami juga berusaha menjaga atau merawat yang sudah menetas ini dan nanti pada saatnya akan kami lepasliarkan,” jelasnya.
Sementara itu, telur yang belum menetas masih dalam pengawasan petugas. Pasalnya, masih terdapat sejumlah telur yang dinilai memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menetas.
Petugas akan terus melakukan pemantauan hingga telur tersebut benar-benar tidak dapat menetas. Apabila ditemukan telur yang busuk, mati atau tidak berkembang, kondisi tersebut akan dicatat dan dibuatkan berita acara.
“Masih ada beberapa yang memang masih ada kemungkinan untuk berkembang. Jadi kita tunggu sampai menetas sampai benar-benar telur itu memang benar-benar tidak bisa menetas,” ujarnya.