alexametrics
31.7 C
Jayapura
Monday, May 16, 2022

Gunakan Bahan Pengawet Berbahaya, Harus Diuji

MERAUKE- Di bulan Ramadan saat ini, banyak takjil yang dijajakan sebagai pembuka puasa. Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya bahan pengawet yang berbahaya tersebut, maka pengawasan sangat diperlukan. 

Kepala Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan Merauke, Tinje Merimon menjelaskan, untuk mengetahui adanya bahan pengawet atau pewarna berbahaya yang digunakan tidak bisa ditentukan secara kasat mata, tapi harus diuji.

‘’Untuk menentukan apakah suatu makanan menggunakan pegawet atau pewarna yang berbahaya, tidak bisa dilakukan secara kasat mata, tapi harus lewat pengujian. Tanpa itu tidak bisa,’’ kata Tince Merimon saat dihubungi  lewat telpon selulernya  yang saat ini sedang berada di Jayapura, Rabu (6/4).

Baca Juga :  Polsek-Satpol PP Amankan Lima Pembuat Sopi

   Dikatakan, pihaknya sudah mulai melakukan pengawasan dimana untuk setiap minggunya, pihaknya menjadwalkan satu kali turun lapangan untuk mengambil sampel takjil yang sedang dijual para pedagang yang kebanyakan dadakan  tersebut.

Dikatakan, untuk  pewarna biasanyanya menggunakan pewarna kain dan itu berbahaya bagi kesehatan karena merupakan sat kimia. Kemudian untuk pangan daging dan ikan biasanya menggunakan formalin. Sedangkan untuk bakso mie menggunakan borax.

‘’Sudah ada jenis pangan dengan indikasi bahan tambahan yang dilarang. Sekali lagi, kalau secara kasat mata tidak bisa ditentukan tapi harus tetap diuji,’’   terangnya.

Selama ini, tambah dia, belum ditemukan adanya penggunaan bahan berbahaya  tersebut dalam pembuatan  takjil. Namun begitu, pihaknya harus tetap mewaspadai dengan melakukan pemeriksaan melalui uji lapangan takjil-takjil tersebut. (ulo/tho)   

Baca Juga :  Warga Binaan Lapas Tewas Dianiaya

MERAUKE- Di bulan Ramadan saat ini, banyak takjil yang dijajakan sebagai pembuka puasa. Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya bahan pengawet yang berbahaya tersebut, maka pengawasan sangat diperlukan. 

Kepala Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan Merauke, Tinje Merimon menjelaskan, untuk mengetahui adanya bahan pengawet atau pewarna berbahaya yang digunakan tidak bisa ditentukan secara kasat mata, tapi harus diuji.

‘’Untuk menentukan apakah suatu makanan menggunakan pegawet atau pewarna yang berbahaya, tidak bisa dilakukan secara kasat mata, tapi harus lewat pengujian. Tanpa itu tidak bisa,’’ kata Tince Merimon saat dihubungi  lewat telpon selulernya  yang saat ini sedang berada di Jayapura, Rabu (6/4).

Baca Juga :  Dua Penumpang Speed Boat dari Asmat Tujuan Timika Hilang Kontak 

   Dikatakan, pihaknya sudah mulai melakukan pengawasan dimana untuk setiap minggunya, pihaknya menjadwalkan satu kali turun lapangan untuk mengambil sampel takjil yang sedang dijual para pedagang yang kebanyakan dadakan  tersebut.

Dikatakan, untuk  pewarna biasanyanya menggunakan pewarna kain dan itu berbahaya bagi kesehatan karena merupakan sat kimia. Kemudian untuk pangan daging dan ikan biasanya menggunakan formalin. Sedangkan untuk bakso mie menggunakan borax.

‘’Sudah ada jenis pangan dengan indikasi bahan tambahan yang dilarang. Sekali lagi, kalau secara kasat mata tidak bisa ditentukan tapi harus tetap diuji,’’   terangnya.

Selama ini, tambah dia, belum ditemukan adanya penggunaan bahan berbahaya  tersebut dalam pembuatan  takjil. Namun begitu, pihaknya harus tetap mewaspadai dengan melakukan pemeriksaan melalui uji lapangan takjil-takjil tersebut. (ulo/tho)   

Baca Juga :  Jalan Perkampungan OAP Urum-Kumbe Rusak Berat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/