Masyarakat Diminta Menjauhi Bahan Peledak Sisa Perang Dunia II

BIAK-Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra, SH.,MM kembali mengingatkan masyarakat supaya waspada terhadap bahaya bahan peledak sisa Perang Dunia II seperti mortir atau bom. Tindakan seperti mengergaji atau mengerinda bahan peledak tersebut diminta untuk sekali-kali tidak terjadi lagi di masyarakat.
Kejadian ledakan yang memakan korban nyawa pada minggu lalu diharapkan tidak terulang lagi di masyarakat. Kegiatan – kegiatan berbahaya dengan merakit bahan peledak dengan pengboman ikan dan kegiatan lainnya yang dinilai membahayakan nyawa diminta agar tidak dilakukan lagi.

“Saat ini kita tidak bisa saling menyalahkan, tapi mari kita ambil hikmanya atas kejadian ini, jauhi penggunaan bahan peledak termasuk peninggalan bom dan mortar peninggalan perang dunia II ini,” imbuhnya.

Baca Juga :  UNICEF Verifikasi Bantuan Makanan untuk 2500 Siswa dari Pemerintah Jepang

Di Kabupaten Biak Numfor bahan peledak berupa motir dan bom peninggalan perang dunia II masih sering ditemui mayarakat. Bahan peledak ini masih dijumpai di laut atau dasar laut, di bagian kepulauan seperti Pulau Undi dan bebarap lokasi lainnya di Biak Numfor. Serbuk dari motir atau roket ini diambil oleh warga untuk dijadikan bahan peledak (dopis) pemboman ikan dan rangkanya (besi/tembaga) dijual per kilo gram.

Diakui Bupati, bahwa peristiwa ledakan yang terjadi pekan lalu juga tidak terlepas dari upaya menghidupi keluarga, namun tindakan itu sangat berbahaya tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain sebagaimana insiden yang telah terjadi.

Baca Juga :  Kampung dan Kelurahan di Distrik Samofa Dicanangkan sebagai “Desa Cantik”

BIAK-Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra, SH.,MM kembali mengingatkan masyarakat supaya waspada terhadap bahaya bahan peledak sisa Perang Dunia II seperti mortir atau bom. Tindakan seperti mengergaji atau mengerinda bahan peledak tersebut diminta untuk sekali-kali tidak terjadi lagi di masyarakat.
Kejadian ledakan yang memakan korban nyawa pada minggu lalu diharapkan tidak terulang lagi di masyarakat. Kegiatan – kegiatan berbahaya dengan merakit bahan peledak dengan pengboman ikan dan kegiatan lainnya yang dinilai membahayakan nyawa diminta agar tidak dilakukan lagi.

“Saat ini kita tidak bisa saling menyalahkan, tapi mari kita ambil hikmanya atas kejadian ini, jauhi penggunaan bahan peledak termasuk peninggalan bom dan mortar peninggalan perang dunia II ini,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dana Desa Harus Dikelola Transparan dan Tepat Sasaran untuk Kesejahteraan

Di Kabupaten Biak Numfor bahan peledak berupa motir dan bom peninggalan perang dunia II masih sering ditemui mayarakat. Bahan peledak ini masih dijumpai di laut atau dasar laut, di bagian kepulauan seperti Pulau Undi dan bebarap lokasi lainnya di Biak Numfor. Serbuk dari motir atau roket ini diambil oleh warga untuk dijadikan bahan peledak (dopis) pemboman ikan dan rangkanya (besi/tembaga) dijual per kilo gram.

Diakui Bupati, bahwa peristiwa ledakan yang terjadi pekan lalu juga tidak terlepas dari upaya menghidupi keluarga, namun tindakan itu sangat berbahaya tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain sebagaimana insiden yang telah terjadi.

Baca Juga :  DPT Biak Numfor Ditetapkan 100.874 Pemilih

Berita Terbaru

Artikel Lainnya