MBG Tak Dipaksakan, Sekolah di Yahukimo Tetap Gratis

Namun, Akso berharap aksi tersebut tidak ditunggangi pihak tertentu untuk kepentingan di luar persoalan pendidikan. Ia mengingatkan agar pelajar tidak dijadikan pihak yang terlibat dalam kepentingan lain karena tugas utama mereka adalah belajar.

Pemkab juga menghargai keputusan orang tua yang menerima maupun menolak program tersebut. “Yang menerima manfaat MBG silakan, namun bagi yang orang tuanya tidak setuju walaupun itu satu sekolah, maka kami tidak paksakan,” katanya.

Menurut Akso, sekolah yang seluruh siswanya tidak mendapatkan MBG juga tidak dipermasalahkan. Begitu pula jika hanya terdapat satu atau dua siswa yang orang tuanya menolak, siswa tersebut tidak akan dipaksa menerima makanan MBG.

Baca Juga :  Komnas HAM Beri Catatan Kepada para Forkopimda

“Jadi di Yahukimo tidak ada paksaan untuk program MBG harus dilaksanakan di satuan pendidikan semuanya. Kita hargai hak mereka untuk menolak,” tegasnya.

Saat ini, pelaksanaan MBG di sekitar ibu kota Kabupaten Yahukimo masih berjalan dengan cakupan sekitar 20 hingga 30 persen.

Akso mengatakan aspirasi terkait MBG yang disampaikan dalam aksi pelajar telah diteruskan kepada Bupati Yahukimo dan selanjutnya akan disampaikan ke pemerintah pusat. Ia meminta perbedaan sikap mengenai MBG tidak berkembang menjadi tindakan yang memaksakan kehendak kepada pihak lain.

“Kalau tidak mau secara pribadi, jangan disentralisasikan memaksa orang lain juga untuk tidak boleh makan atau memaksa kehendak orang lain. Itu juga salah, melanggar HAM,” pungkasnya. (fia/wen)

Baca Juga :  Program Pendidikan Gratis Dinilai Strategis Bangun SDM Papua Tengah

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Namun, Akso berharap aksi tersebut tidak ditunggangi pihak tertentu untuk kepentingan di luar persoalan pendidikan. Ia mengingatkan agar pelajar tidak dijadikan pihak yang terlibat dalam kepentingan lain karena tugas utama mereka adalah belajar.

Pemkab juga menghargai keputusan orang tua yang menerima maupun menolak program tersebut. “Yang menerima manfaat MBG silakan, namun bagi yang orang tuanya tidak setuju walaupun itu satu sekolah, maka kami tidak paksakan,” katanya.

Menurut Akso, sekolah yang seluruh siswanya tidak mendapatkan MBG juga tidak dipermasalahkan. Begitu pula jika hanya terdapat satu atau dua siswa yang orang tuanya menolak, siswa tersebut tidak akan dipaksa menerima makanan MBG.

Baca Juga :  Program Pendidikan Gratis Dinilai Strategis Bangun SDM Papua Tengah

“Jadi di Yahukimo tidak ada paksaan untuk program MBG harus dilaksanakan di satuan pendidikan semuanya. Kita hargai hak mereka untuk menolak,” tegasnya.

Saat ini, pelaksanaan MBG di sekitar ibu kota Kabupaten Yahukimo masih berjalan dengan cakupan sekitar 20 hingga 30 persen.

Akso mengatakan aspirasi terkait MBG yang disampaikan dalam aksi pelajar telah diteruskan kepada Bupati Yahukimo dan selanjutnya akan disampaikan ke pemerintah pusat. Ia meminta perbedaan sikap mengenai MBG tidak berkembang menjadi tindakan yang memaksakan kehendak kepada pihak lain.

“Kalau tidak mau secara pribadi, jangan disentralisasikan memaksa orang lain juga untuk tidak boleh makan atau memaksa kehendak orang lain. Itu juga salah, melanggar HAM,” pungkasnya. (fia/wen)

Baca Juga :  Disdik Awasi Pelaksanaan Ujian Kompetensi Sekolah

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya