Saturday, August 30, 2025
21.3 C
Jayapura

Dibalur Gunakan Lemak Babi, Arah Asap Menceritakan Kelakuan Saat Masih Hidup

Menyimak Prosesi Warekma, Pembakaran Jenazah Ala Suku Hubula yang Dikenal Sakral (Bagian 2-Habis)

Pembakaran jenazah ala Suku Hubula tidak hanya menggambarkan proses perginya anggota keluarga ke dunia lain tetapi bisa juga menitipkan pesan soal rekam jejak selama hidup. Ini ceritanya.

Laporan: Abdel Gamel Naser_Jayapura

Werakma memang menjelaskan soal proses pembakaran jenazah. Namun siapa sangka ada banyak cerita menarik yang bisa diikuti dalam proses ini. Werakma ternyata tak sekedar membakar jenazah melainkan ada nilai sosial, kekerabatan, mitos hingga kepercayaan yang diyakini hingga kini.

Jika sesi pertama lebih banyak menceritakan tentang kisah Miki yang pernah kedukaan hingga harus memotong telinganya, pada edisi terakhir ini menjelaskan tentang proses dan pesan apa saja dari tahapan Warekma. Miki menjelaskan bahwa jenazah sebelum dibakar ternyata ada proses untuk dimandikan.

Baca Juga :  Tiga Hari Turkam Jadi Penentu Arah Perkembangan Kampung Nafri

Hanya saja tidak lagi menggunakan air melainkan minyak babi. Awalnya jenazah diletakkan di atas daun pisang kemudian secara perlahan dilumuri minyak babi.

“Untuk proses ini orang yang memandikan atau melumuri dengan minyak babi juga bukan orang sembarang tapi saya tidak kan sebut disini,” jawab Miki.

Ia nampaknya masih menjaga keistimewaan dari para pihak dimana tidak semua bisa diungkap secara terbuka di media karena menyangkut tradisi yang memang dirahasiakan. Lalu ternyata ada pebedaan dari jumlah kayu untuk jenazah anak-anak maupun orang dewasa. Untuk anak kecil biasa hanya 12 belahan kayu. Untuk usia remaja 18-20 kayu dan orang dewasa sebanyak 29-32 potongan kayu namun terkadang tergantung besar tubuhnya.

Baca Juga :  Ada Ritual Adat, Massa Minta Pj Walikota Mundur

Menyimak Prosesi Warekma, Pembakaran Jenazah Ala Suku Hubula yang Dikenal Sakral (Bagian 2-Habis)

Pembakaran jenazah ala Suku Hubula tidak hanya menggambarkan proses perginya anggota keluarga ke dunia lain tetapi bisa juga menitipkan pesan soal rekam jejak selama hidup. Ini ceritanya.

Laporan: Abdel Gamel Naser_Jayapura

Werakma memang menjelaskan soal proses pembakaran jenazah. Namun siapa sangka ada banyak cerita menarik yang bisa diikuti dalam proses ini. Werakma ternyata tak sekedar membakar jenazah melainkan ada nilai sosial, kekerabatan, mitos hingga kepercayaan yang diyakini hingga kini.

Jika sesi pertama lebih banyak menceritakan tentang kisah Miki yang pernah kedukaan hingga harus memotong telinganya, pada edisi terakhir ini menjelaskan tentang proses dan pesan apa saja dari tahapan Warekma. Miki menjelaskan bahwa jenazah sebelum dibakar ternyata ada proses untuk dimandikan.

Baca Juga :  Tiga Hari Turkam Jadi Penentu Arah Perkembangan Kampung Nafri

Hanya saja tidak lagi menggunakan air melainkan minyak babi. Awalnya jenazah diletakkan di atas daun pisang kemudian secara perlahan dilumuri minyak babi.

“Untuk proses ini orang yang memandikan atau melumuri dengan minyak babi juga bukan orang sembarang tapi saya tidak kan sebut disini,” jawab Miki.

Ia nampaknya masih menjaga keistimewaan dari para pihak dimana tidak semua bisa diungkap secara terbuka di media karena menyangkut tradisi yang memang dirahasiakan. Lalu ternyata ada pebedaan dari jumlah kayu untuk jenazah anak-anak maupun orang dewasa. Untuk anak kecil biasa hanya 12 belahan kayu. Untuk usia remaja 18-20 kayu dan orang dewasa sebanyak 29-32 potongan kayu namun terkadang tergantung besar tubuhnya.

Baca Juga :  Kunjungi Papua, Menteri Hadi Serahkan Sertipikat Tanah Ulayat Suku Sawoi Hnya

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/