Berawal dari Melihat Ortu Siswa Habiskan Waktu dengan Ngobrol

Sebelumnya, produk mereka juga pernah dikirim ke sejumlah negara seperti Turki dan Jerman.”Untuk ekspor memang tidak selalu rutin karena menyesuaikan PO. Karena itu, kami juga tetap mengerjakan pesanan lokal agar para penjahit tetap memiliki pekerjaan,” jelasnya. Selain produk ekspor, Tulip House juga menerima berbagai pekerjaan maklon. Mulai pakaian, mukena, jaket, sprei, sarung bantal hingga berbagai produk lainnya.

Kini, sekitar 30–35 orang bekerja secara internal. Sementara penjahit eksternal yang mayoritas ibu rumah tangga mencapai sekitar 50 orang. Mereka bekerja dari rumah dan mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing. Di balik perkembangan usaha tersebut, Mamik menyimpan cita-cita besar. Dia ingin para karyawan Tulip House bisa merasakan hasil dari perjalanan panjang usaha yang dibangun bersama.

Baca Juga :  Jokowi Dorong Bisa Diterapkan di Kota Lain seperti Surabaya dan Bandung

“Insya Allah, kami ingin memberangkatkan empat karyawan untuk umrah,” tuturnya. Mamik menyadari, perjalanan Tulip House hingga berada di titik ini tidak lepas dari peran anak-anaknya yang kini melanjutkan usaha tersebut. Perusahaan yang dulu dirintisnya dengan keterbatasan kini tumbuh lebih cepat dan menjangkau pasar yang lebih luas. Dia berharap para penjahit yang selama ini bekerja secara mandiri juga bisa berkembang menjadi kelompok-kelompok usaha baru. Dengan bahan dan pekerjaan dari Tulip House, mereka dapat mengerjakan pesanan dari rumah dan membangun kelompok kerja sendiri. (*/c1/rka)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Sedikitnya ada 8 Titik Jadi 'Tempat' Pembuangan Sampah dan Sisa Material

Sebelumnya, produk mereka juga pernah dikirim ke sejumlah negara seperti Turki dan Jerman.”Untuk ekspor memang tidak selalu rutin karena menyesuaikan PO. Karena itu, kami juga tetap mengerjakan pesanan lokal agar para penjahit tetap memiliki pekerjaan,” jelasnya. Selain produk ekspor, Tulip House juga menerima berbagai pekerjaan maklon. Mulai pakaian, mukena, jaket, sprei, sarung bantal hingga berbagai produk lainnya.

Kini, sekitar 30–35 orang bekerja secara internal. Sementara penjahit eksternal yang mayoritas ibu rumah tangga mencapai sekitar 50 orang. Mereka bekerja dari rumah dan mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing. Di balik perkembangan usaha tersebut, Mamik menyimpan cita-cita besar. Dia ingin para karyawan Tulip House bisa merasakan hasil dari perjalanan panjang usaha yang dibangun bersama.

Baca Juga :  Bangun Jamban Sehat di Setiap Kampung Dan Program Rumah Singgah Bagi Bumil

“Insya Allah, kami ingin memberangkatkan empat karyawan untuk umrah,” tuturnya. Mamik menyadari, perjalanan Tulip House hingga berada di titik ini tidak lepas dari peran anak-anaknya yang kini melanjutkan usaha tersebut. Perusahaan yang dulu dirintisnya dengan keterbatasan kini tumbuh lebih cepat dan menjangkau pasar yang lebih luas. Dia berharap para penjahit yang selama ini bekerja secara mandiri juga bisa berkembang menjadi kelompok-kelompok usaha baru. Dengan bahan dan pekerjaan dari Tulip House, mereka dapat mengerjakan pesanan dari rumah dan membangun kelompok kerja sendiri. (*/c1/rka)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Biak Numfor Raih Penghargaan Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah 2025

Berita Terbaru

Artikel Lainnya