Pemeliharaan dan normalisasi drainase terus dilakukan, disertai operasional pompa dan pintu air untuk mengendalikan debit. Gotong royong bulanan di enam kecamatan digencarkan—sebuah upaya membangun kesadaran kolektif agar parit tak berubah menjadi tempat sampah. “Ini bagian dari langkah jangka pendek dan menengah. Infrastruktur harus berjalan seiring dengan partisipasi warga,” kata Eko.
Namun ketangguhan tak hanya dibangun dengan beton dan baja. Pemerintah kota juga memperkuat pendekatan infrastruktur hijau: memperluas ruang terbuka hijau, merestorasi lahan basah dan gambut, serta merancang kawasan multifungsi yang mampu menampung air saat hujan besar.Dalam pendekatan ini, air tidak lagi dipandang sebagai musuh yang harus disingkirkan secepat mungkin ke laut, melainkan elemen alam yang diberi ruang untuk singgah dan diserap. Mengembalikan ruang bagi alam, bagi Pontianak, adalah investasi jangka panjang.
Upaya tersebut disusun secara kolaboratif. Pemerintah menggandeng akademisi, lembaga riset, komunitas, dan sektor swasta dalam merumuskan strategi adaptasi iklim. Rencana Aksi Iklim telah disusun, dan isu keberlanjutan dimasukkan dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang daerah.
Program 100 hari kerja wali kota dan wakil wali kota pun memprioritaskan normalisasi saluran serta penguatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bagi Eko, ketangguhan kota tidak semata diukur dari besarnya proyek infrastruktur. “Air adalah identitas Pontianak. Kita harus memastikan generasi mendatang tetap bisa hidup aman dan selaras dengan air,” ujarnya.
Di kota yang tumbuh di antara dua sungai besar, masa depan tak ditentukan oleh seberapa tinggi tanggul dibangun, melainkan oleh seberapa erat kolaborasi dijaga. Pontianak sedang belajar, bahwa untuk bertahan, ia tak perlu melawan air, melainkan berjalan bersamanya.(*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q