Sunday, March 1, 2026
27.4 C
Jayapura

Dari Bangun Subuh hingga Malam Diisi dengan Berbagai Kegiatan

Melihat Aktifitas Para Santri di Pondok Pesnatren Yaa Bunayya di Bulan Ramadan

Bulan suci memiliki keistimewaan tersendiri bagi para santri di balik dinding-dinding pondok pesantren. Nuansa spiritual yang kental berpadu dengan tradisi-tradisi unik menciptakan pengalaman Ramadan yang tak terlupakan.

Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura

Bulan Ramadhan telah tiba. Para santri di pondok pesantren Yaa Bunayya Yoka, Waena Distrik Heram selalu mengisi bulan ini dengan berbagai macam kegiatan. Meski Ramadan ini ada waktu libur bagi para santri, namun berbagai macam kegiatan justru diadakan selama bulan suci ini.

Mulai dari pagi, kegiatan sahur bersama menjadi momen yang dinantikan para santri. Mereka bangun serentak saat terdengar suara bedug atau pengeras suara. Dalam keremangan fajar, para santri berbaris rapi menuju dapur umum pesantren.

Suasana sahur di pesantren penuh kebersamaan. Para santri saling berbagi makanan dan mengajak temannya yang masih mengantuk. Mereka makan dengan khidmat sambil mendengarkan tausiyah singkat dari ustadz.

Baca Juga :  Biasanya, Bulan Begini Ini Kami Megang Banyak Lembaran Duit Abang
ahmad basudin
Ahmad Basudin (foto:Jimi/Cepos)

Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan dan kesederhanaan. Santri belajar untuk tidak berlebihan dalam makan dan menghargai rezeki yang ada. Mereka juga dilatih untuk disiplin bangun pagi dan memulai hari dengan ibadah.

Tadarus Al-Qur’an menjadi rutinitas wajib santri selama Ramadan. Setelah salat Subuh, mereka berkumpul di masjid pesantren. Suara lantunan ayat suci memenuhi udara pagi yang sejuk.

Para santri duduk melingkar, membaca Al-Quran secara bergantian. Mereka saling menyimak dan membenarkan jika ada kesalahan bacaan. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu Dhuha tiba.

Tradisi tadarus mengajarkan santri untuk mencintai Al-Quran. Mereka belajar membaca dengan tartil dan memahami maknanya. Kegiatan ini juga melatih konsentrasi dan kesabaran santri dalam beribadah.

Ahmad Basudin, Kepala Pondok Pesantren Ya Bunaya mengungkapkan selama bulan suci Ramadhan aktivitas para santri jauh berbeda dengan hari-hari biasa sebelumnya. Di bulan suci ini para santri penuh dengan berbagai kegiatan, dimana mereka diwajibkan membaca sejumlah kitab suci salah satunya adalah kitab kuning.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke-61, DPD Golkar Kota Jayapura Bagikan Ribuan Paket Sembako

Sementara itu ketika ngabuburit tiba, para santri di pesantren memiliki nuansa berbeda. Tidak ada jalan-jalan atau nongkrong di cafe. Para santri memanfaatkan waktu menjelang berbuka dengan kegiatan bermanfaat.

“Sebagian santri memilih untuk mengaji kitab kuning. Yang lain berlatih pidato atau diskusi ilmiah. Ada pula yang membantu memasak untuk buka puasa bersama. Suasana pesantren tetap hidup namun tetap dalam koridor ibadah,” kata Ahmad Basudin.

Tradisi ini, kata kepala pondok itu mengajarkan santri untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka belajar bahwa menunggu berbuka bisa diisi dengan kegiatan produktif. Hal ini menanamkan nilai disiplin dan cinta ilmu pada diri santri.

Buka puasa bersama menjadi moment yang nantikan para santri di pesantren. Para santri berkumpul di halaman atau aula. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran besar. Di tengah, tersaji berbagai hidangan sederhana namun penuh berkah.

Melihat Aktifitas Para Santri di Pondok Pesnatren Yaa Bunayya di Bulan Ramadan

Bulan suci memiliki keistimewaan tersendiri bagi para santri di balik dinding-dinding pondok pesantren. Nuansa spiritual yang kental berpadu dengan tradisi-tradisi unik menciptakan pengalaman Ramadan yang tak terlupakan.

Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura

Bulan Ramadhan telah tiba. Para santri di pondok pesantren Yaa Bunayya Yoka, Waena Distrik Heram selalu mengisi bulan ini dengan berbagai macam kegiatan. Meski Ramadan ini ada waktu libur bagi para santri, namun berbagai macam kegiatan justru diadakan selama bulan suci ini.

Mulai dari pagi, kegiatan sahur bersama menjadi momen yang dinantikan para santri. Mereka bangun serentak saat terdengar suara bedug atau pengeras suara. Dalam keremangan fajar, para santri berbaris rapi menuju dapur umum pesantren.

Suasana sahur di pesantren penuh kebersamaan. Para santri saling berbagi makanan dan mengajak temannya yang masih mengantuk. Mereka makan dengan khidmat sambil mendengarkan tausiyah singkat dari ustadz.

Baca Juga :  Pisang Kupasan sang Kiai dan Kapal yang Sampai Ditunda Jadwalnya
ahmad basudin
Ahmad Basudin (foto:Jimi/Cepos)

Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan dan kesederhanaan. Santri belajar untuk tidak berlebihan dalam makan dan menghargai rezeki yang ada. Mereka juga dilatih untuk disiplin bangun pagi dan memulai hari dengan ibadah.

Tadarus Al-Qur’an menjadi rutinitas wajib santri selama Ramadan. Setelah salat Subuh, mereka berkumpul di masjid pesantren. Suara lantunan ayat suci memenuhi udara pagi yang sejuk.

Para santri duduk melingkar, membaca Al-Quran secara bergantian. Mereka saling menyimak dan membenarkan jika ada kesalahan bacaan. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu Dhuha tiba.

Tradisi tadarus mengajarkan santri untuk mencintai Al-Quran. Mereka belajar membaca dengan tartil dan memahami maknanya. Kegiatan ini juga melatih konsentrasi dan kesabaran santri dalam beribadah.

Ahmad Basudin, Kepala Pondok Pesantren Ya Bunaya mengungkapkan selama bulan suci Ramadhan aktivitas para santri jauh berbeda dengan hari-hari biasa sebelumnya. Di bulan suci ini para santri penuh dengan berbagai kegiatan, dimana mereka diwajibkan membaca sejumlah kitab suci salah satunya adalah kitab kuning.

Baca Juga :  Sagita Furniture AGM & Cellini Entrop Hadirkan Promo Menarik, "BUY 2 GET 4 "

Sementara itu ketika ngabuburit tiba, para santri di pesantren memiliki nuansa berbeda. Tidak ada jalan-jalan atau nongkrong di cafe. Para santri memanfaatkan waktu menjelang berbuka dengan kegiatan bermanfaat.

“Sebagian santri memilih untuk mengaji kitab kuning. Yang lain berlatih pidato atau diskusi ilmiah. Ada pula yang membantu memasak untuk buka puasa bersama. Suasana pesantren tetap hidup namun tetap dalam koridor ibadah,” kata Ahmad Basudin.

Tradisi ini, kata kepala pondok itu mengajarkan santri untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka belajar bahwa menunggu berbuka bisa diisi dengan kegiatan produktif. Hal ini menanamkan nilai disiplin dan cinta ilmu pada diri santri.

Buka puasa bersama menjadi moment yang nantikan para santri di pesantren. Para santri berkumpul di halaman atau aula. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran besar. Di tengah, tersaji berbagai hidangan sederhana namun penuh berkah.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya