Bercocok Tanam dan Merangkai Potongan Kayu Diharapkan Jadi Bekal Dimasa Depan

Menata Ulang Hidup dengan Program Pembinaan Kepribadian

Di tengah dinginya Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura, membuktikan kepada warga binaannya bahwa penyesalan hanyalah babak awal dari cerita tentang perubahan, berikut laporannya.

Laporan :YOHANA_SENTANI

Dari kejauhan, bangunan megah bercat biru langit itu tampak dingin, dikelilingi tembok tinggi dan untaian kawat duri yang memagari. Inilah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jayapura di Doyo Baru, tempat 657 pria menjalani takdir yang terpisah dari dunia luar.

Namun, di balik jeruji besi, narasi tentang kegagalan masa lalu kini mulai ditulis ulang, bukan dengan tinta, melainkan dengan peralatan pertanian seperti sekop, ember, bibit-bit sayur serta peralatan mebel kayu seperti meter, potongan-potongan kayu, mesin pemotong dan sebagainya.

Baca Juga :  Stok dan Harga Barang Masih Terkendali, Harga Beras Diprediksi Naik

Di lahan sempit sekitar Lapas, yang seharusnya hanya ditumbuhi ilalang, terlihat beberapa bedeng berisi sayuran sawi dan kangkung cabut, mulai tertawa subur. Di sana, para warga binaan, dengan tangan yang pernah terjerat, kini merawat tanaman sawi dan kangkung cabut, pertanda ada kehidupan baru yang harus ditata ulang.

“Setiap hari mereka belajar bercocok tanam, khususnya bagi penghuni lapas yang gemar berkebun. Ini bukan sekadar mengisi waktu, tapi menanamkan disiplin dan harapan,” ujar Sumaji, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura.

Ia menjelaskan bahwa dua program utama, yaitu rehabilitasi dan kemandirian, menjadi fokus utama pembinaan. Prinsip kemandirian yang sama juga diterapkan di bengkel mebel Lapas.

Baca Juga :  Di Sentani 64 Orang Sempat Diamankan

Menata Ulang Hidup dengan Program Pembinaan Kepribadian

Di tengah dinginya Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura, membuktikan kepada warga binaannya bahwa penyesalan hanyalah babak awal dari cerita tentang perubahan, berikut laporannya.

Laporan :YOHANA_SENTANI

Dari kejauhan, bangunan megah bercat biru langit itu tampak dingin, dikelilingi tembok tinggi dan untaian kawat duri yang memagari. Inilah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jayapura di Doyo Baru, tempat 657 pria menjalani takdir yang terpisah dari dunia luar.

Namun, di balik jeruji besi, narasi tentang kegagalan masa lalu kini mulai ditulis ulang, bukan dengan tinta, melainkan dengan peralatan pertanian seperti sekop, ember, bibit-bit sayur serta peralatan mebel kayu seperti meter, potongan-potongan kayu, mesin pemotong dan sebagainya.

Baca Juga :  Teruna Bakti Langsung Kembalikan, SMPN 5 Miliki Guru yang Mampu Mendeteksi

Di lahan sempit sekitar Lapas, yang seharusnya hanya ditumbuhi ilalang, terlihat beberapa bedeng berisi sayuran sawi dan kangkung cabut, mulai tertawa subur. Di sana, para warga binaan, dengan tangan yang pernah terjerat, kini merawat tanaman sawi dan kangkung cabut, pertanda ada kehidupan baru yang harus ditata ulang.

“Setiap hari mereka belajar bercocok tanam, khususnya bagi penghuni lapas yang gemar berkebun. Ini bukan sekadar mengisi waktu, tapi menanamkan disiplin dan harapan,” ujar Sumaji, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura.

Ia menjelaskan bahwa dua program utama, yaitu rehabilitasi dan kemandirian, menjadi fokus utama pembinaan. Prinsip kemandirian yang sama juga diterapkan di bengkel mebel Lapas.

Baca Juga :  Buka Hanya 4 Jam Sehari, Harus Bertahan Meski Pengunjung Sepi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya