Saturday, March 21, 2026
26.9 C
Jayapura

Sampah Dimana-mana, Warga Ngaku Pasrah dan Nyaman karena Terbiasa

  Pada awal Juli 2024 lalu, Dinas Pariwisata kembali mengangkat potensi wisata di Kampung Nelayan ini dengan menggelar event Festival Kampung Nelayan (FKN). Berbagai atraksi, agenda seni budaya digelar pada event ini. FKN ini pun banyak menarik pengunjung dari Kota Jayapura maupun dari luar.

   Hanya saja, ketika event itu berakhir, Kampung Nelayan kembali seperti kehidupan semula. Tak banyak lagi yang datang.  Memang untuk datang ke sana tidak seperti daerah wisata pantai pada umumnya yang memiliki pondok atau tempat berteduh dari hujan maupun panas bagi warga yang berkunjung. Tapi setidaknya hal itu sebenarnya bukan kendala utama karena masyarakat yang mendiami sekitar kawasan itu cukup ramah kepada setiap pengunjung.

Baca Juga :  Bupati Dominggus: Semarak HUT RI Harus Sampai ke Kampung

   Namun yang menjadi keenganan untuk berkunjunga adalah banyaknya sampah di kawasan itu. Uniknya, meski sampah-sampah ini terhampar di pesisir pantai,  bahkan sangat dekat dengan tempat tinggal warga, tapi warga seolah-olah terbiasa dan mengaku sangat pasrah dengan kondisi itu. Meski di satu sisi keberadaan sampah-sampah itu sebenarnya sangat mengganggu, terutama dari kesehatan udaranya.

   Karena pada titik-titik tertentu ada beberapa tempat yang memiliki tumpukan sampah yang sangat banyak dan itu menyebabkan bau yang sangat menyengat, bahkan warna airnya menjadi hitam pekat.

   “Sebenarnya kami sering bersihkan sampah ini tetapi belakangan ini sudah tidak dilakukan karena percuma saja, kalau kita bersihkan sampahnya banyak lagi,”ungkap Artur, salah satu warga di kampung Nelayan, Selasa (21/10).

Baca Juga :  257 Kepala dan Bendahara Kampung di Biak Dibekali Sejumlah Materi

  Bisa saja warga pasrah, karena banyaknya sampah yang memang sulit diatasi, apalagi kawasan itu merupakan kawasan teluk kecil, sehingga mungkin saja pengaruh arus laut yang mengantarkan sampah-sampah plastik ke wilayah itu. “Sebenarnya sampah-sampah ini bukan dari kampung ini saja, ini banyak dari luar, karena di bawah gelombang laut sehingga tempat ini akhirnya seperti tempat sampah,” ujarnya miris. (*/tri).

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

  Pada awal Juli 2024 lalu, Dinas Pariwisata kembali mengangkat potensi wisata di Kampung Nelayan ini dengan menggelar event Festival Kampung Nelayan (FKN). Berbagai atraksi, agenda seni budaya digelar pada event ini. FKN ini pun banyak menarik pengunjung dari Kota Jayapura maupun dari luar.

   Hanya saja, ketika event itu berakhir, Kampung Nelayan kembali seperti kehidupan semula. Tak banyak lagi yang datang.  Memang untuk datang ke sana tidak seperti daerah wisata pantai pada umumnya yang memiliki pondok atau tempat berteduh dari hujan maupun panas bagi warga yang berkunjung. Tapi setidaknya hal itu sebenarnya bukan kendala utama karena masyarakat yang mendiami sekitar kawasan itu cukup ramah kepada setiap pengunjung.

Baca Juga :  Peminat Pakaian Cabor Masih Tinggi, Tak Hanya Dijual di Pasar Tapi Juga Online

   Namun yang menjadi keenganan untuk berkunjunga adalah banyaknya sampah di kawasan itu. Uniknya, meski sampah-sampah ini terhampar di pesisir pantai,  bahkan sangat dekat dengan tempat tinggal warga, tapi warga seolah-olah terbiasa dan mengaku sangat pasrah dengan kondisi itu. Meski di satu sisi keberadaan sampah-sampah itu sebenarnya sangat mengganggu, terutama dari kesehatan udaranya.

   Karena pada titik-titik tertentu ada beberapa tempat yang memiliki tumpukan sampah yang sangat banyak dan itu menyebabkan bau yang sangat menyengat, bahkan warna airnya menjadi hitam pekat.

   “Sebenarnya kami sering bersihkan sampah ini tetapi belakangan ini sudah tidak dilakukan karena percuma saja, kalau kita bersihkan sampahnya banyak lagi,”ungkap Artur, salah satu warga di kampung Nelayan, Selasa (21/10).

Baca Juga :  Ungkap Pengalaman Pribadi, Berharap Masyarakat Melek Proses Peradilan

  Bisa saja warga pasrah, karena banyaknya sampah yang memang sulit diatasi, apalagi kawasan itu merupakan kawasan teluk kecil, sehingga mungkin saja pengaruh arus laut yang mengantarkan sampah-sampah plastik ke wilayah itu. “Sebenarnya sampah-sampah ini bukan dari kampung ini saja, ini banyak dari luar, karena di bawah gelombang laut sehingga tempat ini akhirnya seperti tempat sampah,” ujarnya miris. (*/tri).

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya