Monday, February 9, 2026
28 C
Jayapura

Rela Kehilangan Masa Sekolah demi Harumkan Bangsa

Ia sering membaur dan berlatih bersama komunitas skateboardnya yang ada di Solo. Menariknya ia membeli sebuah papan skateboard bekas dengan harga Rp 5000 yang kemudian membuatnya berkonsentrasi penuh di olahraga ini. Jauh sebelum ia mendapat apresiasi dari pelatih Malaysia dan Thailand di Bangkok, Basral adalah bocah yang hanya bisa meniru gerakan YouTube di depan rumahnya di Klipan, Colomadu.

“Dulu papan pertama itu beli di pasar, murah sekali. Baru pas ulang tahun, Bapak beliin papan bekas tapi roda dan besinya baru,” kenang Basral mengenai masa-masa ia harus berbagi satu papan dengan sang kakak. Latihan kerasnya di jalanan Karanganyar sempat mengundang ejekan. Saat duduk di kelas 4 SD, sepatu Warrior hitam putihnya bolong-bolong akibat gesekan papan setiap hari.

Baca Juga :  Tak Ada Listrik, Koleksi Kurang Terawat hingga Pengalaman Mistis dari Pegawai

“Woi, sepatunya bolong!” kenang Basral menirukan ejekan teman-temannya. Namun, luka di hati itu ia ubah menjadi energi. Kini, emas di lehernya menjadi jawaban telak atas segala cemoohan masa lalu. Keberhasilan Basral adalah buah dari kasih sayang luar biasa sang ayah, Suranto, 55. Di masa kecil Basral, Suranto rela memboncengkan anaknya menempuh perjalanan Solo-Jogja seminggu sekali hanya untuk mencari skatepark yang layak. Mereka sering pulang menembus dini hari, dan Basral harus tetap masuk sekolah meski kelelahan.

Dukungan sang ayah bahkan melampaui urusan teknis. Saat pihak sekolah sempat mengancam tidak menaikkan kelas karena Basral memilih fokus Pelatnas SEA Games 2019, Suranto-lah yang pasang badan. “Waktu itu saya yang maju. Saya bela anak saya,” tegas Suranto. Basral pun kini menempuh pendidikan jalur Paket C demi mengejar karier profesionalnya.

Baca Juga :  Para Saksi Sebut  Objek Perkara Hasil Keringat Penggugat dan Almarhum Suaminya

Ia sering membaur dan berlatih bersama komunitas skateboardnya yang ada di Solo. Menariknya ia membeli sebuah papan skateboard bekas dengan harga Rp 5000 yang kemudian membuatnya berkonsentrasi penuh di olahraga ini. Jauh sebelum ia mendapat apresiasi dari pelatih Malaysia dan Thailand di Bangkok, Basral adalah bocah yang hanya bisa meniru gerakan YouTube di depan rumahnya di Klipan, Colomadu.

“Dulu papan pertama itu beli di pasar, murah sekali. Baru pas ulang tahun, Bapak beliin papan bekas tapi roda dan besinya baru,” kenang Basral mengenai masa-masa ia harus berbagi satu papan dengan sang kakak. Latihan kerasnya di jalanan Karanganyar sempat mengundang ejekan. Saat duduk di kelas 4 SD, sepatu Warrior hitam putihnya bolong-bolong akibat gesekan papan setiap hari.

Baca Juga :  Kenapa Gol Ferarri ke Gawang Uzbekistan Dianulir? Ternyata Begini Penjelasannya

“Woi, sepatunya bolong!” kenang Basral menirukan ejekan teman-temannya. Namun, luka di hati itu ia ubah menjadi energi. Kini, emas di lehernya menjadi jawaban telak atas segala cemoohan masa lalu. Keberhasilan Basral adalah buah dari kasih sayang luar biasa sang ayah, Suranto, 55. Di masa kecil Basral, Suranto rela memboncengkan anaknya menempuh perjalanan Solo-Jogja seminggu sekali hanya untuk mencari skatepark yang layak. Mereka sering pulang menembus dini hari, dan Basral harus tetap masuk sekolah meski kelelahan.

Dukungan sang ayah bahkan melampaui urusan teknis. Saat pihak sekolah sempat mengancam tidak menaikkan kelas karena Basral memilih fokus Pelatnas SEA Games 2019, Suranto-lah yang pasang badan. “Waktu itu saya yang maju. Saya bela anak saya,” tegas Suranto. Basral pun kini menempuh pendidikan jalur Paket C demi mengejar karier profesionalnya.

Baca Juga :  Target Rp1 Triliun Tak Tercapai, Terkendala Infrastruktur dan Kepastian Lahan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya