alexametrics
32.7 C
Jayapura
Wednesday, June 22, 2022

Tak Peduli Seberapa Sulit Menjadi Atlet, Jangan Menyerah untuk Belajar

Tai Tzu Ying, Ratu Bulu Tangkis Dunia Sekaligus Pemegang Gelar Doktor

Menggondol gelar doktor dan Indonesia Open dalam rentang 10 hari adalah salah satu bukti komitmen Tai Tzu Ying menyeimbangkan prestasi olahraga dengan akademik. Belum tahu kelak akan menjadi pelatih atau dosen.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

BAGINYA, mengejar prestasi di olahraga tidak sepatutnya dibenturkan dengan kiprah di pendidikan. Saat namanya bisa membuat keder pebulu tangkis tunggal putri mana pun, di saat yang sama dia juga sukses menggondol gelar doktor.

”Di Taiwan, sangat jarang ada atlet yang bisa ambil S-3 sekaligus bertanding di kejuaraan yang padat di level internasional. Jadi, saya berterima kasih kepada universitas saya yang sudah membantu saya menyelesaikan pelajaran sembari saya bertanding,” ujar Tai Tzu Ying (TTY), ratu bulu tangkis Taiwan dan dunia yang kini menyandang gelar doktor.

Bukti terbaru bagaimana TTY mampu menyeimbangkan kehidupan sebagai atlet dan akademik bisa dilihat dalam rentang 10 hari, antara 9 sampai 19 Juni. Wisuda sebagai doktor dia jalani pada 9 Juni lalu. Dan, 10 hari kemudian, pebulu tangkis 28 tahun itu berhasil merebut gelar tunggal putri Indonesia Open, turnamen super 1000, level tertinggi dalam rangkaian turnamen di bawah Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Tentu tak mudah. Kuncinya ada pada komitmen dan kedisiplinan. TTY mengingat bagaimana repotnya mengatur waktu berinteraksi dengan dosen, menjalani kuliah secara daring, dan di saat yang sama harus menjaga kondisinya sebagai atlet. Pandemi ”membantunya” dalam artian jadwal turnamen jadi sangat berkurang. Karena itu, dia bisa lebih punya waktu untuk menyelesaikan kuliah doktoral di Institute of Competitive Sports of Taipei, Taipei University.

Sebelumnya, tunggal putri nomor dua dunia itu menamatkan jenjang master di University of Taipei jurusan pelatihan olahraga. Dia juga lulus dengan penghargaan khusus dari wali kota setempat atas kontribusinya.

Baca Juga :  Bagian dari Skema Gelembung, 66 Bus Siap Antar Jemput

Padahal, kesibukan TTY malang melintang di bulu tangkis dunia berlangsung sejak usia belia. Pada usia 18 tahun saja, dia telah mewakili Taiwan di Olimpiade 2012 di London. Dua Olimpiade berikutnya juga diikuti dengan raihan perak di Olimpiade Tokyo setelah kalah oleh pemain Tiongkok Chen Yu Fei di partai puncak.

”Itu kegagalan paling menyakitkan,” katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya setelah menjuarai Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (19/6) lalu.

Wajar TTY sekecewa itu. Secara head-to-head, dia unggul atas Chen Yu Fei. Juara tunggal putri Indonesia Open tiga kali itu juga tercatat sebagai tunggal putri yang terlama menjadi ranking pertama dunia, yakni 2 Desember 2016 hingga 25 Juli 2019.

Jadi, dia sangat diunggulkan ketika itu. Tapi, di final ajang yang paling diimpikannya tersebut, perebut emas tunggal putri Asian Games 2018 itu malah dipaksa menyerah 18-21, 21-19, 18-21.

Tapi, di luar kegagalan merebut emas di Tokyo itu, TTY sudah meraup banyak sekali prestasi. World Tour Finals sudah tiga kali dia menangi. All England, turnamen super 1000 lainnya, telah dua kali dia juarai. Juara Asia juga dua kali.

Di tengah kepadatan turnamen itu, TTY harus pintar-pintar mengatur waktu. ”Cara saya bagi waktu untuk dapat gelar dan latihan saya memang harus cari dosen untuk atur waktu, untuk menyelesaikan kuliah. Dan, saya ada request ke dosen agar kuliah online karena itu lebih efisien buat saya,” katanya.

TTY bak dua sosok yang berbeda: antara di lapangan dan di luar lapangan. Dia lapangan, dia bisa demikian dingin dengan tatapan mata tajam yang mengintimidasi lawan. Tapi, selepas pertandingan, dia pribadi yang ramah dan rendah hati.

Hari-harinya memang tak pernah lepas dari olahraga. Dia atlet, kuliah kepelatihan dan keolahragaan, serta waktu luangnya juga dihabiskan untuk olahraga.

Baca Juga :  Saya Ingin Tunjukkan Tak Ada Yang Berubah dari Anak Saya

Gym adalah tempat favoritnya. Di media sosialnya, dia kerap membagikan aktivitasnya menjaga kondisi di tempat kebugaran.

Tubuhnya memang terlihat bugar sekali. Liat dan berotot meski sekilas tampak kurus. Dan, nyaris tak pernah terlihat lelah meski pertandingan harus berlangsung ketat sampai tiga game. Duel melawan Chen Yu Fei di semifinal Indonesia Open, contohnya. Saat sang lawan kehabisan bensin di game ketiga, TTY tampak seperti belum berkeringat. Di final, dia juga kembali menang tiga game atas pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhi Yi, yang berusia enam tahun lebih muda darinya.

Bagi Tzu Ying, olahraga memang tentang kerja keras. Dan, itu sangat menguras tenaga serta konsentrasi. Tetapi, menurut dia, seorang atlet tetap tidak boleh mengabaikan pendidikan.

”Tidak peduli seberapa sulitnya menjadi atlet, Anda tidak boleh menyerah untuk belajar. Sambil meningkatkan pengetahuan Anda, itu akan membantu meningkatkan karier Anda,” ucapnya.

TTY belum bisa memastikan apakah kelak akan menjadi pelatih ataupun memilih mengajar sebagai dosen di kampus. Menurut dia, itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Dia masih sangat menikmati hari-hari sebagai atlet. Bertanding di kejuaraan level elite.

”Kapan saya berhenti, saya belum tahu. Saya hanya akan terus menjaga kesehatan dan coba terus bermain sekuat saya,” ujar kampiun Universiade 2017 yang dihelat di negaranya itu.

Di usia yang sudah mendekati kepala tiga, Tzu Ying memang bakal punya tantangan tersendiri untuk bisa terus tampil pada performa terbaiknya. Apalagi, banyak rivalnya saat ini yang berusia jauh di bawahnya. Wang Zhi Yi, misalnya. Juga Ahn Se-young yang malah berusia 20 tahun.

”Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah fokus pada diri sendiri dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” katanya. (*/c19/ttg/JPG)

Tai Tzu Ying, Ratu Bulu Tangkis Dunia Sekaligus Pemegang Gelar Doktor

Menggondol gelar doktor dan Indonesia Open dalam rentang 10 hari adalah salah satu bukti komitmen Tai Tzu Ying menyeimbangkan prestasi olahraga dengan akademik. Belum tahu kelak akan menjadi pelatih atau dosen.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

BAGINYA, mengejar prestasi di olahraga tidak sepatutnya dibenturkan dengan kiprah di pendidikan. Saat namanya bisa membuat keder pebulu tangkis tunggal putri mana pun, di saat yang sama dia juga sukses menggondol gelar doktor.

”Di Taiwan, sangat jarang ada atlet yang bisa ambil S-3 sekaligus bertanding di kejuaraan yang padat di level internasional. Jadi, saya berterima kasih kepada universitas saya yang sudah membantu saya menyelesaikan pelajaran sembari saya bertanding,” ujar Tai Tzu Ying (TTY), ratu bulu tangkis Taiwan dan dunia yang kini menyandang gelar doktor.

Bukti terbaru bagaimana TTY mampu menyeimbangkan kehidupan sebagai atlet dan akademik bisa dilihat dalam rentang 10 hari, antara 9 sampai 19 Juni. Wisuda sebagai doktor dia jalani pada 9 Juni lalu. Dan, 10 hari kemudian, pebulu tangkis 28 tahun itu berhasil merebut gelar tunggal putri Indonesia Open, turnamen super 1000, level tertinggi dalam rangkaian turnamen di bawah Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Tentu tak mudah. Kuncinya ada pada komitmen dan kedisiplinan. TTY mengingat bagaimana repotnya mengatur waktu berinteraksi dengan dosen, menjalani kuliah secara daring, dan di saat yang sama harus menjaga kondisinya sebagai atlet. Pandemi ”membantunya” dalam artian jadwal turnamen jadi sangat berkurang. Karena itu, dia bisa lebih punya waktu untuk menyelesaikan kuliah doktoral di Institute of Competitive Sports of Taipei, Taipei University.

Sebelumnya, tunggal putri nomor dua dunia itu menamatkan jenjang master di University of Taipei jurusan pelatihan olahraga. Dia juga lulus dengan penghargaan khusus dari wali kota setempat atas kontribusinya.

Baca Juga :  Cukup Satu Cabai untuk Soeharto

Padahal, kesibukan TTY malang melintang di bulu tangkis dunia berlangsung sejak usia belia. Pada usia 18 tahun saja, dia telah mewakili Taiwan di Olimpiade 2012 di London. Dua Olimpiade berikutnya juga diikuti dengan raihan perak di Olimpiade Tokyo setelah kalah oleh pemain Tiongkok Chen Yu Fei di partai puncak.

”Itu kegagalan paling menyakitkan,” katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya setelah menjuarai Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (19/6) lalu.

Wajar TTY sekecewa itu. Secara head-to-head, dia unggul atas Chen Yu Fei. Juara tunggal putri Indonesia Open tiga kali itu juga tercatat sebagai tunggal putri yang terlama menjadi ranking pertama dunia, yakni 2 Desember 2016 hingga 25 Juli 2019.

Jadi, dia sangat diunggulkan ketika itu. Tapi, di final ajang yang paling diimpikannya tersebut, perebut emas tunggal putri Asian Games 2018 itu malah dipaksa menyerah 18-21, 21-19, 18-21.

Tapi, di luar kegagalan merebut emas di Tokyo itu, TTY sudah meraup banyak sekali prestasi. World Tour Finals sudah tiga kali dia menangi. All England, turnamen super 1000 lainnya, telah dua kali dia juarai. Juara Asia juga dua kali.

Di tengah kepadatan turnamen itu, TTY harus pintar-pintar mengatur waktu. ”Cara saya bagi waktu untuk dapat gelar dan latihan saya memang harus cari dosen untuk atur waktu, untuk menyelesaikan kuliah. Dan, saya ada request ke dosen agar kuliah online karena itu lebih efisien buat saya,” katanya.

TTY bak dua sosok yang berbeda: antara di lapangan dan di luar lapangan. Dia lapangan, dia bisa demikian dingin dengan tatapan mata tajam yang mengintimidasi lawan. Tapi, selepas pertandingan, dia pribadi yang ramah dan rendah hati.

Hari-harinya memang tak pernah lepas dari olahraga. Dia atlet, kuliah kepelatihan dan keolahragaan, serta waktu luangnya juga dihabiskan untuk olahraga.

Baca Juga :  Ingin Buat Nduga Jadi Sesuatu yang Tak Terduga di Indonesia

Gym adalah tempat favoritnya. Di media sosialnya, dia kerap membagikan aktivitasnya menjaga kondisi di tempat kebugaran.

Tubuhnya memang terlihat bugar sekali. Liat dan berotot meski sekilas tampak kurus. Dan, nyaris tak pernah terlihat lelah meski pertandingan harus berlangsung ketat sampai tiga game. Duel melawan Chen Yu Fei di semifinal Indonesia Open, contohnya. Saat sang lawan kehabisan bensin di game ketiga, TTY tampak seperti belum berkeringat. Di final, dia juga kembali menang tiga game atas pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhi Yi, yang berusia enam tahun lebih muda darinya.

Bagi Tzu Ying, olahraga memang tentang kerja keras. Dan, itu sangat menguras tenaga serta konsentrasi. Tetapi, menurut dia, seorang atlet tetap tidak boleh mengabaikan pendidikan.

”Tidak peduli seberapa sulitnya menjadi atlet, Anda tidak boleh menyerah untuk belajar. Sambil meningkatkan pengetahuan Anda, itu akan membantu meningkatkan karier Anda,” ucapnya.

TTY belum bisa memastikan apakah kelak akan menjadi pelatih ataupun memilih mengajar sebagai dosen di kampus. Menurut dia, itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Dia masih sangat menikmati hari-hari sebagai atlet. Bertanding di kejuaraan level elite.

”Kapan saya berhenti, saya belum tahu. Saya hanya akan terus menjaga kesehatan dan coba terus bermain sekuat saya,” ujar kampiun Universiade 2017 yang dihelat di negaranya itu.

Di usia yang sudah mendekati kepala tiga, Tzu Ying memang bakal punya tantangan tersendiri untuk bisa terus tampil pada performa terbaiknya. Apalagi, banyak rivalnya saat ini yang berusia jauh di bawahnya. Wang Zhi Yi, misalnya. Juga Ahn Se-young yang malah berusia 20 tahun.

”Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah fokus pada diri sendiri dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” katanya. (*/c19/ttg/JPG)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/