Sebab bagi anak-anak Lubuk Karak, pembangunan bukanlah janji besar. Ia sesederhana jembatan agar mereka bisa bersekolah tanpa rasa takut. Menurut Wali Nagari Lubuk Karak, Apridoni, setidaknya ada tiga jorong dalam kondisi memprihatinkan, yakni Jorong Singgolan, Siraho, dan Sungai Kapur. Sejak perkampungan itu ada hingga hari ini, jembatan yang menghubungkan antarjorong masih sebatas harapan.
“Walau Indonesia sudah merdeka, Nagari Lubuk Karak belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Saat hujan, kendaraan tak bisa melintas, hasil kebun sulit dibawa keluar, dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh,” ujarnya. Apridoni menyebutkan, jalan beraspal di nagari itu hanya sekitar satu kilometer. Selebihnya berupa jalan tanah dan jembatan darurat.
“Impian terbesar kami adalah pembangunan jembatan beton di Lubuk Karak agar seluruh jorong terhubung. Di samping itu juga harus ada jembatan gantung. Kalau itu terealisasi, nagari akan berkembang, perekonomian meningkat, dan tidak ada lagi cerita sedih anak-anak menyeberang sungai untuk sekolah. Pembangunan jembatan bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan mendesak,” ucapnya.
Yang paling memprihatinkan, kata Apridoni, adalah anak-anak di Jorong Siraho yang harus menyeberangi sungai di tiga titik untuk mencapai sekolah TK dan SD di Jorong Sungai Kapur. Persoalan tak berhenti di sana. Untuk melanjutkan pendidikan ke SMP, anak-anak harus bersekolah ke Nagari Silago karena Lubuk Karak tidak memiliki SMP. Saat cuaca ekstrem dan jembatan tak tersedia, mereka terpaksa memutar lewat Ampang Kuranji dengan tambahan jarak tempuh 11 kilometer.
“Jembatan ini sangat penting. Anak-anak sekolah terhambat, ekonomi masyarakat terganggu. Jalan kami masih tanah, berlumpur, dan sulit dilalui. Ini sudah terlalu lama,” tegasnya.
Sebab bagi anak-anak Lubuk Karak, pembangunan bukanlah janji besar. Ia sesederhana jembatan agar mereka bisa bersekolah tanpa rasa takut. Menurut Wali Nagari Lubuk Karak, Apridoni, setidaknya ada tiga jorong dalam kondisi memprihatinkan, yakni Jorong Singgolan, Siraho, dan Sungai Kapur. Sejak perkampungan itu ada hingga hari ini, jembatan yang menghubungkan antarjorong masih sebatas harapan.
“Walau Indonesia sudah merdeka, Nagari Lubuk Karak belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Saat hujan, kendaraan tak bisa melintas, hasil kebun sulit dibawa keluar, dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh,” ujarnya. Apridoni menyebutkan, jalan beraspal di nagari itu hanya sekitar satu kilometer. Selebihnya berupa jalan tanah dan jembatan darurat.
“Impian terbesar kami adalah pembangunan jembatan beton di Lubuk Karak agar seluruh jorong terhubung. Di samping itu juga harus ada jembatan gantung. Kalau itu terealisasi, nagari akan berkembang, perekonomian meningkat, dan tidak ada lagi cerita sedih anak-anak menyeberang sungai untuk sekolah. Pembangunan jembatan bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan mendesak,” ucapnya.
Yang paling memprihatinkan, kata Apridoni, adalah anak-anak di Jorong Siraho yang harus menyeberangi sungai di tiga titik untuk mencapai sekolah TK dan SD di Jorong Sungai Kapur. Persoalan tak berhenti di sana. Untuk melanjutkan pendidikan ke SMP, anak-anak harus bersekolah ke Nagari Silago karena Lubuk Karak tidak memiliki SMP. Saat cuaca ekstrem dan jembatan tak tersedia, mereka terpaksa memutar lewat Ampang Kuranji dengan tambahan jarak tempuh 11 kilometer.
“Jembatan ini sangat penting. Anak-anak sekolah terhambat, ekonomi masyarakat terganggu. Jalan kami masih tanah, berlumpur, dan sulit dilalui. Ini sudah terlalu lama,” tegasnya.