Kisah Anak-anak Lubuk Karak Menantang Arus untuk Bisa Tetap Sekolah
Pagi di Nagari Lubuk Karak, Kecamatan Sembilan Koto, selalu dimulai dengan suara alam. Deru arus sungai yang membelah nagari menjadi alarm alami bagi warga. Jalur ini juga yang setiap hari harus dilewati. Untuk satu, agar tetap sekolah.
Laporan: Zulfia Anita-Dharmasraya_Padang
Bagi sebagian anak-anak di nagari yang berada di Kabupaten Dharmasraya ini, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah rintangan pertama yang harus ditaklukkan setiap hari demi satu kata bernama sekolah. Sungai itu menjadi satu-satunya akses, meski keselamatan harus dipertaruhkan.Setidaknya ada tiga titik sungai yang harus diseberangi anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, masing-masing warga Jorong Sungai Kapur menuju Jorong Siraho, serta anak-anak dari Siraho menuju Lubuk Karak.
Dengan tas di punggung, sepatu dilepas agar tidak basah, dan rok sekolah disingsingkan hingga lutut, anak-anak itu melangkah pelan menembus arus. Pegangan tangan mereka erat. Wajah-wajah kecil itu menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan. Saat hujan turun semalam, arus sungai berubah liar dan tidak ada pilihan lain selain meliburkan diri dari sekolah. Pendidikan anak-anak pun kerap kalah oleh ketiadaan infrastruktur.
Di tepi sungai, orang tua hanya bisa menatap sambil memanjatkan doa dalam diam. Kekhawatiran menjadi bagian dari rutinitas, sebagaimana sarapan pagi. “Kami takut, tapi lebih takut lagi kalau anak-anak tidak sekolah,” begitu ungkapan yang kerap terdengar dari warga. Jika air sungai hanya setinggi lutut, anak-anak masih bisa menyeberang sendiri dengan pengawasan orang tua.
Kisah Anak-anak Lubuk Karak Menantang Arus untuk Bisa Tetap Sekolah
Pagi di Nagari Lubuk Karak, Kecamatan Sembilan Koto, selalu dimulai dengan suara alam. Deru arus sungai yang membelah nagari menjadi alarm alami bagi warga. Jalur ini juga yang setiap hari harus dilewati. Untuk satu, agar tetap sekolah.
Laporan: Zulfia Anita-Dharmasraya_Padang
Bagi sebagian anak-anak di nagari yang berada di Kabupaten Dharmasraya ini, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah rintangan pertama yang harus ditaklukkan setiap hari demi satu kata bernama sekolah. Sungai itu menjadi satu-satunya akses, meski keselamatan harus dipertaruhkan.Setidaknya ada tiga titik sungai yang harus diseberangi anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, masing-masing warga Jorong Sungai Kapur menuju Jorong Siraho, serta anak-anak dari Siraho menuju Lubuk Karak.
Dengan tas di punggung, sepatu dilepas agar tidak basah, dan rok sekolah disingsingkan hingga lutut, anak-anak itu melangkah pelan menembus arus. Pegangan tangan mereka erat. Wajah-wajah kecil itu menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan. Saat hujan turun semalam, arus sungai berubah liar dan tidak ada pilihan lain selain meliburkan diri dari sekolah. Pendidikan anak-anak pun kerap kalah oleh ketiadaan infrastruktur.
Di tepi sungai, orang tua hanya bisa menatap sambil memanjatkan doa dalam diam. Kekhawatiran menjadi bagian dari rutinitas, sebagaimana sarapan pagi. “Kami takut, tapi lebih takut lagi kalau anak-anak tidak sekolah,” begitu ungkapan yang kerap terdengar dari warga. Jika air sungai hanya setinggi lutut, anak-anak masih bisa menyeberang sendiri dengan pengawasan orang tua.