Thursday, February 5, 2026
25.8 C
Jayapura

4 Pilar Utama Pencegahan Penularan HIV Harus Kembali Digerakkan Secara Masif

Pasien yang rutin mengonsumsi ARV, bahkan yang sudah dalam kondisi sangat lemah, dapat kembali sehat dan beraktivitas normal. Masalah utama, kata dia, adalah putus obat (loss to follow-up). Banyak pasien berhenti minum obat karena merasa sudah sehat, bosan, atau terkendala biaya transportasi dan ekonomi.

Untuk mengatasi itu, KPA dulu membentuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang beranggotakan ODHA dan LSM. “Mereka saling mengingatkan minum obat, membantu teman yang kesulitan, bahkan mengantar ke Puskesmas,” jelasnya.

KDS juga membantu petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas untuk menjangkau pasien hingga ke rumah-rumah. “Rangkul mereka, untuk mempermudah kerja-kerja KPA,” tutur Constant.

Menutup pernyataannya, Constant Karma menyinggung peran orang tua dan tantangan besar di era digital. “Siapa yang bisa cegah situs porno di HP? Susah,” katanya jujur.

Baca Juga :  Nelayan Diminta Tidak Mudah Terbujuk Untuk Lakukan Penyelundupan

Menurutnya, di tengah mudahnya akses konten dewasa, sosialisasi kondom menjadi langkah perlindungan realistis, bukan pembenaran perilaku seksual bebas. “Kita tidak bisa pungkiri perkembangan zaman. Kalau pengawasan orang tua lepas, kondom inilah pelindung terakhir,” pungkasnya (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Pasien yang rutin mengonsumsi ARV, bahkan yang sudah dalam kondisi sangat lemah, dapat kembali sehat dan beraktivitas normal. Masalah utama, kata dia, adalah putus obat (loss to follow-up). Banyak pasien berhenti minum obat karena merasa sudah sehat, bosan, atau terkendala biaya transportasi dan ekonomi.

Untuk mengatasi itu, KPA dulu membentuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang beranggotakan ODHA dan LSM. “Mereka saling mengingatkan minum obat, membantu teman yang kesulitan, bahkan mengantar ke Puskesmas,” jelasnya.

KDS juga membantu petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas untuk menjangkau pasien hingga ke rumah-rumah. “Rangkul mereka, untuk mempermudah kerja-kerja KPA,” tutur Constant.

Menutup pernyataannya, Constant Karma menyinggung peran orang tua dan tantangan besar di era digital. “Siapa yang bisa cegah situs porno di HP? Susah,” katanya jujur.

Baca Juga :  Kopi Asal Papua Pegunungan Diminati hingga Mancanegara

Menurutnya, di tengah mudahnya akses konten dewasa, sosialisasi kondom menjadi langkah perlindungan realistis, bukan pembenaran perilaku seksual bebas. “Kita tidak bisa pungkiri perkembangan zaman. Kalau pengawasan orang tua lepas, kondom inilah pelindung terakhir,” pungkasnya (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya