Menurutnya, usia remaja adalah masa yang sangat rentan terhadap pengaruh negatif, terutama seks bebas yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya edukasi sejak dini agar remaja bisa menghindari perilaku berisiko.
“Ketika remaja memasuki masa pubertas, hal yang paling penting diperhatikan adalah menjauhi seks bebas. Ini karena dampaknya sangat besar, mulai dari tertular HIV/AIDS hingga risiko kematian,” jelas Lili. Dalam penyuluhan tersebut, Lili juga menjelaskan secara rinci tentang penyakit menular seksual (PMS), termasuk cara penularan melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, hubungan seks sejenis, maupun dengan penjaja seks.
Dan kabarnya terkait penyuka hubungan sejenis ini ternyata menurut kabar di Jayapura komunitas penyuka sesama jenis ini sudah lama ada dan kerap melakukan copy darat. Selain informasi lainnya adalah ada juga jasa foto nude atau foto telanjang. Untuk lokasinya kadang menggunakan hotel sesuai kesepakatan antara si fotografer dan juga model.
Lili juga menyoroti dampak buruk pornografi terhadap kesehatan mental dan perkembangan remaja. “Konten pornografi memengaruhi bagian otak yang disebut prefrontal cortex, pusat dari kepribadian dan pengendalian diri. Jika bagian ini terganggu, maka remaja akan kesulitan membedakan antara baik dan buruk,” paparnya.
Beberapa dampak lainnya termasuk keinginan untuk meniru adegan pornografi, kecenderungan menyendiri, depresi, hingga perilaku menyimpang. Untuk menghindarinya, dr. Lili menyarankan agar remaja memperkuat keimanan, aktif dalam kegiatan positif, serta menjauhi konten pornografi.
Iapun menyayangkan kurangnya edukasi kesehatan reproduksi yang diterima remaja, baik dari orang tua maupun di lingkungan sekolah. Dan yang membuatnya tercengang adalah dari hasil kuesioner yang dikumpulkan pihaknya menunjukkan bahwa banyak remaja di Papua telah mengakses konten pornografi, bahkan ada yang mencoba aktivitas seksual dengan tangan.
“Dari peserta yang hadir, sebagian besar mengaku belum pernah mendapatkan edukasi reproduksi dari orang tua maupun sekolah. Ini menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujar dr. Lili. Ia menegaskan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam memberikan edukasi sejak dini agar kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu.
“Kami harap orang tua maupun sekolah tidak lagi memandang edukasi reproduksi sebagai hal yang memalukan. Justru ini upaya pencegahan yang sangat penting,” tegasnya. Irianto Wursok Letlora, remaja pria berusia 19 tahun yang mengikuti penyuluhan tersebut, mengaku baru kali ini mendapatkan edukasi seputar kesehatan reproduksi.