Wednesday, May 29, 2024
28.7 C
Jayapura

Peluang Wisata dari Lokasi Spot Baru yang Menyajikan Keindahan Bakau

Eksotiknya Pantai Yhur, Spot Wisata Jeramba Bakau yang Perlu Sentuhan

Lokasi wisata alam di Jayapura terus bermunculan. Setelah spot Pantai Sembunyi di belakang PLTU Holtekamp, lalu lokasi Adjahfuk di Pantai Hamadi, kini Pemkot menyiapkan spot lain di Pantai Yhur wisata jeramba bakau.

Laporan: Abdel Gamel Naser – Jayapura

Jayapura kembali menyiapkan satu spot wisata baru yang berada di tengah kota. Untuk mengaksesnya juga sangat mudah, karena berada persis di pinggir jalan yang tak jauh dari Jembatan Yotefa Jayapura.

  Untuk warga Kota Jayapura lokasi ini tentu tak asing, karena dulunya di lokasi yang sama beberapa tahun lalu pernah dibuat spot  wisata menggunakan boat bebek – bebek. Dimana pengunjung bisa memanfaatkan boat mini dengan cara menggenjot sendiri sambil berkeliling.

   Hanya sayangnya potensi tersebut tidak terkelola baik dan akhirnya boat berbagai bentuk ini rusak  kemudian hilang. Saat ini tidak lagi terlihat sisa – sisa dari wisata boat bebek tersebut. Cenderawasih Pos sempat berbincang – bincang dengan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Mathias Bentar Mano terkait tempat wisata baru ini.  Iapun membeberkan soal plus minusnya dari lokasi wisata di Pantai Yhur.

   Kata Bentar Mano yang menarik dari lokasi Pantai Yhur adalah kedalaman air cukup dangkal dan cukup jernih, sehingga pengunjung bisa melihat langsung kondisi kedalaman perairan di sekitar spot jeramba.

   “Pengunjung bisa belajar soal hutan bakau ditambah tentang keindahan bawah laut  karena kedua saling berkaitan,” kata Bentar Mano belum lama ini di Jayapura.

  Lalu dengan suasana bakau yang sejuk,  disini pengunjung bisa merasakan suasana yang sangat nyaman plus kondisi hilir mudik dari speedboat yang datang dan pergi dari Kampung Engros maupun Kampung Tobati.

   Di tempat ini juga menarik untuk digunakan sebagai lokasi foto preweding maupun untuk foto biasa. Ia membenarkan bahwa wisata jeramba ini menjadi pilihan baru di Jayapura karena satu – satunya spot yang memiliki treking cukup panjang yakni 600 meter.

   Lokasi ini digarap sejak tahun 2021 dan selesai di tahun 2022 dengan  mata anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK)  dengan angka Rp 1 miliar lebih. Wisata Jeramba ini diresmikan pada 22 Mei tahun 2022 oleh mantan Wali Kota, Benhur Tomi Mano.

Baca Juga :  Kekurangan Guru Mata Pelajaran Umum, Masih Butuh Dukungan Sarpras

   “Ini dulunya jadi tempat wisata juga, tapi tidak terurus baik akhirnya hilang. Kami melihat potensinya ada sehingga tahun lalu dibangun namun dengan konsep jeramba,” beber Bentar.     

  Wisata bakau di Kota Jayapura sejatinya ada spot lainnya yakni Adjahfuk Resources yang dibangun oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua. Namun karena persoalan internal antara pemilik ulayat akhirnya lokasi ini tidak kunjung dibuka meski sudah berjalan sekitar 3 tahun lamanya.

   Persoalan ini juga terjadi di spot wisata jeramba, dimana menuju Bentar Mano, sebelum ada jeramba, lokasi ini hanya diklaim oleh satu dua orang, namun setelah dibuatkan jeramba ternyata banyak sekali yang muncul dan mengklaim. Ini kata Bentar menjadi satu soal yang menghambat sektor wisata. Belum lagi dengan pungutan sepihak tanpa sepengetahuan pihak dinas sebagai pihak yang membangun.

   Ini menurut Bentar menjadi “penyakit” klasik yang terkesan selalu memanfaatkan peluang yang sudah hampir jadi. Bentar mengomentari adanya oknum warga yang dengan sengaja membuka pintu masuk jeramba kemudian melakukan penarikan pungutan.

  “Itu dibuka oleh masyarakat yang tidak paham bahwa itu adalah asset pemerintah dan pemerintah masih mengatur dan mengkaji tentang besaran biaya pintu masuk dan sementara masih ada penambahan – penambahan. Masyarakat perlu memahami bahwa besaran tarikan di pintu masuk nantinya diatur oleh Pemda jadi yang ada selama ini adalah ilegal,” kata Bentar.

   Ia menegaskan bahwa penarikan ini harus disesuaikan dengan kondisi Kota Jayapura dimana lokasi  seperti ini baru pertama dan besarannya harus disesuaikan dengan fasilitas di lokasi tersebut. “Jika hanya jembatan lalu orang berkeliling apakah pantas Rp 10 ribu/orang atau mungkin Rp 5 ribu/ orang yang nantinya digunakan untuk biaya kebersihan. Ini yang masih kami pending karena masih dalam pengkajian,” jelasnya.

   Lalu untuk pintu masuk dikelola oleh pemerintah sedangkan masyarakat local diberi peluang lewat penjualan kuliner atau kerajinan tangan. “Masyarakat yang akan berjualan di lokasi tersebut,” tambah Bentar.

Baca Juga :  Jadi Pengalaman Paling Berharga, Tetap Belajar Meski Tak ke Sekolah

   Hanya saja,  Bentar menyayangkan ada yang sepihak melakukan penarikan retribusi. “Harusnya datang tanya, sebab pemerintah yang mengatur. Sebelum dibangun itu hanya lokasi hutan bakau yang digunakan untuk perahu lewat tapi  setelah pemerintah bangun seharusnya ini tidak aji mumpung karena pembangunan di lokasi itu juga belum selesai,” beber Bentar Mano.

  Aset yang dibangun dikelola dulu oleh pemerintah. Untuk ke masyarakat nanti setelah semua berjalan barulah pemerintah akan menyerahkan pengelolaannya kepada masyarakat dengan tetap dilakukan pemantauan.

   “Jika sudah berjalan bagus, maka pengelolaan lokasinya akan kami lepas, namun tetap dipantau oleh pemerintah. Pelan – pelan dijelaskan kepada masyarakat soal keberlanjutannya,” kata Bentar menjelaskan.

  Namun jangan dibangun pemerintah kemudian ada yang mencari keuntungan dengan melakukan pungutan kemudian uangnya buat kantong sendiri. Dan ketika rusak pemerintah yang masuk memperbaiki.

  “Berfikirnya tidak boleh seperti ini, seharusnya jika punya modal silahkan bangun sendiri, nanti tanya ke BBKSDA ke pemerintah  apakah boleh membangun di situ mengingat itu kawasan konservasi. Jika diperbolehkan membangun asal tidak merusak ya silahkan saja.”bebernya.

   “Jadi harapan kami masyarakat masuk ke lokasi wisata ini juga maksimal. Sesuai dengan apa yang dibayarkan, bukan hanya jeramba kosong,” sambung Bentar.

   Ia menyoroti cara berpikir atau mind set masyarakat yang memang harus diubah. Datang untuk berusaha dan bukan tergantung dari apa yang  sudah dibuat. “Contoh tanah kosong itu dibangun agar bernilai, sebab jika terbiar kosong maka tidak akan ada nilainya. Mind set harus diubah agar orang Port Numbay juga memiliki jiwa petarung, jiwa berbisnis dan berusaha tanpa harus selalu mengatakan ini siapa punya dan kamu siapa. Harus mau membuka diri menerima masukan dan merubah mind set,” singgungnya.

   Lokasi yang dibuka ini membuat pekerjaan pihaknya juga jadi terganggu, sebab masyarakat sudah masuk melakukan penarikan.”Kami kunci ternyata dibongkar dan ditutup lagi tetap dibongkar. Ini sudah kami laporkan juga ke yang berwajib agar polisi saja yang menutup,”  tutup Bentar. (*/tri)

Eksotiknya Pantai Yhur, Spot Wisata Jeramba Bakau yang Perlu Sentuhan

Lokasi wisata alam di Jayapura terus bermunculan. Setelah spot Pantai Sembunyi di belakang PLTU Holtekamp, lalu lokasi Adjahfuk di Pantai Hamadi, kini Pemkot menyiapkan spot lain di Pantai Yhur wisata jeramba bakau.

Laporan: Abdel Gamel Naser – Jayapura

Jayapura kembali menyiapkan satu spot wisata baru yang berada di tengah kota. Untuk mengaksesnya juga sangat mudah, karena berada persis di pinggir jalan yang tak jauh dari Jembatan Yotefa Jayapura.

  Untuk warga Kota Jayapura lokasi ini tentu tak asing, karena dulunya di lokasi yang sama beberapa tahun lalu pernah dibuat spot  wisata menggunakan boat bebek – bebek. Dimana pengunjung bisa memanfaatkan boat mini dengan cara menggenjot sendiri sambil berkeliling.

   Hanya sayangnya potensi tersebut tidak terkelola baik dan akhirnya boat berbagai bentuk ini rusak  kemudian hilang. Saat ini tidak lagi terlihat sisa – sisa dari wisata boat bebek tersebut. Cenderawasih Pos sempat berbincang – bincang dengan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Mathias Bentar Mano terkait tempat wisata baru ini.  Iapun membeberkan soal plus minusnya dari lokasi wisata di Pantai Yhur.

   Kata Bentar Mano yang menarik dari lokasi Pantai Yhur adalah kedalaman air cukup dangkal dan cukup jernih, sehingga pengunjung bisa melihat langsung kondisi kedalaman perairan di sekitar spot jeramba.

   “Pengunjung bisa belajar soal hutan bakau ditambah tentang keindahan bawah laut  karena kedua saling berkaitan,” kata Bentar Mano belum lama ini di Jayapura.

  Lalu dengan suasana bakau yang sejuk,  disini pengunjung bisa merasakan suasana yang sangat nyaman plus kondisi hilir mudik dari speedboat yang datang dan pergi dari Kampung Engros maupun Kampung Tobati.

   Di tempat ini juga menarik untuk digunakan sebagai lokasi foto preweding maupun untuk foto biasa. Ia membenarkan bahwa wisata jeramba ini menjadi pilihan baru di Jayapura karena satu – satunya spot yang memiliki treking cukup panjang yakni 600 meter.

   Lokasi ini digarap sejak tahun 2021 dan selesai di tahun 2022 dengan  mata anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK)  dengan angka Rp 1 miliar lebih. Wisata Jeramba ini diresmikan pada 22 Mei tahun 2022 oleh mantan Wali Kota, Benhur Tomi Mano.

Baca Juga :  Habis Hujan, Endapan Material Menumpuk, Debu Beterbangan

   “Ini dulunya jadi tempat wisata juga, tapi tidak terurus baik akhirnya hilang. Kami melihat potensinya ada sehingga tahun lalu dibangun namun dengan konsep jeramba,” beber Bentar.     

  Wisata bakau di Kota Jayapura sejatinya ada spot lainnya yakni Adjahfuk Resources yang dibangun oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua. Namun karena persoalan internal antara pemilik ulayat akhirnya lokasi ini tidak kunjung dibuka meski sudah berjalan sekitar 3 tahun lamanya.

   Persoalan ini juga terjadi di spot wisata jeramba, dimana menuju Bentar Mano, sebelum ada jeramba, lokasi ini hanya diklaim oleh satu dua orang, namun setelah dibuatkan jeramba ternyata banyak sekali yang muncul dan mengklaim. Ini kata Bentar menjadi satu soal yang menghambat sektor wisata. Belum lagi dengan pungutan sepihak tanpa sepengetahuan pihak dinas sebagai pihak yang membangun.

   Ini menurut Bentar menjadi “penyakit” klasik yang terkesan selalu memanfaatkan peluang yang sudah hampir jadi. Bentar mengomentari adanya oknum warga yang dengan sengaja membuka pintu masuk jeramba kemudian melakukan penarikan pungutan.

  “Itu dibuka oleh masyarakat yang tidak paham bahwa itu adalah asset pemerintah dan pemerintah masih mengatur dan mengkaji tentang besaran biaya pintu masuk dan sementara masih ada penambahan – penambahan. Masyarakat perlu memahami bahwa besaran tarikan di pintu masuk nantinya diatur oleh Pemda jadi yang ada selama ini adalah ilegal,” kata Bentar.

   Ia menegaskan bahwa penarikan ini harus disesuaikan dengan kondisi Kota Jayapura dimana lokasi  seperti ini baru pertama dan besarannya harus disesuaikan dengan fasilitas di lokasi tersebut. “Jika hanya jembatan lalu orang berkeliling apakah pantas Rp 10 ribu/orang atau mungkin Rp 5 ribu/ orang yang nantinya digunakan untuk biaya kebersihan. Ini yang masih kami pending karena masih dalam pengkajian,” jelasnya.

   Lalu untuk pintu masuk dikelola oleh pemerintah sedangkan masyarakat local diberi peluang lewat penjualan kuliner atau kerajinan tangan. “Masyarakat yang akan berjualan di lokasi tersebut,” tambah Bentar.

Baca Juga :  Sadari Pentingnya Pers, Pj Wali Kota Gelar Silahturahmi

   Hanya saja,  Bentar menyayangkan ada yang sepihak melakukan penarikan retribusi. “Harusnya datang tanya, sebab pemerintah yang mengatur. Sebelum dibangun itu hanya lokasi hutan bakau yang digunakan untuk perahu lewat tapi  setelah pemerintah bangun seharusnya ini tidak aji mumpung karena pembangunan di lokasi itu juga belum selesai,” beber Bentar Mano.

  Aset yang dibangun dikelola dulu oleh pemerintah. Untuk ke masyarakat nanti setelah semua berjalan barulah pemerintah akan menyerahkan pengelolaannya kepada masyarakat dengan tetap dilakukan pemantauan.

   “Jika sudah berjalan bagus, maka pengelolaan lokasinya akan kami lepas, namun tetap dipantau oleh pemerintah. Pelan – pelan dijelaskan kepada masyarakat soal keberlanjutannya,” kata Bentar menjelaskan.

  Namun jangan dibangun pemerintah kemudian ada yang mencari keuntungan dengan melakukan pungutan kemudian uangnya buat kantong sendiri. Dan ketika rusak pemerintah yang masuk memperbaiki.

  “Berfikirnya tidak boleh seperti ini, seharusnya jika punya modal silahkan bangun sendiri, nanti tanya ke BBKSDA ke pemerintah  apakah boleh membangun di situ mengingat itu kawasan konservasi. Jika diperbolehkan membangun asal tidak merusak ya silahkan saja.”bebernya.

   “Jadi harapan kami masyarakat masuk ke lokasi wisata ini juga maksimal. Sesuai dengan apa yang dibayarkan, bukan hanya jeramba kosong,” sambung Bentar.

   Ia menyoroti cara berpikir atau mind set masyarakat yang memang harus diubah. Datang untuk berusaha dan bukan tergantung dari apa yang  sudah dibuat. “Contoh tanah kosong itu dibangun agar bernilai, sebab jika terbiar kosong maka tidak akan ada nilainya. Mind set harus diubah agar orang Port Numbay juga memiliki jiwa petarung, jiwa berbisnis dan berusaha tanpa harus selalu mengatakan ini siapa punya dan kamu siapa. Harus mau membuka diri menerima masukan dan merubah mind set,” singgungnya.

   Lokasi yang dibuka ini membuat pekerjaan pihaknya juga jadi terganggu, sebab masyarakat sudah masuk melakukan penarikan.”Kami kunci ternyata dibongkar dan ditutup lagi tetap dibongkar. Ini sudah kami laporkan juga ke yang berwajib agar polisi saja yang menutup,”  tutup Bentar. (*/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya