Dari Bangku Kuliah ke Kebun Tomat, Rio Yahuli Menemukan Jalan Hidupnya

  Keberhasilan awal itu menumbuhkan keyakinan. Tomat yang semula hanya menjadi tanaman percobaan perlahan berubah menjadi komoditas yang ingin dikembangkannya secara serius.

  Dalam perjalanan tersebut, Rio bertemu Rizky Ramdan, penyuluh dari Yayasan Bina Tani Sejahtera. Pertemuan itu membuka kesempatan baginya untuk memperoleh pendampingan dalam mengembangkan budidaya tomat.

  Dengan bimbingan penyuluh, Rio terus belajar menyesuaikan cara bertani dengan kondisi lahan yang dimilikinya. Sebab, menanam bukan sekadar memasukkan bibit ke tanah lalu menunggu buah muncul. Ada proses pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, dan upaya memahami karakter tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

  Hasilnya mulai terlihat. Rio telah delapan kali memanen tomat. Hasil kebun itu dipasarkan kepada warga di sekitar kompleks tempat tinggalnya. Ia juga memanfaatkan media sosial untuk menawarkan hasil panen.

Baca Juga :  Dari Lab Sederhana di Dok II, Lahir Harapan Baru Tenaga Kesehatan Papua

  “Setiap kali mengunggah tomat yang siap dijual, pembeli mulai menghubungi saya. Pesanan kemudian diantarkan langsung, termasuk kepada pedagang sayur di Dok V,” terangnya.

  Bagi Rio, perjalanan menjadi petani bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ada pengalaman panjang yang membawanya kembali ke dunia yang telah dikenalnya sejak kecil.

  Ia percaya setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Rencana boleh disusun, tetapi tidak semua hal berjalan persis seperti yang dibayangkan. Keyakinan itu menjadi pegangan ketika ia memutuskan menekuni pertanian.

  “Ini sudah jalannya. Seperti tertulis di Alkitab, manusia boleh merencanakan apa yang diinginkan, tetapi Tuhan yang menentukan jalan. Jadi, kalau memang jalannya di situ, kita jalani saja,” katanya.

Baca Juga :  Megawati Paling Suka Paha Goreng Kering

  Keberhasilan awal itu menumbuhkan keyakinan. Tomat yang semula hanya menjadi tanaman percobaan perlahan berubah menjadi komoditas yang ingin dikembangkannya secara serius.

  Dalam perjalanan tersebut, Rio bertemu Rizky Ramdan, penyuluh dari Yayasan Bina Tani Sejahtera. Pertemuan itu membuka kesempatan baginya untuk memperoleh pendampingan dalam mengembangkan budidaya tomat.

  Dengan bimbingan penyuluh, Rio terus belajar menyesuaikan cara bertani dengan kondisi lahan yang dimilikinya. Sebab, menanam bukan sekadar memasukkan bibit ke tanah lalu menunggu buah muncul. Ada proses pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, dan upaya memahami karakter tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

  Hasilnya mulai terlihat. Rio telah delapan kali memanen tomat. Hasil kebun itu dipasarkan kepada warga di sekitar kompleks tempat tinggalnya. Ia juga memanfaatkan media sosial untuk menawarkan hasil panen.

Baca Juga :  Perlu Bangun Lapak Darurat, Dinsos Upayakan Bantuan Bagi Korban Kebakaran

  “Setiap kali mengunggah tomat yang siap dijual, pembeli mulai menghubungi saya. Pesanan kemudian diantarkan langsung, termasuk kepada pedagang sayur di Dok V,” terangnya.

  Bagi Rio, perjalanan menjadi petani bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ada pengalaman panjang yang membawanya kembali ke dunia yang telah dikenalnya sejak kecil.

  Ia percaya setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Rencana boleh disusun, tetapi tidak semua hal berjalan persis seperti yang dibayangkan. Keyakinan itu menjadi pegangan ketika ia memutuskan menekuni pertanian.

  “Ini sudah jalannya. Seperti tertulis di Alkitab, manusia boleh merencanakan apa yang diinginkan, tetapi Tuhan yang menentukan jalan. Jadi, kalau memang jalannya di situ, kita jalani saja,” katanya.

Baca Juga :  Awalnya Minder Kini Menjadi Berani, Masih Kekurangan Tenaga Pengajar

Berita Terbaru

Artikel Lainnya