Di balik kekayaan yang dimiliki, laut Papua menghadapi berbagai ancaman yang terus mengintai. Salah satu yang paling nyata adalah pencemaran akibat sampah plastik. Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan menyebabkan volume sampah terus bertambah. Sebagian besar sampah tersebut bermuara ke sungai dan akhirnya berakhir di laut. Padahal, laut bukanlah tempat pembuangan akhir.
“Laut memang memiliki kemampuan alami untuk menetralisir berbagai unsur, tetapi bukan berarti laut dapat dijadikan tempat membuang sampah. Terutama sampah plastik yang sangat berbahaya bagi kehidupan biota laut,” ujarnya.
Sampah plastik yang mengapung di laut dapat menutupi terumbu karang dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dalam jangka panjang, plastik akan terurai menjadi mikroplastik yang kemudian dikonsumsi ikan dan organisme laut lainnya. Ketika ikan tersebut ditangkap dan dikonsumsi manusia, rantai dampaknya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Selain pencemaran, praktik penangkapan ikan yang merusak juga menjadi ancaman serius. Penggunaan bahan peledak, racun ikan, hingga aktivitas illegal fishing masih ditemukan di sejumlah wilayah perairan.
“Aktivitas tersebut tidak hanya merusak habitat laut, tetapi juga mengurangi produktivitas sumber daya perikanan yang menjadi andalan masyarakat pesisir,” ucap mantan Pj Bupati Sarmi ini.
Karena itu, edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan laut Papua. Iman menerangkan, Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi perikanan terbesar di Indonesia. Hampir setiap kabupaten memiliki komoditas unggulan yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Waropen memiliki potensi pengembangan kepiting. Kepulauan Yapen dikenal dengan budidaya rumput laut. Biak Numfor menjadi salah satu sentra tuna, tongkol, cakalang, dan rumput laut.
Di balik kekayaan yang dimiliki, laut Papua menghadapi berbagai ancaman yang terus mengintai. Salah satu yang paling nyata adalah pencemaran akibat sampah plastik. Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan menyebabkan volume sampah terus bertambah. Sebagian besar sampah tersebut bermuara ke sungai dan akhirnya berakhir di laut. Padahal, laut bukanlah tempat pembuangan akhir.
“Laut memang memiliki kemampuan alami untuk menetralisir berbagai unsur, tetapi bukan berarti laut dapat dijadikan tempat membuang sampah. Terutama sampah plastik yang sangat berbahaya bagi kehidupan biota laut,” ujarnya.
Sampah plastik yang mengapung di laut dapat menutupi terumbu karang dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dalam jangka panjang, plastik akan terurai menjadi mikroplastik yang kemudian dikonsumsi ikan dan organisme laut lainnya. Ketika ikan tersebut ditangkap dan dikonsumsi manusia, rantai dampaknya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Selain pencemaran, praktik penangkapan ikan yang merusak juga menjadi ancaman serius. Penggunaan bahan peledak, racun ikan, hingga aktivitas illegal fishing masih ditemukan di sejumlah wilayah perairan.
“Aktivitas tersebut tidak hanya merusak habitat laut, tetapi juga mengurangi produktivitas sumber daya perikanan yang menjadi andalan masyarakat pesisir,” ucap mantan Pj Bupati Sarmi ini.
Karena itu, edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan laut Papua. Iman menerangkan, Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi perikanan terbesar di Indonesia. Hampir setiap kabupaten memiliki komoditas unggulan yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Waropen memiliki potensi pengembangan kepiting. Kepulauan Yapen dikenal dengan budidaya rumput laut. Biak Numfor menjadi salah satu sentra tuna, tongkol, cakalang, dan rumput laut.