Thursday, March 12, 2026
26.4 C
Jayapura

Semangat IWD Mengingatkan Perjuangan Kesetaraan Belum Usai

Selain itu, kondisi geografis Papua yang luas dan banyak wilayahnya sulit dijangkau juga menjadi hambatan tersendiri dalam memastikan perempuan memperoleh akses terhadap keadilan dan perlindungan hukum.

Situasi ini semakin rumit bagi perempuan yang tinggal di wilayah konflik. Di daerah tersebut, perempuan tidak hanya menghadapi tekanan psikologis akibat konflik, tetapi juga berbagai bentuk kekerasan lain, seperti kekerasan domestik maupun kekerasan tidak langsung.

Menurutnya, tema “Give To Gain” pada IWD tahun ini juga mengajak semua pihak untuk memperkuat solidaritas dan kolaborasi. Melalui semangat itu, masyarakat diharapkan dapat melihat kembali peran penting perempuan dan membuka ruang yang lebih luas bagi mereka di berbagai sektor kehidupan.

Baca Juga :  Nasib Noken Tak Sama Dengan Batik

“Bagi perempuan Papua, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kekerasan. Mereka juga harus berhadapan dengan berbagai kebijakan pembangunan yang kerap berdampak pada ruang hidup masyarakat,” ungkap perempuan yang aktif menyuarakan soal isu perempuan.

Sejumlah wilayah investasi, termasuk proyek strategis nasional (PSN), serta daerah konflik yang sering direspons dengan pendekatan militeristik, dinilai turut memengaruhi kehidupan perempuan.

Ia menilai, kehadiran militer di wilayah konflik maupun daerah investasi sering kali memberi dampak langsung terhadap kehidupan perempuan di wilayah tersebut. Konflik yang terjadi juga memicu gelombang pengungsian. Namun hingga kini, perlindungan terhadap perempuan yang terdampak konflik dinilai masih minim.

Foto boks Rori
Rori Marwani Ehaa

“Pendekatan yang digunakan negara dalam menangani konflik di Papua lebih menekankan pada aspek keamanan dibandingkan pendekatan humanis. Karena itu, berbagai pihak menilai perlunya keberpihakan negara yang lebih kuat dalam menjamin keamanan serta perlindungan perempuan Papua, terutama di wilayah konflik,” katanya.

Baca Juga :  Coaching Program New Exporter Digelar bagi 50 UMKM  Papua

Selain persoalan konflik, perempuan Papua juga menghadapi ancaman terhadap ruang hidup mereka. “Bagi masyarakat Papua, tanah bukan sekadar sumber ekonomi. Tanah memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Tanah sering diibaratkan sebagai “mama” yang memiliki rahim untuk menghidupkan manusia”

Selain itu, kondisi geografis Papua yang luas dan banyak wilayahnya sulit dijangkau juga menjadi hambatan tersendiri dalam memastikan perempuan memperoleh akses terhadap keadilan dan perlindungan hukum.

Situasi ini semakin rumit bagi perempuan yang tinggal di wilayah konflik. Di daerah tersebut, perempuan tidak hanya menghadapi tekanan psikologis akibat konflik, tetapi juga berbagai bentuk kekerasan lain, seperti kekerasan domestik maupun kekerasan tidak langsung.

Menurutnya, tema “Give To Gain” pada IWD tahun ini juga mengajak semua pihak untuk memperkuat solidaritas dan kolaborasi. Melalui semangat itu, masyarakat diharapkan dapat melihat kembali peran penting perempuan dan membuka ruang yang lebih luas bagi mereka di berbagai sektor kehidupan.

Baca Juga :  Dari Dua Sapi Sortiran, Yang Satu Juara Jateng, Hasilkan Keuntungan Rp 100 Juta

“Bagi perempuan Papua, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kekerasan. Mereka juga harus berhadapan dengan berbagai kebijakan pembangunan yang kerap berdampak pada ruang hidup masyarakat,” ungkap perempuan yang aktif menyuarakan soal isu perempuan.

Sejumlah wilayah investasi, termasuk proyek strategis nasional (PSN), serta daerah konflik yang sering direspons dengan pendekatan militeristik, dinilai turut memengaruhi kehidupan perempuan.

Ia menilai, kehadiran militer di wilayah konflik maupun daerah investasi sering kali memberi dampak langsung terhadap kehidupan perempuan di wilayah tersebut. Konflik yang terjadi juga memicu gelombang pengungsian. Namun hingga kini, perlindungan terhadap perempuan yang terdampak konflik dinilai masih minim.

Foto boks Rori
Rori Marwani Ehaa

“Pendekatan yang digunakan negara dalam menangani konflik di Papua lebih menekankan pada aspek keamanan dibandingkan pendekatan humanis. Karena itu, berbagai pihak menilai perlunya keberpihakan negara yang lebih kuat dalam menjamin keamanan serta perlindungan perempuan Papua, terutama di wilayah konflik,” katanya.

Baca Juga :  Nasib Noken Tak Sama Dengan Batik

Selain persoalan konflik, perempuan Papua juga menghadapi ancaman terhadap ruang hidup mereka. “Bagi masyarakat Papua, tanah bukan sekadar sumber ekonomi. Tanah memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Tanah sering diibaratkan sebagai “mama” yang memiliki rahim untuk menghidupkan manusia”

Berita Terbaru

Artikel Lainnya