Pesan ini, menurut Uskup, sejalan dengan bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus menegaskan bahwa pelayanannya bukan untuk mencari popularitas, melainkan dilakukan dengan kerendahan hati demi kepentingan orang lain.
Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura 2026 juga menandai peneguhan visi baru Gereja Keuskupan Jayapura, yakni: Mewujudkan Gereja Misioner yang Mandiri, Partisipatif, Solider, dan Terlibat di Tengah Masyarakat.
Visi tersebut dijabarkan dalam enam misi utama, antara lain: Mewujudkan Gereja misioner melalui pelayanan nyata di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan bidang sosial lainnya.
Menjadi Gereja yang solider dan terlibat, terutama bagi orang kecil, miskin, lemah, tertindas, dan penyandang disabilitas, serta membangun kerja sama lintas agama, pemerintah, dan pihak adat.
Menata persekutuan Gereja secara mandiri dengan memperhatikan keutuhan keluarga, Komunitas Basis Gerejawi (KBG), serta jati diri khas Papua. Membangun dan mengelola fasilitas serta keuangan Gereja untuk mendukung karya misioner.
Membina dan mendukung pelayan pastoral, termasuk calon imam, biarawan-biarawati, serta guru agama. Mewujudkan Gereja yang partisipatif, di mana seluruh umat, uskup, imam, biarawan-biarawati, dan awam terlibat aktif dan bertanggung jawab.
“Hasil sinode ini, yang dirangkum dalam dokumen setebal sekitar 250-300 halaman, akan disosialisasikan ke seluruh dekanat dan paroki di Keuskupan Jayapura,” beber Mgr Yan You.
Menurut Uskup Yan You, inti terdalam dari seluruh visi dan misi tersebut dirangkum dalam satu seruan kuat, yaitu Gereja Go Public “Kita jangan jadi jago kandang. Jangan sibuk urus diri sendiri di dalam gereja saja. Kita dipanggil untuk keluar, berjalan bersama, dan hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh umat termasuk para biarawan-biarawati untuk tidak hanya hidup dalam komunitas tertutup, tetapi keluar mewartakan Injil melalui perbuatan nyata, sebagaimana Yesus sendiri melakukannya dari desa ke desa, dari kota ke kota.
Uskup Yan You juga mengingatkan bahwa perutusan Kristiani tidak pernah mudah. Yesus sendiri mengutus murid-murid-Nya ke tengah-tengah serigala, ke dunia yang penuh tantangan, penolakan, dan risiko. Namun, sebagai murid Kristus, umat dipanggil untuk tidak ragu-ragu dan tidak bersikap abu-abu. “Kalau itu demi kebaikan banyak orang, Tuhan pasti menyertai kita,” ujarnya.