Thursday, March 12, 2026
25.9 C
Jayapura

Tak Hanya Lingkungan Alam, Nilai-nilai Budaya Port Numbay Alami Degradasi

Salah satu perubahan yang paling terasa adalah mulai berkurangnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda masyarakat adat. “Banyak anak-anak Port Numbay sekarang sudah tidak bisa berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri. Ini menunjukkan adanya degradasi budaya yang harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

foto boks albert
Alberth Merauje (foto:Karel/Cepos)

Menurut Alberth, jika kondisi tersebut terus dibiarkan maka kearifan lokal masyarakat adat berpotensi mengalami kepunahan. Selain persoalan budaya, ia juga menyoroti kondisi lingkungan di Kota Jayapura yang semakin mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak terencana dengan baik.

Ia mencontohkan pencemaran yang terjadi di sungai, teluk dan kawasan pesisir yang sebelumnya dikenal sangat bersih. “Kita melihat sekarang banyak sungai sudah tercemar, teluk juga tercemar, bahkan bibir pantai sudah dipenuhi sampah. Ini menjadi tanda bahwa lingkungan kota kita sedang mengalami tekanan yang serius,” ujarnya.

Baca Juga :  Gunung Srobu Bakal Dijadikan Situs Cagar Budaya

Alberth juga mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai bencana alam di Kota Jayapura. Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, kota ini kerap mengalami kejadian seperti longsor, banjir hingga pohon tumbang ketika hujan deras atau angin kencang.

“Kita lihat ketika hujan deras terjadi longsor di beberapa titik, ada pohon tumbang, bahkan ada wilayah yang tergenang air. Ini harus menjadi peringatan bagi kita semua bahwa tata kelola pembangunan kota perlu diperbaiki,” katanya.

Ia menjelaskan kondisi geografis Kota Jayapura yang sebagian besar merupakan kawasan perbukitan dan lembah membuat pembangunan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Wilayah datar di Kota Jayapura hanya sekitar 30 persen. Sebagian besar wilayahnya adalah perbukitan, lembah, sungai dan kawasan pesisir. Karena itu pembangunan harus direncanakan dengan sangat baik,” jelasnya.

Baca Juga :  Target Rp1 Triliun Tak Tercapai, Terkendala Infrastruktur dan Kepastian Lahan

Karena itu, Alberth mendorong Pemerintah Kota Jayapura untuk segera menyusun master plan pembangunan kota yang jelas, baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Menurutnya, perencanaan pembangunan kota perlu dibuat secara komprehensif untuk jangka waktu panjang, misalnya 5 tahun, 25 tahun, 50 tahun bahkan hingga 100 tahun ke depan. “Pemerintah kota harus memiliki master plan pembangunan yang jelas. Dengan adanya master plan, siapapun pemimpinnya nanti harus mengikuti perencanaan tersebut,” ujarnya.

Salah satu perubahan yang paling terasa adalah mulai berkurangnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda masyarakat adat. “Banyak anak-anak Port Numbay sekarang sudah tidak bisa berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri. Ini menunjukkan adanya degradasi budaya yang harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

foto boks albert
Alberth Merauje (foto:Karel/Cepos)

Menurut Alberth, jika kondisi tersebut terus dibiarkan maka kearifan lokal masyarakat adat berpotensi mengalami kepunahan. Selain persoalan budaya, ia juga menyoroti kondisi lingkungan di Kota Jayapura yang semakin mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak terencana dengan baik.

Ia mencontohkan pencemaran yang terjadi di sungai, teluk dan kawasan pesisir yang sebelumnya dikenal sangat bersih. “Kita melihat sekarang banyak sungai sudah tercemar, teluk juga tercemar, bahkan bibir pantai sudah dipenuhi sampah. Ini menjadi tanda bahwa lingkungan kota kita sedang mengalami tekanan yang serius,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemimpin Baru Harus Lebih Serius Bicara Lingkungan

Alberth juga mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai bencana alam di Kota Jayapura. Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, kota ini kerap mengalami kejadian seperti longsor, banjir hingga pohon tumbang ketika hujan deras atau angin kencang.

“Kita lihat ketika hujan deras terjadi longsor di beberapa titik, ada pohon tumbang, bahkan ada wilayah yang tergenang air. Ini harus menjadi peringatan bagi kita semua bahwa tata kelola pembangunan kota perlu diperbaiki,” katanya.

Ia menjelaskan kondisi geografis Kota Jayapura yang sebagian besar merupakan kawasan perbukitan dan lembah membuat pembangunan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Wilayah datar di Kota Jayapura hanya sekitar 30 persen. Sebagian besar wilayahnya adalah perbukitan, lembah, sungai dan kawasan pesisir. Karena itu pembangunan harus direncanakan dengan sangat baik,” jelasnya.

Baca Juga :  WNA Nginap di Hotel, Pengelola Wajib Mendata dan Lapor 

Karena itu, Alberth mendorong Pemerintah Kota Jayapura untuk segera menyusun master plan pembangunan kota yang jelas, baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Menurutnya, perencanaan pembangunan kota perlu dibuat secara komprehensif untuk jangka waktu panjang, misalnya 5 tahun, 25 tahun, 50 tahun bahkan hingga 100 tahun ke depan. “Pemerintah kota harus memiliki master plan pembangunan yang jelas. Dengan adanya master plan, siapapun pemimpinnya nanti harus mengikuti perencanaan tersebut,” ujarnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya