Namun, ia membuktikan bahwa perempuan mampu menyeimbangkan antara keluarga, pendidikan, dan karier dengan kesadaran, komitmen, serta pengelolaan diri yang baik. la memahami bahwa keseimbangan bukan berarti membagi waktu secara sama rata, melainkan menempatkan prioritas dengan bijak sesuai dengan fase kehidupan yang dijalani. Disini Juliana membuktikan bahwa keteladanan yang ia bangun tidak disampaikan melalui retorika semata, tetapi diwujudkan dalam sikap hidup yang konsisten dan penuh tanggung jawab.
Melalui kerja keras, kesederhanaan, dan ketulusan, ia menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi pribadi yang utuh berdaya secara intelektual, berperan aktif dalam ruang publik, dan tetap hadir sepenuhnya dalam kehidupan keluarga. Sementara sosok lainnya, Touskha Iba juga memiliki cerita berbeda. Touskha menegaskan bahwa sepak bola tak hanya milik kaum adam. Stigma itu lumat di tangannya.
Ia bahkan mencatatkan diri sebagai perempuan pertama di Indonesia yang mengantongi Lisensi A Diploma/AFC. Baginya 8 Maret bukan sekadar tanggal di kalender atau perayaan seremonial Hari Perempuan Internasional. Ini adalah simbol untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan Papua bisa memimpin dari bangku cadangan. Dari pemilik SSB Batik hingga menjadi asisten pelatih di liga putra, Touskha adalah perwujudan dari tema Hari Perempuan Internasional 2026
Touskha menjadi pengingat keras bahwa ‘kebangkitan’ bukan sekadar slogan, melainkan kerja keras yang kini membawa tim putra Wamena United menjadi kampiun Liga 4 zona Papua Pegunungan. Menjadi satu-satunya perempuan di kasta tertinggi kepelatihan nasional bukanlah perkara mudah. Bagi Touskha, tantangan terbesar bukanlah memahami strategi high pressing atau transisi permainan, melainkan meyakinkan dunia yang didominasi laki-laki bahwa perempuan juga punya tempat di sana.
Namun, ia membuktikan bahwa perempuan mampu menyeimbangkan antara keluarga, pendidikan, dan karier dengan kesadaran, komitmen, serta pengelolaan diri yang baik. la memahami bahwa keseimbangan bukan berarti membagi waktu secara sama rata, melainkan menempatkan prioritas dengan bijak sesuai dengan fase kehidupan yang dijalani. Disini Juliana membuktikan bahwa keteladanan yang ia bangun tidak disampaikan melalui retorika semata, tetapi diwujudkan dalam sikap hidup yang konsisten dan penuh tanggung jawab.
Melalui kerja keras, kesederhanaan, dan ketulusan, ia menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi pribadi yang utuh berdaya secara intelektual, berperan aktif dalam ruang publik, dan tetap hadir sepenuhnya dalam kehidupan keluarga. Sementara sosok lainnya, Touskha Iba juga memiliki cerita berbeda. Touskha menegaskan bahwa sepak bola tak hanya milik kaum adam. Stigma itu lumat di tangannya.
Ia bahkan mencatatkan diri sebagai perempuan pertama di Indonesia yang mengantongi Lisensi A Diploma/AFC. Baginya 8 Maret bukan sekadar tanggal di kalender atau perayaan seremonial Hari Perempuan Internasional. Ini adalah simbol untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan Papua bisa memimpin dari bangku cadangan. Dari pemilik SSB Batik hingga menjadi asisten pelatih di liga putra, Touskha adalah perwujudan dari tema Hari Perempuan Internasional 2026
Touskha menjadi pengingat keras bahwa ‘kebangkitan’ bukan sekadar slogan, melainkan kerja keras yang kini membawa tim putra Wamena United menjadi kampiun Liga 4 zona Papua Pegunungan. Menjadi satu-satunya perempuan di kasta tertinggi kepelatihan nasional bukanlah perkara mudah. Bagi Touskha, tantangan terbesar bukanlah memahami strategi high pressing atau transisi permainan, melainkan meyakinkan dunia yang didominasi laki-laki bahwa perempuan juga punya tempat di sana.