Ramuan ini terlihat dibawa dengan perahu dayung, dan disaring menggunakan air laut, air saringan itu dibiarkan jatuh ke laut. Ikan yang terperangkap kemudian tak lama menunjukkan gelagat aneh. Ada yang lompat-lompat ke permukaan, kemudian terbalik, ada yang pasif tanpa ada gerakan, ada yang aktif gak karuan.
“Potas itu terbuat dari akar tuba, itu tanaman yang tumbuh liar sekitar kampung, ditumbuk dan dicampur buah Mofer, dan cabe. Sudah dari malam, ada juga yang baru buat tadi. Efeknya ikan akan pusing dan mudah untuk dikalawai (ditombak),” ungkap Ketua Panitia Snap Mor di Kampung Ramdori, Derek Kararbo.
Badan Pekerja Klasis Biak Barat dan Majelis Gereja cukup bangga, dan berbahagia. Sebab, Munara Wampasi kali ini dengan kegiatan Snap Mor-nya mampu menyerap pengunjung hingga 3000-an orang. Padahal lokasinya begitu jauh dari Kota Biak. Bahkan tidak sedikit yang datang dari Kabupaten Supiori, dan mereka pun memberikan support dengan membeli tiket, dan menerima undangan. Undangan yang tentunya bisa ditukar dengan sejumlah ikan untuk dibawa pulang.
Penjabat Bupati Biak Numfor Sofia Bonsapia, SH.,M.Hum bahkan mengapresiasi warga jemaat kampung Ramdori, yang cukup antusias melakukan promosi, dan juga menyiapkan segala prosesnya. Meskipun dengan bentukan panggung yang sederhana, jembatan yang hanya bertonggakkan kayu buah, namun sajian untuk masyarakat dan undangan begitu lezat dan nikmat. Ditambah lagi dengan sajian lokal Barapen, bakar batu khas Biak, yang memang penuh protein dan karbohidrat kompleks, karena hanya ada daging dan umbi-umbian yang dibakar di dalam batu yang ditutup dedaunan.
“Mungkin dari sini kita bisa ke Kepulauan, pasti dari Provinsi dan Kementrian kita upayakan untuk datang dan melihat langsung. Kita perlu lakukan terus, supaya kita bisa saling menjalin kebersamaan dengan baik, kita saling mengunjungi, kita di Biak semua aman, dan Biak bisa jadi destinasi wisata yang menyenangkan,” ungkap Pj Bupati Sofia Bonsapia.
Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Onny Dangeubun, S.Pi.,M.Si mengaku kegiatan snap mor yang digelar tiap kali Festival Biak Munara Wampasi, memang sudah menjadi daya tarik utama dalam festival tahunan yang digelar tiap awal Juli itu.
Kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah dan juga adat ini menjadi sebuah tonggak yang saling membutuhkan, dan sama-sama menguntungkan. Pemerintah mendapatkan event yang sukses, gereja mendapatkan tambahan anggaran maupun kebutuhan pebangunan dan lainnya, sedangkan adat menjadi naungan dari kearifan lokal yang harus dipelihara sebagai warisan dan kekayaan budaya masyarakat Biak.
“Ini menjadi legecy yang harus dijaga demi masa depan yang lebih baik. Sampai antusias masyarakat Biak Numfor dan Supiori dengan luar biasa, ada proses yang kita saksikan bersama-sama, mulai dari ritual sasi, yang dilakukan gereja dan adat, dan kondisi geografis dan kekayaan ini harus terus dirawat dan dipelihara,” pungkas Kadis Pariwisata Onny Dangeubun.
Ikan hasil tangkapan dan kalawai dari masyarakat, terlihat melimpah. Tak jarang ada yang membawa ikan dalam kemasan karungan. Bersama keluarga mereka turun dan menombak ikan dengan bahagia. Tak ada proses bakaran ikan yang bisa dinikmati, sebab tak lama setelah masyarakat satu persatu naik dari bibir pantai, hujan deras mengguyur Kampung Ramdori. Namun tak ada tanda kekecewaan yang mereka bawa pulang dari Snap Mor disana. Hanya ada senyum dan kenangan manis yang mereka kenang di kampung itu, keramahan masyarakat hingga senyum warga desa yang tulus dan jujur. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos