Tuesday, February 10, 2026
24.7 C
Jayapura

Kurang Perhatian dari Keluarga, Bertahan Hidup dengan Keterbatasan

Ketika mereka tidur, geng lain kadang menempelkan pipet minuman panas atau korek api ke kaki atau leher mereka. Luka-luka yang membekas menjadi bukti nyata kekerasan yang terjadi di balik tembok sunyi kota. “Kalau malam, teman-teman suka bakar kaki atau leher kami,” ujar Nikson.

Mereka tak bisa melawan. Sebab, geng tersebut lebih besar dan sebagian besar penghuninya sudah menghirup lem aibon. Danang dan Nikson memilih tidak ikut-ikutan.

“Kami tidak isap lem,” tegas Danang.

Meski keras, hidup di jalan tak sepenuhnya mematikan harapan. Danang masih ingin sekolah. Ia ingin kembali belajar, ingin hidup normal seperti anak-anak lainnya. Tapi satu hal

“Kalau wali kota datang dan bawa saya ke panti, saya tidak mau. Saya cuma mau sekolah,” tegasnya.

Baca Juga :  Dukcapil Catat 235.259 Warga Miliki E-KTP

Nikson pun demikian. Ia ingin sekolah, tapi bukan di bawah atap panti asuhan. “Saya tidak mau ke panti. Tapi kalau bapak wali kota yang bayar sekolah, saya mau,” ucapnya.
Danang dan Nikson hanyalah dua dari sekian banyak anak jalanan yang hidup di tengah modernisasi Kota Jayapura. Di balik hiruk-pikuk pembangunan, di balik gedung-gedung mewah dan pusat perbelanjaan, ada anak-anak kecil yang tidur di bawah kolong toko, mengandalkan selembar kardus sebagai tempat peraduan. “Kami mau seperti rekan teman teman yang lain, bisa hidup bahagia bersmaa bapa mama di rumah,” pungkas Nikson (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Baca Juga :  Kapolresta Akui Sejumlah Masalah di Sekitar Jembatan Merah

Ketika mereka tidur, geng lain kadang menempelkan pipet minuman panas atau korek api ke kaki atau leher mereka. Luka-luka yang membekas menjadi bukti nyata kekerasan yang terjadi di balik tembok sunyi kota. “Kalau malam, teman-teman suka bakar kaki atau leher kami,” ujar Nikson.

Mereka tak bisa melawan. Sebab, geng tersebut lebih besar dan sebagian besar penghuninya sudah menghirup lem aibon. Danang dan Nikson memilih tidak ikut-ikutan.

“Kami tidak isap lem,” tegas Danang.

Meski keras, hidup di jalan tak sepenuhnya mematikan harapan. Danang masih ingin sekolah. Ia ingin kembali belajar, ingin hidup normal seperti anak-anak lainnya. Tapi satu hal

“Kalau wali kota datang dan bawa saya ke panti, saya tidak mau. Saya cuma mau sekolah,” tegasnya.

Baca Juga :  Ada Kekerasan, Jenazah Misterius di Holtekamp Adalah Tapasya

Nikson pun demikian. Ia ingin sekolah, tapi bukan di bawah atap panti asuhan. “Saya tidak mau ke panti. Tapi kalau bapak wali kota yang bayar sekolah, saya mau,” ucapnya.
Danang dan Nikson hanyalah dua dari sekian banyak anak jalanan yang hidup di tengah modernisasi Kota Jayapura. Di balik hiruk-pikuk pembangunan, di balik gedung-gedung mewah dan pusat perbelanjaan, ada anak-anak kecil yang tidur di bawah kolong toko, mengandalkan selembar kardus sebagai tempat peraduan. “Kami mau seperti rekan teman teman yang lain, bisa hidup bahagia bersmaa bapa mama di rumah,” pungkas Nikson (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Baca Juga :  Trauma Kejadian Teman, Anggap Setetes Sangat Berharga

Berita Terbaru

Artikel Lainnya