Tempuh 19 Jam, Laut Lepas Menjadi Ruang Tunggu Ratusan Penumpang

Disini juga para penumpang harus bersiap menghadapi prosesi embarkasi yang tidak biasa. Untuk bisa mencapai daratan, penumpang harus turun dari tangga lambung KM Dorolonda, berpindah ke atas kapal kayu pengangkut barang milik warga yang bertindak sebagai “jembatan apung”, lalu melompat pas ke atas speedboat fiber berukuran kecil.

Saat itu petugas Pol Air Polres Waropen, Pol PP dan juga petugas Dishub Waropen sudah terlihat menunggu. Acapkali jantung terasa mau copot. Membayangkan sebuah speedboat fiber diisi oleh kurang lebih 10 orang, bergoyang pelan dihantam riak gelombang, dengan jarak tempuh hampir 1 Km menuju darat, menghadirkan sensasi yang cukup menegangkan.

“Dua puluh ribu satu kepala kaka,” teriak salah satu motoris perahu hangat. Ya, tarif itu berlaku sama bagi siapa saja, baik yang hendak naik ke kapal besar maupun yang ingin turun ke darat. Sebuah ekosistem ekonomi kecil yang lahir dari keterbatasan infrastruktur. Di tengah situasi yang riuh itu, Bupati Fransiskus Xaverius Mote bersama rombongan dan pengawalan Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Ajudan ikut mengantre untuk turun.

Baca Juga :  Turun Gunung Pakai Lampu HP Hingga Kelupaan Jika Sedang Berpuasa

Menariknya, status sebagai orang nomor satu di Waropen tidak membuat jarak. Di atas kapal kayu yang bergoyang, Bupati F.X Mote tetap melempar senyum, menyapa hangat para penumpang yang hendak turun, hingga menjabat erat tangan para nakhoda serta petugas PT Pelni sebagai bentuk apresiasi atas pelayaran yang aman.

Warga yang menyadari kehadiran sang bupati pun bergantian menjabat tangannya dengan akrab di tengah riuhnya suasana dermaga darurat itu. Begitu kaki ini menapak di daratan Waren, rasa tegang berubah menjadi haru. Di balik segala keterbatasan dan ketegangan saat menyeberang tadi, terpancar binar kebahagiaan yang jujur dari mata masyarakat Waropen. Bagi mereka, kehadiran “Kapal Putih” adalah berkah besar yang memutus isolasi geografis.

Baca Juga :  Akibat Sering Nongkrong dengan Pengamen, Kini Bisa Gunakan Empat Bahasa

Seorang warga lokal yang ikut menjemput keluarganya menatap ke arah KM Dorolonda yang perlahan mulai bersiap melanjutkan pelayaran menuju Nabire, sebelum akhirnya menyudahi perjalanan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Disini juga para penumpang harus bersiap menghadapi prosesi embarkasi yang tidak biasa. Untuk bisa mencapai daratan, penumpang harus turun dari tangga lambung KM Dorolonda, berpindah ke atas kapal kayu pengangkut barang milik warga yang bertindak sebagai “jembatan apung”, lalu melompat pas ke atas speedboat fiber berukuran kecil.

Saat itu petugas Pol Air Polres Waropen, Pol PP dan juga petugas Dishub Waropen sudah terlihat menunggu. Acapkali jantung terasa mau copot. Membayangkan sebuah speedboat fiber diisi oleh kurang lebih 10 orang, bergoyang pelan dihantam riak gelombang, dengan jarak tempuh hampir 1 Km menuju darat, menghadirkan sensasi yang cukup menegangkan.

“Dua puluh ribu satu kepala kaka,” teriak salah satu motoris perahu hangat. Ya, tarif itu berlaku sama bagi siapa saja, baik yang hendak naik ke kapal besar maupun yang ingin turun ke darat. Sebuah ekosistem ekonomi kecil yang lahir dari keterbatasan infrastruktur. Di tengah situasi yang riuh itu, Bupati Fransiskus Xaverius Mote bersama rombongan dan pengawalan Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Ajudan ikut mengantre untuk turun.

Baca Juga :  Karena Sejumlah Alasan, Ratusan Istri Pilih Jadi Janda   

Menariknya, status sebagai orang nomor satu di Waropen tidak membuat jarak. Di atas kapal kayu yang bergoyang, Bupati F.X Mote tetap melempar senyum, menyapa hangat para penumpang yang hendak turun, hingga menjabat erat tangan para nakhoda serta petugas PT Pelni sebagai bentuk apresiasi atas pelayaran yang aman.

Warga yang menyadari kehadiran sang bupati pun bergantian menjabat tangannya dengan akrab di tengah riuhnya suasana dermaga darurat itu. Begitu kaki ini menapak di daratan Waren, rasa tegang berubah menjadi haru. Di balik segala keterbatasan dan ketegangan saat menyeberang tadi, terpancar binar kebahagiaan yang jujur dari mata masyarakat Waropen. Bagi mereka, kehadiran “Kapal Putih” adalah berkah besar yang memutus isolasi geografis.

Baca Juga :  Yakin Bisa Wujudkan Pembangunan dengan Pendekatan Budaya dan Kearifan Lokal

Seorang warga lokal yang ikut menjemput keluarganya menatap ke arah KM Dorolonda yang perlahan mulai bersiap melanjutkan pelayaran menuju Nabire, sebelum akhirnya menyudahi perjalanan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya