Thursday, February 5, 2026
31.7 C
Jayapura

Gereja Tak Boleh Terjebak Rutinitas Pelayanan, Harus Mampu Menjawab Persoalan

Uskup Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You Soal Sinode Keuskupan Jayapura 2026

Menyongsong masa depan Gereja Katolik yang semakin kontekstual dengan realitas Tanah Papua, Uskup Keuskupan Jayapura akan menggelar Sinode Keuskupan Jayapura 2026. Kegiatan gerejawi berskala besar ini akan berlangsung satu minggu, 2–8 Februari 2026, dan akan dibuka di Gereja Juru Selamat Kotaraja, Kota Jayapura, Senin (2/2) hari.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Sebanyak 300 utusan umat dari seluruh wilayah Keuskupan Jayapura dipastikan ambil bagian. Mereka terdiri dari para imam (pastor paroki), pimpinan kongregasi, biarawan dan biarawati, serta tokoh-tokoh awam yang akan bersama-sama merumuskan arah dan wajah pastoral Gereja Katolik Jayapura ke depan.

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, menegaskan bahwa pelaksanaan Sinode ini merupakan puncak dari proses panjang yang telah dipersiapkan secara matang sejak dua tahun lalu.

“Sinode ini tidak muncul secara mendadak, tetapi telah dicanangkan sejak tahun 2024,” ujar Uskup Yanuarius yang akrab disapa Uskup Yan You, Sabtu (31/1).

Baca Juga :  Jadi Ajang Lomba Bagi Penikmat Durian, Berharap Bisa Digelar Rutin

Menurutnya, pencanangan tersebut menjadi awal dari proses berjalan bersama (sinodalitas) yang melibatkan seluruh lapisan umat. Sejak 2024, Gereja Katolik di Jayapura telah melalui berbagai tahapan, mulai dari tingkat Komunitas Basis Gerejawi (KBG), paroki, hingga dekanat.

“Proses sinodal dari bawah telah berjalan melalui musyawarah iman dan selebrasi di tingkat regional, hingga akhirnya kita sampai pada tahap puncak di tingkat Keuskupan pada tahun 2026 ini,” jelasnya.

Mgr. Yanuarius menekankan bahwa Sinode Keuskupan Jayapura 2026 merupakan respons Gereja terhadap kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat Papua saat ini. Berbagai masalah krusial seperti konflik sosial, kekerasan, kemiskinan struktural, hingga degradasi lingkungan yang mengancam tanah leluhur menjadi perhatian serius dalam forum tersebut.

“Tanpa Sinode, Gereja berisiko terjebak dalam rutinitas pelayanan yang tidak lagi menjawab realitas Papua. Sinode adalah alat episkopal yang kontekstual untuk mendengarkan suara Roh Kudus melalui diskusi bersama, demi mengubah wajah pelayanan Gereja di tengah masyarakat,” tegas Uskup pertama putra asli Papua itu.

Baca Juga :  Perpisahan Pj. Bupati Jayapura, Banyak Pesan yang Disampaikan

Dalam Sinode Keuskupan Jayapura 2026, terdapat tiga target utama yang ingin dicapai yakni, Pembaruan Visi dan Misi Gereja, dengan menetapkan visi “Membangun Gereja Misioner yang mandiri, partisipatif, solider, dan terlibat dengan semua pihak di tengah masyarakat.”

Penyusunan Rencana Strategis (Renstra), di mana hasil Sinode akan menjadi pijakan utama program kerja Keuskupan Jayapura untuk 15 tahun ke depan, yang akan dievaluasi secara berkala.

Pertobatan Pastoral, yakni ajakan bagi seluruh elemen Gereja untuk meninggalkan pola pikir lama yang eksklusif menuju pola pelayanan yang dialogis, terbuka, dan inovatif demi pewartaan Injil.

Uskup Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You Soal Sinode Keuskupan Jayapura 2026

Menyongsong masa depan Gereja Katolik yang semakin kontekstual dengan realitas Tanah Papua, Uskup Keuskupan Jayapura akan menggelar Sinode Keuskupan Jayapura 2026. Kegiatan gerejawi berskala besar ini akan berlangsung satu minggu, 2–8 Februari 2026, dan akan dibuka di Gereja Juru Selamat Kotaraja, Kota Jayapura, Senin (2/2) hari.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Sebanyak 300 utusan umat dari seluruh wilayah Keuskupan Jayapura dipastikan ambil bagian. Mereka terdiri dari para imam (pastor paroki), pimpinan kongregasi, biarawan dan biarawati, serta tokoh-tokoh awam yang akan bersama-sama merumuskan arah dan wajah pastoral Gereja Katolik Jayapura ke depan.

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, menegaskan bahwa pelaksanaan Sinode ini merupakan puncak dari proses panjang yang telah dipersiapkan secara matang sejak dua tahun lalu.

“Sinode ini tidak muncul secara mendadak, tetapi telah dicanangkan sejak tahun 2024,” ujar Uskup Yanuarius yang akrab disapa Uskup Yan You, Sabtu (31/1).

Baca Juga :  Perlu Investigasi dan Penjelasan ke Publik, Supaya Tidak Tercipta Opini Liar

Menurutnya, pencanangan tersebut menjadi awal dari proses berjalan bersama (sinodalitas) yang melibatkan seluruh lapisan umat. Sejak 2024, Gereja Katolik di Jayapura telah melalui berbagai tahapan, mulai dari tingkat Komunitas Basis Gerejawi (KBG), paroki, hingga dekanat.

“Proses sinodal dari bawah telah berjalan melalui musyawarah iman dan selebrasi di tingkat regional, hingga akhirnya kita sampai pada tahap puncak di tingkat Keuskupan pada tahun 2026 ini,” jelasnya.

Mgr. Yanuarius menekankan bahwa Sinode Keuskupan Jayapura 2026 merupakan respons Gereja terhadap kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat Papua saat ini. Berbagai masalah krusial seperti konflik sosial, kekerasan, kemiskinan struktural, hingga degradasi lingkungan yang mengancam tanah leluhur menjadi perhatian serius dalam forum tersebut.

“Tanpa Sinode, Gereja berisiko terjebak dalam rutinitas pelayanan yang tidak lagi menjawab realitas Papua. Sinode adalah alat episkopal yang kontekstual untuk mendengarkan suara Roh Kudus melalui diskusi bersama, demi mengubah wajah pelayanan Gereja di tengah masyarakat,” tegas Uskup pertama putra asli Papua itu.

Baca Juga :  Dinilai Banyak Jasanya, Dorong Gelar Pahlawan Bagi Sosok Ramses Ohee

Dalam Sinode Keuskupan Jayapura 2026, terdapat tiga target utama yang ingin dicapai yakni, Pembaruan Visi dan Misi Gereja, dengan menetapkan visi “Membangun Gereja Misioner yang mandiri, partisipatif, solider, dan terlibat dengan semua pihak di tengah masyarakat.”

Penyusunan Rencana Strategis (Renstra), di mana hasil Sinode akan menjadi pijakan utama program kerja Keuskupan Jayapura untuk 15 tahun ke depan, yang akan dievaluasi secara berkala.

Pertobatan Pastoral, yakni ajakan bagi seluruh elemen Gereja untuk meninggalkan pola pikir lama yang eksklusif menuju pola pelayanan yang dialogis, terbuka, dan inovatif demi pewartaan Injil.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya