Sunday, July 21, 2024
26.7 C
Jayapura

80 Persen Bangunan Tak Penuhi Syarat, Pemilik Usaha Disarankan Miliki APAR

Mencermati Kondisi Terkini Penanganan Kebakaran di Kota Jayapura

Intensitas kebakaran di Jayapura tak bisa dianggap remeh. Hampir setiap bulan selalu saja terjadi kebakaran. Bahkan, diawal tahun ini saja sudah belasan kasus kebakaran terjadi.  Pemkot harus berbenah sebab kota semakin padat.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Jayapura menjadi satu daerah tujuan yang semakin padat penduduknya. Dengan kepadatan penduduk ternyata berbanding lurus dengan kompleksitas persoalan. Tak hanya yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu sampah dan banjir, tetapi juga persoalan sosial.

Yang lagi marak adalah masalah kebakaran yang terbilang intensitasnya cukup tinggi. Pasalnya hampir setiap bulan ada saja bangunan yang terbakar. Untuk penanganannya jika akses bisa dijangkau tentu tidak susah, namun jika di lokasi padat penduduk ditambah dengan akses yang sempit plus warga yang datang hanya untuk menyaksikan dan membuat siaran langsung tentunya lebih menyulitkan petugas.

Jika itu tak segera disikapi pemerintah, maka jumlah kerugian yang muncul akan jauh lebih besar. Untungnya menurut Kabid Damkar Kota Jayapura, Feronita S Kirana selama ini penanganan kebakaran di Jayapura bisa dibilang cukup handal dan solid.   

  Dengan kerjasama yang terbangun antara unit damkar, pihak Brimob Polda Papua, Polresta Jayapura dan juga PDAM maupun TNI AL serta para relawan yang saling bahu membahu, ketika ada musibah kebakaran membuat upaya penanganan terasa lebih mudah.

Meski demikian, kata Feronita, yang terpenting  adalah bagaimana berupaya agar tidak terjadi kebakaran. Kalaupun ada, pemadamannya lebih cepat. “Ini yang menjadi satu pergumulan kami. Bagaimana mengeliminir dampak terlebih menghindari terjadinya kebakaran,” kata Feronita belum lama ini.

Diakui intensitas kebakaran  akhir dan awal tahun ini cukup tinggi, bahkan bisa terjadi setiap minggu. Dari berbagai catatan musibah yang terjadi maka sudah waktunya Pemkot memperkuat armada atau sarpras.

  Terkait banyaknya angka kebakaran ditambah dengan factor lain yang memperparah penanganan kebakaran, dijelaskan oleh Feronita bahwa saat ini bisa dibilang hampir 80 % gedung, tempat usaha, fasilitas umum, dan perkantoran tidak memenuhi standart proteksi kebakaran.

Baca Juga :  Kopi Papua Belum Mampu Penuhi Permintaan Pasar

Ini berdasar hasil survey yang dilakukan selama ini. “Catatan kami seperti itu, hampir 80% bangunan tidak dilengkapi dengan kelengkapan yang memenuhi sistem proteksi kebakaran gedung dan lingkungan,” jelas Feronita.

Kelengkapan yang dimaksud seperti fire alarm,  sprinkler, hot detector,  system hidran gedung, system hidran lapangan, system rumah pompa atau, jokepump dan diesel pump. “Selain itu yang paling gampang yakni ketersediaan tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR), ketersediaan pintu dan,  tangga  darurat, ketersediaan akses bagi   petugas  damkar, adanya kompartemen, adanya sistem pencahayaan, blower, ketersediaan tangga yang   sesuai ketentuan mengenai lebar bordes,   kelandaian maupun tinggi dan   lebar  anak tangga,” beber Feronita.

  Ini yang dibilang kerap diabaikan, sehingga ketika terjadi kebakaran maka petugas semakin sulit untuk memadamkan dan kerugian semakin besar.  “Jika ada APAR,  maka upaya pemadaman awal bisa langsung dilakukan tapi jika tidak berarti disiram manual. Kami berharap masyarakat memahami ini,” tambahnya.

Kembali ia menyinggung bahwa banyak bangunan bertumbuh, namun tidak dalam kondisi yang dapat menjamin keselamatan  dari bahaya kebakaran. Bahkan terkadang dijumpai beberapa perlengkapan Damkar yg tersedia namun tidak  dapat difungsikan.

   “Misal tabung APAR nya ada, namun tidak dapat digunakan karena sudah kedaluwarsa dari masa pakai, tapi lebih banyak yang sama sekali tidak menyediakan tabung APAR,” singgung Feronita.

  Ada juga tersedia hidran, namun tidak terkoneksi dengan sumber air lalu tidak tersedianya  fire alarm hingga petunjuk   jalur evakuasi. “Juga pintu darurat yang tidak sesuai dengan bahan yang disyaratkan. Lalu pencahayaan yang tidak baik dan ini juga sering kami jumpai,” sambungnya.

Yang disampaikan Kabid Damkar ini, bukan tanpa bukti, tetapi ia memaparkan beberapa lokasi yang memiliki kekurangan saat pihaknya berupaya melakukan pemadaman.

Baca Juga :  Akan Pasang CCTV dan Hydrant  di Lingkungan Kantor

“Poin – poin di atas itu yang kami temukan mulai dari ruko Rizky di jalan baru dimana karena tidak memiliki tangga dan pintu darurat serta akses bagi pemadam serta  tidak tersedia hidran bahkan APAR pun tidak tersedia,” tulis Feronita.

Selain itu system fire alarm dan hot detector tidak tersedia sehingga tidak diketahui sedari awal oleh pemilik atau pengelola gedung. Contoh berikut di Mall Jayapura, yang nyaris terbakar hebat karena sistem rumah pompa tidak berfungsi.

  Kemudian deretan Ruko Bless Fashion di depan Gereja Katolik Gembala Baik Abepura. Disini kata Feronita, tidak tersedia fire alarm, tidak tersedianya akses bagi pemadam, tidak tersedia APAR, sistem pencahayaan dan blower termasuk tangga  atau pintu darurat.

“Ini tentunya cukup kami sayangkan, sebab Jayapura merupakan kota jasa, dimana seluruh aktivitas yang ditawarkan kepada masyarakat adalah dominan pelayanan jasa, namun ini tidak berbanding lurus dengan adanya jaminan keamanan bagi masyarakat sebagai pengguna jasa tersebut,” ucap Feronita.

  Mirisnya lagi banyak hotel yang tidak memenuhi syarat dalam hal sistem proteksi kebakaran. Selain itu pusat permainan anak, layanan lembaga pendidikan, rumah makan, restoran bahkan cafe yang kian menjamur ternyata sangat tidak safety bagi masyarakat.

Feronita juga mengulas sekilas terkait musibah kebakaran tanggal 7 Januari yang terjadi di delapan titik. Ia mengaku sempat kewalahan karena waktu kejadian hanya selang beberapa menit dan armada juga terbatas. Ia menyimpulkan bahwa perlu sinergitas dan saling mensuport ketika terjadi musibah serta menjauhi bentuk saling menyalahkan.

Selain  itu armada kebakaran dikatakan perlu ditambah. “Dengan luasan kota yang menurut kami cukup luas, kami pikir setiap distrik perlu diperkuat dengan mobil damkar. Ini penting untuk menjawab penanganan awal sebelum datang bantuan,” imbuhnya. (*/tri)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari Cenderawasihpos.jawapos.com 

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Mencermati Kondisi Terkini Penanganan Kebakaran di Kota Jayapura

Intensitas kebakaran di Jayapura tak bisa dianggap remeh. Hampir setiap bulan selalu saja terjadi kebakaran. Bahkan, diawal tahun ini saja sudah belasan kasus kebakaran terjadi.  Pemkot harus berbenah sebab kota semakin padat.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Jayapura menjadi satu daerah tujuan yang semakin padat penduduknya. Dengan kepadatan penduduk ternyata berbanding lurus dengan kompleksitas persoalan. Tak hanya yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu sampah dan banjir, tetapi juga persoalan sosial.

Yang lagi marak adalah masalah kebakaran yang terbilang intensitasnya cukup tinggi. Pasalnya hampir setiap bulan ada saja bangunan yang terbakar. Untuk penanganannya jika akses bisa dijangkau tentu tidak susah, namun jika di lokasi padat penduduk ditambah dengan akses yang sempit plus warga yang datang hanya untuk menyaksikan dan membuat siaran langsung tentunya lebih menyulitkan petugas.

Jika itu tak segera disikapi pemerintah, maka jumlah kerugian yang muncul akan jauh lebih besar. Untungnya menurut Kabid Damkar Kota Jayapura, Feronita S Kirana selama ini penanganan kebakaran di Jayapura bisa dibilang cukup handal dan solid.   

  Dengan kerjasama yang terbangun antara unit damkar, pihak Brimob Polda Papua, Polresta Jayapura dan juga PDAM maupun TNI AL serta para relawan yang saling bahu membahu, ketika ada musibah kebakaran membuat upaya penanganan terasa lebih mudah.

Meski demikian, kata Feronita, yang terpenting  adalah bagaimana berupaya agar tidak terjadi kebakaran. Kalaupun ada, pemadamannya lebih cepat. “Ini yang menjadi satu pergumulan kami. Bagaimana mengeliminir dampak terlebih menghindari terjadinya kebakaran,” kata Feronita belum lama ini.

Diakui intensitas kebakaran  akhir dan awal tahun ini cukup tinggi, bahkan bisa terjadi setiap minggu. Dari berbagai catatan musibah yang terjadi maka sudah waktunya Pemkot memperkuat armada atau sarpras.

  Terkait banyaknya angka kebakaran ditambah dengan factor lain yang memperparah penanganan kebakaran, dijelaskan oleh Feronita bahwa saat ini bisa dibilang hampir 80 % gedung, tempat usaha, fasilitas umum, dan perkantoran tidak memenuhi standart proteksi kebakaran.

Baca Juga :  Persoalan Miras Butuh Kerjasama Semua Pihak

Ini berdasar hasil survey yang dilakukan selama ini. “Catatan kami seperti itu, hampir 80% bangunan tidak dilengkapi dengan kelengkapan yang memenuhi sistem proteksi kebakaran gedung dan lingkungan,” jelas Feronita.

Kelengkapan yang dimaksud seperti fire alarm,  sprinkler, hot detector,  system hidran gedung, system hidran lapangan, system rumah pompa atau, jokepump dan diesel pump. “Selain itu yang paling gampang yakni ketersediaan tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR), ketersediaan pintu dan,  tangga  darurat, ketersediaan akses bagi   petugas  damkar, adanya kompartemen, adanya sistem pencahayaan, blower, ketersediaan tangga yang   sesuai ketentuan mengenai lebar bordes,   kelandaian maupun tinggi dan   lebar  anak tangga,” beber Feronita.

  Ini yang dibilang kerap diabaikan, sehingga ketika terjadi kebakaran maka petugas semakin sulit untuk memadamkan dan kerugian semakin besar.  “Jika ada APAR,  maka upaya pemadaman awal bisa langsung dilakukan tapi jika tidak berarti disiram manual. Kami berharap masyarakat memahami ini,” tambahnya.

Kembali ia menyinggung bahwa banyak bangunan bertumbuh, namun tidak dalam kondisi yang dapat menjamin keselamatan  dari bahaya kebakaran. Bahkan terkadang dijumpai beberapa perlengkapan Damkar yg tersedia namun tidak  dapat difungsikan.

   “Misal tabung APAR nya ada, namun tidak dapat digunakan karena sudah kedaluwarsa dari masa pakai, tapi lebih banyak yang sama sekali tidak menyediakan tabung APAR,” singgung Feronita.

  Ada juga tersedia hidran, namun tidak terkoneksi dengan sumber air lalu tidak tersedianya  fire alarm hingga petunjuk   jalur evakuasi. “Juga pintu darurat yang tidak sesuai dengan bahan yang disyaratkan. Lalu pencahayaan yang tidak baik dan ini juga sering kami jumpai,” sambungnya.

Yang disampaikan Kabid Damkar ini, bukan tanpa bukti, tetapi ia memaparkan beberapa lokasi yang memiliki kekurangan saat pihaknya berupaya melakukan pemadaman.

Baca Juga :  HUT RI, Mitra Honda Jayapura Tawarkan Promo Menarik.

“Poin – poin di atas itu yang kami temukan mulai dari ruko Rizky di jalan baru dimana karena tidak memiliki tangga dan pintu darurat serta akses bagi pemadam serta  tidak tersedia hidran bahkan APAR pun tidak tersedia,” tulis Feronita.

Selain itu system fire alarm dan hot detector tidak tersedia sehingga tidak diketahui sedari awal oleh pemilik atau pengelola gedung. Contoh berikut di Mall Jayapura, yang nyaris terbakar hebat karena sistem rumah pompa tidak berfungsi.

  Kemudian deretan Ruko Bless Fashion di depan Gereja Katolik Gembala Baik Abepura. Disini kata Feronita, tidak tersedia fire alarm, tidak tersedianya akses bagi pemadam, tidak tersedia APAR, sistem pencahayaan dan blower termasuk tangga  atau pintu darurat.

“Ini tentunya cukup kami sayangkan, sebab Jayapura merupakan kota jasa, dimana seluruh aktivitas yang ditawarkan kepada masyarakat adalah dominan pelayanan jasa, namun ini tidak berbanding lurus dengan adanya jaminan keamanan bagi masyarakat sebagai pengguna jasa tersebut,” ucap Feronita.

  Mirisnya lagi banyak hotel yang tidak memenuhi syarat dalam hal sistem proteksi kebakaran. Selain itu pusat permainan anak, layanan lembaga pendidikan, rumah makan, restoran bahkan cafe yang kian menjamur ternyata sangat tidak safety bagi masyarakat.

Feronita juga mengulas sekilas terkait musibah kebakaran tanggal 7 Januari yang terjadi di delapan titik. Ia mengaku sempat kewalahan karena waktu kejadian hanya selang beberapa menit dan armada juga terbatas. Ia menyimpulkan bahwa perlu sinergitas dan saling mensuport ketika terjadi musibah serta menjauhi bentuk saling menyalahkan.

Selain  itu armada kebakaran dikatakan perlu ditambah. “Dengan luasan kota yang menurut kami cukup luas, kami pikir setiap distrik perlu diperkuat dengan mobil damkar. Ini penting untuk menjawab penanganan awal sebelum datang bantuan,” imbuhnya. (*/tri)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari Cenderawasihpos.jawapos.com 

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya