Menurutnya, terlalu berlebihan menteri HAM, Natalius Pigai menyampaikan hal tersebut kepada masyarakat Indonesia terkhususnya di Papua. Namun disatu sisi, aktivis HAM Papua Papua itu berharap ke depannya Indonesia menunjukan keseriusannya sebagai presiden dewan HAM internasional. Artinya tidak hanya melakukan pencitraan tanpa memberikan dampak baik didalam negeri maupun ditingkat internasional.
Hal ini disampaikan Gustaf mengingat tak sedikit kasus pelanggaran HAM di dalam negeri (Indonesia) belum dapat diselesaikan hingga saat ini, beberapa diantaranya, Kasus pelanggaran HAM di Timor Leste, tanjung Priok, Semangi l,ll, Aceh.
Sementara di Papua beberapa kasus pelanggaran HAM berat yang tak kunjung tuntas seperti; Abepura Berdarah, Wamena Berdarah, Biak Berdarah, Paniai Berdarah, Nduga Berdarah, Yahukimo Berdarah, Intan Jaya Berdarah dan berbagai tragedi lainnya.
Ditambahkan lagi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan serta pendoropan Militer yang terus-menerus dilakukan negara di Papua. Selain itu kata Gustaf terpilihnya Indonesia menjadi presiden dewan HAM PBB di tengah kondisi HAM memburuk, baik di domestik maupun internasional.
“Ini ibaratnya sama seperti, kondisi baik tapi luka di dalam dirinya sendiri dia tidak lihat. Berusaha untuk menyembuhkan luka di luar secara global tetapi luka di dalam negeri sendiri dia tidak mampu selesaikan,” sindir Gustaf. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Menurutnya, terlalu berlebihan menteri HAM, Natalius Pigai menyampaikan hal tersebut kepada masyarakat Indonesia terkhususnya di Papua. Namun disatu sisi, aktivis HAM Papua Papua itu berharap ke depannya Indonesia menunjukan keseriusannya sebagai presiden dewan HAM internasional. Artinya tidak hanya melakukan pencitraan tanpa memberikan dampak baik didalam negeri maupun ditingkat internasional.
Hal ini disampaikan Gustaf mengingat tak sedikit kasus pelanggaran HAM di dalam negeri (Indonesia) belum dapat diselesaikan hingga saat ini, beberapa diantaranya, Kasus pelanggaran HAM di Timor Leste, tanjung Priok, Semangi l,ll, Aceh.
Sementara di Papua beberapa kasus pelanggaran HAM berat yang tak kunjung tuntas seperti; Abepura Berdarah, Wamena Berdarah, Biak Berdarah, Paniai Berdarah, Nduga Berdarah, Yahukimo Berdarah, Intan Jaya Berdarah dan berbagai tragedi lainnya.
Ditambahkan lagi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan serta pendoropan Militer yang terus-menerus dilakukan negara di Papua. Selain itu kata Gustaf terpilihnya Indonesia menjadi presiden dewan HAM PBB di tengah kondisi HAM memburuk, baik di domestik maupun internasional.
“Ini ibaratnya sama seperti, kondisi baik tapi luka di dalam dirinya sendiri dia tidak lihat. Berusaha untuk menyembuhkan luka di luar secara global tetapi luka di dalam negeri sendiri dia tidak mampu selesaikan,” sindir Gustaf. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos