Friday, February 6, 2026
25.2 C
Jayapura

Manusia Papua Terancam

Sebagai contoh, kata akademisi Uncen itu bencana alam seperti banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat harusnya menjadi pelajaran bagi para pemimpin di tanah Papua, baik para Gubernur, Para Bupati dan Para Walikota.

“Negara tidak salah melangkah?, dampak jangka panjang mengancam kehidupan manusia dimasa yang akan datang,” tanya Alfred kepada Cenderawasih Pos via telepon, Rabu (17/12).

Jelasnya, optimalisasi potensi alam untuk kepentingan ekonomi saat ini harus dipikirkan dampak ekologis dimasa yang akan datang. Sawit merupakan tanaman dengan sistem perakaran serabut tidak memiliki kemampuan menyimpan air dalam tanah. Berbeda jauh dengan pohon. Disamping itu, tanah yang ditanami sawit secara monokultur juga menurunkan nilai keanekaragaman hayati hutan dan lahan.

Baca Juga :  Laksanakan PDPA, Mapala Uniyap Konsisten Jaga Alam Papua

Indonesia sebagai negara dengan Sumber kekayaan alam hayati tertinggi di dunia harusnya dioptimalkan melalui riset dan pengembangannya guna menghasilkan lebih banyak produk produk nabati yang bernilai ekonomi tinggi.

“Misalkan sebagai sumber ketahanan pangan dan obat-obatan belum banyak kita eksplor. Apakah investasi sawit dapat membuka lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan? Tentu tidak. Masih banyak masyarakat yang miskin diatas kekayaan alamnya,” jelasnya menerangkan.

Oleh karena itu, lanjut Alfred, pemerintah daerah perlu arif dan bijaksana memperhitungkan semua aspek dalam membuka kebun sawit. Pernyataan presiden Prabowo perlu dianalisis secara mendalam oleh para ahli yang berkompeten agar menemukan solusi terbaik.

Baca Juga :  Satu Korban Kapal Terbakar Ditemukan

Persoalan konflik lahan dan kepemilikan lahan di Papua menjadi isu yang sangat sensitif. Untuk itu pemerintah perlu hati hati dalam bersikap ketika ingin berinvestasi sawit di tanah Papua.

“Papua menjadi pulau besar terakhir di Indonesia yang perlu dikelola secara bijaksana agar tidak menimbulkan bencana alam dan bencana kemanusiaan di masa yang akan datang,” tutupnya. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Sebagai contoh, kata akademisi Uncen itu bencana alam seperti banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat harusnya menjadi pelajaran bagi para pemimpin di tanah Papua, baik para Gubernur, Para Bupati dan Para Walikota.

“Negara tidak salah melangkah?, dampak jangka panjang mengancam kehidupan manusia dimasa yang akan datang,” tanya Alfred kepada Cenderawasih Pos via telepon, Rabu (17/12).

Jelasnya, optimalisasi potensi alam untuk kepentingan ekonomi saat ini harus dipikirkan dampak ekologis dimasa yang akan datang. Sawit merupakan tanaman dengan sistem perakaran serabut tidak memiliki kemampuan menyimpan air dalam tanah. Berbeda jauh dengan pohon. Disamping itu, tanah yang ditanami sawit secara monokultur juga menurunkan nilai keanekaragaman hayati hutan dan lahan.

Baca Juga :  Sejumlah Wilayah di Papua Berpotensi Banjir

Indonesia sebagai negara dengan Sumber kekayaan alam hayati tertinggi di dunia harusnya dioptimalkan melalui riset dan pengembangannya guna menghasilkan lebih banyak produk produk nabati yang bernilai ekonomi tinggi.

“Misalkan sebagai sumber ketahanan pangan dan obat-obatan belum banyak kita eksplor. Apakah investasi sawit dapat membuka lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan? Tentu tidak. Masih banyak masyarakat yang miskin diatas kekayaan alamnya,” jelasnya menerangkan.

Oleh karena itu, lanjut Alfred, pemerintah daerah perlu arif dan bijaksana memperhitungkan semua aspek dalam membuka kebun sawit. Pernyataan presiden Prabowo perlu dianalisis secara mendalam oleh para ahli yang berkompeten agar menemukan solusi terbaik.

Baca Juga :  1000 Lilin Untuk Irene

Persoalan konflik lahan dan kepemilikan lahan di Papua menjadi isu yang sangat sensitif. Untuk itu pemerintah perlu hati hati dalam bersikap ketika ingin berinvestasi sawit di tanah Papua.

“Papua menjadi pulau besar terakhir di Indonesia yang perlu dikelola secara bijaksana agar tidak menimbulkan bencana alam dan bencana kemanusiaan di masa yang akan datang,” tutupnya. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya