Monday, March 16, 2026
27.5 C
Jayapura

Sistem Keamanan Freeport Dipertanyakan

Apalagi, menurutnya, kawasan inti tambang memiliki pengawasan ketat mulai dari petugas keamanan internal perusahaan hingga pengawasan teknologi seperti kamera pengawas (CCTV), sistem kontrol akses, serta identifikasi pekerja yang masuk dan keluar area tambang.

“Setiap orang yang masuk dan keluar area tambang harus memiliki izin dan kartu akses khusus. Karena itu kalau sistem ini bisa ditembus, tentu menjadi pertanyaan besar,” ujarnya.

Anthon yang pernah bekerja di PT Freeport Indonesia selama sekitar 15 tahun dan pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan Freeport di Jayapura mengaku merasa sedih mendengar kejadian tersebut.

Menurutnya, PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia dan juga menjadi sumber pendapatan negara yang sangat penting dari sektor pertambangan. Karena itu, keamanan di kawasan tersebut seharusnya menjadi prioritas utama negara.

Baca Juga :  KPU Kabupaten Mimika Siap Terima Pendaftaran Paslon

“Freeport ini objek vital nasional. Kalau setiap kali terjadi penembakan di area itu, maka kita patut mempertanyakan sistem pengamanan yang selama ini dilakukan oleh aparat negara,” tegasnya. Ia juga menilai peristiwa seperti ini dapat berdampak serius terhadap operasional perusahaan jika tidak segera ditangani dengan serius.

“Kalau kejadian seperti ini terus terjadi, tentu akan sangat mengganggu operasional perusahaan. Ini juga berbahaya bagi keamanan para pekerja di sana,” katanya.

Selain itu, Anthon juga mempertanyakan peran dan kinerja intelijen di kawasan tersebut. Seharusnya potensi ancaman dapat dideteksi lebih awal. “Ini juga menjadi pertanyaan besar, bagaimana mungkin orang tak dikenal bisa masuk ke area yang begitu vital. Artinya ada yang tidak berjalan dalam sistem pengamanan, termasuk tugas intelijen di wilayah itu,” ujarnya.

Baca Juga :  945 Usulan Musrembang Distrik Diselaraskan Dengan Program OPD di Mimika 

Apalagi, menurutnya, kawasan inti tambang memiliki pengawasan ketat mulai dari petugas keamanan internal perusahaan hingga pengawasan teknologi seperti kamera pengawas (CCTV), sistem kontrol akses, serta identifikasi pekerja yang masuk dan keluar area tambang.

“Setiap orang yang masuk dan keluar area tambang harus memiliki izin dan kartu akses khusus. Karena itu kalau sistem ini bisa ditembus, tentu menjadi pertanyaan besar,” ujarnya.

Anthon yang pernah bekerja di PT Freeport Indonesia selama sekitar 15 tahun dan pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan Freeport di Jayapura mengaku merasa sedih mendengar kejadian tersebut.

Menurutnya, PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia dan juga menjadi sumber pendapatan negara yang sangat penting dari sektor pertambangan. Karena itu, keamanan di kawasan tersebut seharusnya menjadi prioritas utama negara.

Baca Juga :  Pimpin Apel, Wabup Mimika Singgung Istilah “Asal Bapak Senang”

“Freeport ini objek vital nasional. Kalau setiap kali terjadi penembakan di area itu, maka kita patut mempertanyakan sistem pengamanan yang selama ini dilakukan oleh aparat negara,” tegasnya. Ia juga menilai peristiwa seperti ini dapat berdampak serius terhadap operasional perusahaan jika tidak segera ditangani dengan serius.

“Kalau kejadian seperti ini terus terjadi, tentu akan sangat mengganggu operasional perusahaan. Ini juga berbahaya bagi keamanan para pekerja di sana,” katanya.

Selain itu, Anthon juga mempertanyakan peran dan kinerja intelijen di kawasan tersebut. Seharusnya potensi ancaman dapat dideteksi lebih awal. “Ini juga menjadi pertanyaan besar, bagaimana mungkin orang tak dikenal bisa masuk ke area yang begitu vital. Artinya ada yang tidak berjalan dalam sistem pengamanan, termasuk tugas intelijen di wilayah itu,” ujarnya.

Baca Juga :  Pastor Jhon Jonga: MBG Baiknya Libatkan Sekolah Atau Orang Tua

Berita Terbaru

Artikel Lainnya