alexametrics
24.7 C
Jayapura
Sunday, July 3, 2022

JAD Bekasi Dibalik Penusukan Wiranto

HERMAN/RADAR BANTEN GARIS POLISI: Kontrakan Usep tempat tinggal kedua tersangka penusukan Menko Polhukam di garis polisi, di Kampung Sawah, Desa Menes, Kecamatan Menes, Kamis (10/10) sore.

JAKARTA-Kelompok teroris Jamaah Ansharut Dulah (JAD) memang harus ditumpas hingga ke akarnya. Pelaku penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto, Sayhril Alamsyah telah dipastikan terafiliasi dengan kelompok JAD, khususnya Bekasi.

Penusukan terhadap Wiranto terjadi pukul 11.55. Saat Wiranto turun dari mobilnya, dua ajudannya telah berada di samping kiri dan kanan. Kapolsek Menes Kompol Dariyanto juga telah berada di samping Wiranto.

Pelaku menyerobot masuk dari belakang mobil, lantas menusuk mantan Panglima TNI tersebut sebanyak dua kali. Semua orang di sekitarnya coba melindungi Wiranto. Pelaku lantas menyerang secara brutal, melukai tiga orang lain, yakni Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, Staf Kemenkopolhukam Fuad Sauki dan seorang ajudan Danrem. 

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Menkopolhukam terluka di bagian perut kiri. Terdapat dua luka karena tusukan tersebut. ”Kondisinya diharapkan stabil,” paparnya. 

Lalu, untuk kapolsek mengalami luka di bagian punggung. Luka itu dialami saat mencoba menghalangi tusukan pelaku ke arah Wiranto. ”Makanya luka di punggung, menghalangi agar tidak tertusuk lagi,” jelasnya. 

Untuk dua korban lainnya, Dedi belum bisa mengkonfirmasi kepastiannya. Dedi menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima informasi bahwa korbannya dua. ”Kalau korban lainnya, mungkin ada,” tuturnya. 

Pelaku penusukan setelah diamankan, langsung dilakukan pemeriksaan. Hasilnya, diduga kuat terafiliasi dengan JAD Bekasi. Pelaku bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara, yang direkrut oleh Abu Zee, amir JAD Bekasi. ”Sudah kuat dugaannya ke JAD,” ungkapnya. 

Lalu, ada seorang perempuan yang berinisial FA yang juga diamankan. Dedi menuturkan bahwa FA ini berada di dekat pelaku penusukan tersebut. ”Kemungkinan besar ada hubungan tertentu, entah keluarga atau bagaimana,” paparnya. 

Diketahui, Abu Zee sendiri telah tertangkap 8 Mei 2019 lalu, karena merencanakan aksi teror. Selain itu, Abu Zee diketahui juga sebagai penyandang dana kelompok tersebut. Informasi yang diterima Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos), Abu Zee ini yang menikahkan Syahril Alamsyah dengan FA alias Fitri.

Apakah masih ada anggota JAD yang masih membahayakan? Dedi menjelaskan bahwa Densus 88 Anti Teror bekerja keras untuk mendeteksi anggota kelompok tersebut. Sehingga, siapapun anggotanya yang masih terapapar paham terorisme akan diproses hukum. ”Tentu dideteksi terus,” jelasnya. 

Setelah dirawat di RSUD Pandeglang, Wiranto lantas dibawa ke Jakarta untuk dirawat di RSPAD. setibanya Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Presiden Joko Widodo langsung memantau kondisinya. Usai bertemu Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi menemui Wiranto. Dia ditemani Kepala BIN Budi Gunawan, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, Mensos Agus Gumiwang, dan Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin.

Usai menjenguk, Jokowi mengatakan Wiranto dirawat dalam kondisi stabil dan sadar. Namun, masih dalam perawatan tim dokter RSPAD. “Masih dalam penanganan oleh tim dokter di RSPAD dalam proses operasi,” ujarnya.

Terkait penanganan kepada pelaku, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BIN Budi Gunawan yang didukung TNI untuk melakukan pengusutan. Bukan hanya sebatas pelaku, namun juga jaringan terorisme yang terkait aksi tersebut. “Jaringan ini harus dikejar dan dituntaskan, diselesaikan,” imbuhnya.

Selain itu, untuk memaksimalkan keselamatan para pembantunya di kabinet, Jokowi akan meminta Kapolri untuk meningkatkan pengamanan. Mantan Walikota solo itu tidak merinci, namun dia menekankan harus lebih baik.

Terakhir, kepada masyarakat Jokowi mengajak untuk terus memerangi radikalisme dan terorisme. “Hanya dengan upaya bersama, terorisme dan radikalisme bisa kita selesaikan dan berantas dari negara yang kita cintai,” tuturnya.

Insiden penyerangan terhadap Wiranto sendiri diduga berkaitan dengan kelompok terorisme. Meskipun belum dipastikan lewat pemeriksaan mendalam, namun Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menegaskan siap mendampingi korban terkait pengungkapan jaringan tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto. Dia menjelaskan Wiranto dalam kondisi baik. ’’Insyallah dokter di sini sangat berpengalaman,’’ katanya. Wiranto dioperasi untuk proses penyembuhan.

Terkait dengan pengawasan atau pengawalan Menteri, JK mengatakan sudah ada prosedurnya. Pengawalan dilakukan oleh peronel kepolisian. Dia menuturkan kasus yang menimpa Wiranto benar-benar tidak disangka. ’’Ini (kasus, Red) pertama kali. Ada orang yang memang mencederai pejabat dengan tikaman,’’ jelas politisi senior Partai Golkar itu.

Menurut JK kasus yang menimpa Wiranto jelas akan menjadi bahan evaluasi. Dia mengatakan bahwa di Indonesia kelompok radikal itu masih ada. Masih berkeliaran.

Baca Juga :  Lima KKB Bercokol di Intan Jaya

Namun JK menuturkan kasus ini tidak memengaruhi pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. JK mendoakan supaya Wiranto selesai menjalani operasi bisa segera pulih kembali. JK menuturkan ketika dia menjenguk posisi Wiranto masih di kamar operasi. Dia meminta masyarakat ikut mendoakan penanganan medis Wiranto.

Menteri Kominfo Rudiantara tidak mau berandai-andai bahwa pelaku penikaman ke Wiranto imbas dari kebebasan internet. ’’Saya tidak mau berspekulasi,’’ katanya usai mendampingi JK dalam proses topping off Gedung Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta. Dia menegaskan ada lembaga yang lebih berwenang dari pada Kementerian Kominfo untuk melakukan analisi kasus itu.

Terkait dengan pengamanan dirinya selaku Menteri, Rudiantara menuturkan jika pengamanan terlalu ketat nanti dianggap tidak mau dekat dengan rakyat. Sebaliknya jika pengamanan terlalu longgar, terjadi kasus yang tidak diinginkan. Apakah dia lantas menjadi was-was, Rudiantara mengatakan yang pasti was-was adalah teman-teman ajudan. Dia menegaskan kasus penikaman itu adalah kasus yang tidak manusiawi.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengutuk keras penyerangakan terhadap Wiranto di alun-alun Menes, Pandeglang itu. Menurut Zainut, apapun alasannya tindakan brutal seperti itu tidak bisa ditoleransi. ’’Ajaran agama manapun tidak membenarkan tindakan kekerasan, menebar ketakutan, dan mencelakai orang yang tidak berdosa. Apalagi sampai membunuh,’’ tuturnya.

Zainut mengatakan MUI menduga pelaku kasus itu anggota dari jaringan terorisme yang masih beroperasi di Indonesia. Dugaan ini menyadarkan masyarakat bahwa gerakan paham radikal dan terorisme masih aktif di Indonesia. Sehingga menuntut kewaspadaan bersama. MUI meminta polisi untuk mengusut kasus ini sampai tutas dan ditemukan motifnya. 

Kepala LPSK Hasto Atmodjo menjelaskan saat ini pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian dan menunggu ekspos hasil penyelidikan. “Kami masih menunggu ekspos apakah kasus penyerangan terhadap Menkopolhukam dikategorikan sebagai serangan terorisme,” terang Hasto kemarin (10/10).

Dia menyayangkan penyerangan yang ternyata sampai menargetkan pejabat sehingga perlu diusut tuntas karena juga berbahaya bagi masyarakat biasa. Menurutnya, cara-cara kekerasan seharusnya tidak terjadi karena sudah ada hukum yang berlaku untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan kekerasan itu sendiri justru akan menambah korban jiwa. 

Wiranto sendiri selamat dan dibawa ke RSPAD. Sementara kapolsek yang berjaga ditemukan terluka di bagian punggung. “Kalau nantinya perbuatan pelaku penusukan dikategorikan terorisme, LPSK siap melindungi dan memenuhi hak-hak korban,” lanjutnya. 

Pelaku penikaman Menkopohukam, Wiranto ternyata pernah berdomisili di Jalan Alfakah VI, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.

Pelalu diketahui bernama Syahrial Alamsyah alias Abu Rara (31) selama menetap di Medan punya kemahiran mengoperasikam komputer. Dalam kèsehariannya, pria yang akrab disapa Alam ini jarang bergaul dan rajin beribadah ke Musala yang berada tidak jauh dari rumahnya.

“Saya tahu sekali, dia sering kami panggil Alam. Sebelum rumahnya digusur kena pembebasan tol, dia (Alam) sehari – hari pandainya main komputer. Tapi, dia jarang bergaul keluar rumah,” kata Ani warga sekitar.

Selama ini, pria yang telah memiliki 2 orang anak perempuan, ia telah bercerai dengan istrinya yang diduga akibat tidak memiliki pekerjaan menetap. Untuk aktivitas kesehariannya mengikuti jamaah pengajian, warga tidak begitu mengetahui. Namun, pria terduga teroris itu selalu menutup diri di dalam rumah.

“Dulu, sebelum dia (Alam) cerai dengan istrinya, sempat buka mesin judi dindong. Pernah pun digerebek polisi. Setelah itu, kami lihat dia (Alam) memilih untuk menekuni main laptop dan komputer di rumah,” beber warga yang heboh.

Setelah kabar perceraiannya, Alam tinggal bersama dengan 2 orang anaknya. Warga sekitar hanya mengetahui Alam rajin beribadah. Setelah adanya proyek tol pada tahun 2017, Alam tidak lagi tinggal di rumah itu setelah mendapat kompensasi ganti rugi.

“Setelah ganti rugi, kami tidak tahu ke mana si Alam pindah. Baru tahu kalau dia (Alam) ternyata pelaku penikaman Wiranto. Yang jelas, selama ini si Alam orangnya pendiam dan tertutup, kami benar – benar tidak menyangka,” celoteh warga di sela – sela kehebohan. 

Pascapenikaman dialami Menkopolhukam, Wiranto. Petugas Polres Pelabuhan Belawan mendatangi rumah kakak ipar pelaku, Risma (54) di Jalan Alfakah V, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kamis (10/10) pukul 14.00 WIB.

Kedatangan polisi dipimpin Kapolsek Medan Labuhan, AKP Edy Safari untuk meminta keterangan terhadap Risma. Tampak dari dalam rumah bercat kuning, wanita mengenakan baju daster warna merah merupakan kakak ipar dari Syahrial Alamsyah alias Abu Rara menjawab seputaran pertanyaan dari polisi.

Baca Juga :  Panglima TNI Beri Kenaikan Pangkat Luar Biasa

Belum diketahui secara percis keterangan yang dimintai, rumah bercat kuning berpagar kuning tak jauh dari rumah pelaku dijaga ketat oleh pihak kepolisian. Suasana kehebohan menyelimuti hilir mudiknya polisi yang silih bergantian mendatangi rumah tersebut.

Pihak kepolisian terus berjaga – jaga belum bisa memberikan awak media untuk mewawancarai wanita berusia 54 tahun tersebut. Sehingga, proses informasi keterangan dari orang terdekat Alam belum bisa dimintai keterangan.

Kepling setempat, Rizaldi membenarkan Risma adalah kakak ipar dari Syahrial Alamsyah alias Abu Rara. Tetapi, suami Risam yang tak lain abang kandung Alam sudah lama meninggal dunia. 

“Selama ini Bu Risma memang tidak pernag komunikasi dengan si Alam. Bahkan, Bu Risma tidak tahu keseharia  si Alam dan telah pindah ke mana. Kejadian ini membuat Bu Risma terkejut, makanya dia (Risma) tidak tahu jauh tentang si Alam,” pungkas Kepling. 

Syahrial Alamsyah alias Abu Rara merupakan pelalu penikaman Menkopolhukam, Wiranto memiliki sosok orang pintar. Sebab, pria kelahiran tahun 1988 ini memiliki tamatan di SMA Negeri 3 Medan dan lulusan S1 dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Dibalik kepintarannya, pria akrab disapa Alam ternyata punya hubungan jauh dengan kerabat saudara dekatnya. Itu terbukti setelah polisi meminta keterangan dengan kakak iparnya, Trisnawati di Jalan Jalan Alfakah V, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli.

Dalam keterangannya, wanita yang akrab disapa Trisna mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan Alam. Pasalnya, sebelum meninggal abang kandungnya, Alam tidak pernah berkunjung ke rumah kakak iparnya tersebut.

Bahkan, Alam yang punya karakter pendiam dan tertutup, ternyata Alam juga tidak melihat jenazah kematian abang kandungnya.

“Saya tidak pernah komunikasi dengan si Alam. Si Alam anak nomor 8 dari 9 bersaudara. Selama ini, saudara mereka tidak tahu entah dimana semua, yang jelas saya sejak dia (Alam) tinggal dekat sini sampai pindah tidak pernah ke rumah. Jadi, komunikasi kami renggang,” cerita Trisna dengan polisi yang mintai keterangan.

Begitu juga dengan keterangan warga, selama ini Alam tidak pernah terlihat mengunjungi rumah Trisna. Alam yang punya kemahiran berbagai bahas asing tidak diduga punya kekerabatan dengan Trisna. “Kami aja tidak tahu, selama ini si Alam itu keluarga Bu Trisna. Yang jelas, si Alam orangnya baik dan dulu memang tinggal di dekat sini,” cetus warga. (fac/idr/far/wa/deb/JPG)

SENTANI-Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah menyiapkan satu pesawat Hercules yang disiagakan di Base OPS Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayawijaya untuk mengangkut para pengungsi yang akan kembali ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Komandan Lanud (Danlanud) Silas Papare, Marsekal Pertama (Marsma) TNI, Tri Bowo Budi Santoso, mengatakan, TNI AU masih menyiapkan satu pesawat Hercules yang akan mengangkut para pengungsi yang ingin kembali ke Wamena.

“Saya mengimbau kepada paguyuban-paguyuban dan posko-posko, apabila ada warganya yang ingin kembali ke Wamena, silakan melapor kepada saya secara langsung atau petugas di Lanud Silas Papare,” ungkapnya kepada wartawan di Base OPS Lanud Silas Papare, Kamis (10/10).

Setelah mendaftar untuk dipulangkan, pihaknya akan meneruskan ke komando atas. “Kalau jumlahnya memadai  dan cukup diatas 50 orang atau kurang lebih 100 orang akan kita usulkan untuk diberangkatkan ke Wamena,” tambahnya.

Sementara itu, sebanyak 87 orang pengungsi Wamena asal Sumatera Utara (Sumut) kembali ke Wamena menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU dari Base OPS dari Lanud Silas Papare, Kamis (10/10).

Danlanud Silas Papare, Tri Bowo mengungkapkan, 87 orang warga paguyuban dari Sumatera Utama yang memilih kembali ke Wamena ini merupakan bagian dari kesadaran mereka sendiri. Untuk kembali ke Wamena, setelah beberapa minggu mengungsi ke Jayapura.

Ditambahkan, mayoritas penerbangan yang dilakukan sorti pertama ke Wamena adalah mengangkut para pengungsi asal Sumut yang kembali ke Wamena.

Tri Bowo berharap dengan adanya kepulangan para pengungsi asal Sumut ke Wamena, maka ini menjadi daya tarik bagi pengungsi dari daerah lainnya yang melakukan eksodus ke Jayapura dan yang sudah pulang ke kampungnya masing-masing, agar bisa kembali lagi ke Wamena. (bet/nat)

HERMAN/RADAR BANTEN GARIS POLISI: Kontrakan Usep tempat tinggal kedua tersangka penusukan Menko Polhukam di garis polisi, di Kampung Sawah, Desa Menes, Kecamatan Menes, Kamis (10/10) sore.

JAKARTA-Kelompok teroris Jamaah Ansharut Dulah (JAD) memang harus ditumpas hingga ke akarnya. Pelaku penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto, Sayhril Alamsyah telah dipastikan terafiliasi dengan kelompok JAD, khususnya Bekasi.

Penusukan terhadap Wiranto terjadi pukul 11.55. Saat Wiranto turun dari mobilnya, dua ajudannya telah berada di samping kiri dan kanan. Kapolsek Menes Kompol Dariyanto juga telah berada di samping Wiranto.

Pelaku menyerobot masuk dari belakang mobil, lantas menusuk mantan Panglima TNI tersebut sebanyak dua kali. Semua orang di sekitarnya coba melindungi Wiranto. Pelaku lantas menyerang secara brutal, melukai tiga orang lain, yakni Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, Staf Kemenkopolhukam Fuad Sauki dan seorang ajudan Danrem. 

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Menkopolhukam terluka di bagian perut kiri. Terdapat dua luka karena tusukan tersebut. ”Kondisinya diharapkan stabil,” paparnya. 

Lalu, untuk kapolsek mengalami luka di bagian punggung. Luka itu dialami saat mencoba menghalangi tusukan pelaku ke arah Wiranto. ”Makanya luka di punggung, menghalangi agar tidak tertusuk lagi,” jelasnya. 

Untuk dua korban lainnya, Dedi belum bisa mengkonfirmasi kepastiannya. Dedi menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima informasi bahwa korbannya dua. ”Kalau korban lainnya, mungkin ada,” tuturnya. 

Pelaku penusukan setelah diamankan, langsung dilakukan pemeriksaan. Hasilnya, diduga kuat terafiliasi dengan JAD Bekasi. Pelaku bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara, yang direkrut oleh Abu Zee, amir JAD Bekasi. ”Sudah kuat dugaannya ke JAD,” ungkapnya. 

Lalu, ada seorang perempuan yang berinisial FA yang juga diamankan. Dedi menuturkan bahwa FA ini berada di dekat pelaku penusukan tersebut. ”Kemungkinan besar ada hubungan tertentu, entah keluarga atau bagaimana,” paparnya. 

Diketahui, Abu Zee sendiri telah tertangkap 8 Mei 2019 lalu, karena merencanakan aksi teror. Selain itu, Abu Zee diketahui juga sebagai penyandang dana kelompok tersebut. Informasi yang diterima Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos), Abu Zee ini yang menikahkan Syahril Alamsyah dengan FA alias Fitri.

Apakah masih ada anggota JAD yang masih membahayakan? Dedi menjelaskan bahwa Densus 88 Anti Teror bekerja keras untuk mendeteksi anggota kelompok tersebut. Sehingga, siapapun anggotanya yang masih terapapar paham terorisme akan diproses hukum. ”Tentu dideteksi terus,” jelasnya. 

Setelah dirawat di RSUD Pandeglang, Wiranto lantas dibawa ke Jakarta untuk dirawat di RSPAD. setibanya Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Presiden Joko Widodo langsung memantau kondisinya. Usai bertemu Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi menemui Wiranto. Dia ditemani Kepala BIN Budi Gunawan, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, Mensos Agus Gumiwang, dan Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin.

Usai menjenguk, Jokowi mengatakan Wiranto dirawat dalam kondisi stabil dan sadar. Namun, masih dalam perawatan tim dokter RSPAD. “Masih dalam penanganan oleh tim dokter di RSPAD dalam proses operasi,” ujarnya.

Terkait penanganan kepada pelaku, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BIN Budi Gunawan yang didukung TNI untuk melakukan pengusutan. Bukan hanya sebatas pelaku, namun juga jaringan terorisme yang terkait aksi tersebut. “Jaringan ini harus dikejar dan dituntaskan, diselesaikan,” imbuhnya.

Selain itu, untuk memaksimalkan keselamatan para pembantunya di kabinet, Jokowi akan meminta Kapolri untuk meningkatkan pengamanan. Mantan Walikota solo itu tidak merinci, namun dia menekankan harus lebih baik.

Terakhir, kepada masyarakat Jokowi mengajak untuk terus memerangi radikalisme dan terorisme. “Hanya dengan upaya bersama, terorisme dan radikalisme bisa kita selesaikan dan berantas dari negara yang kita cintai,” tuturnya.

Insiden penyerangan terhadap Wiranto sendiri diduga berkaitan dengan kelompok terorisme. Meskipun belum dipastikan lewat pemeriksaan mendalam, namun Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menegaskan siap mendampingi korban terkait pengungkapan jaringan tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto. Dia menjelaskan Wiranto dalam kondisi baik. ’’Insyallah dokter di sini sangat berpengalaman,’’ katanya. Wiranto dioperasi untuk proses penyembuhan.

Terkait dengan pengawasan atau pengawalan Menteri, JK mengatakan sudah ada prosedurnya. Pengawalan dilakukan oleh peronel kepolisian. Dia menuturkan kasus yang menimpa Wiranto benar-benar tidak disangka. ’’Ini (kasus, Red) pertama kali. Ada orang yang memang mencederai pejabat dengan tikaman,’’ jelas politisi senior Partai Golkar itu.

Menurut JK kasus yang menimpa Wiranto jelas akan menjadi bahan evaluasi. Dia mengatakan bahwa di Indonesia kelompok radikal itu masih ada. Masih berkeliaran.

Baca Juga :  Tabi-Saireri Rekomendasikan 11 Poin

Namun JK menuturkan kasus ini tidak memengaruhi pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. JK mendoakan supaya Wiranto selesai menjalani operasi bisa segera pulih kembali. JK menuturkan ketika dia menjenguk posisi Wiranto masih di kamar operasi. Dia meminta masyarakat ikut mendoakan penanganan medis Wiranto.

Menteri Kominfo Rudiantara tidak mau berandai-andai bahwa pelaku penikaman ke Wiranto imbas dari kebebasan internet. ’’Saya tidak mau berspekulasi,’’ katanya usai mendampingi JK dalam proses topping off Gedung Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta. Dia menegaskan ada lembaga yang lebih berwenang dari pada Kementerian Kominfo untuk melakukan analisi kasus itu.

Terkait dengan pengamanan dirinya selaku Menteri, Rudiantara menuturkan jika pengamanan terlalu ketat nanti dianggap tidak mau dekat dengan rakyat. Sebaliknya jika pengamanan terlalu longgar, terjadi kasus yang tidak diinginkan. Apakah dia lantas menjadi was-was, Rudiantara mengatakan yang pasti was-was adalah teman-teman ajudan. Dia menegaskan kasus penikaman itu adalah kasus yang tidak manusiawi.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengutuk keras penyerangakan terhadap Wiranto di alun-alun Menes, Pandeglang itu. Menurut Zainut, apapun alasannya tindakan brutal seperti itu tidak bisa ditoleransi. ’’Ajaran agama manapun tidak membenarkan tindakan kekerasan, menebar ketakutan, dan mencelakai orang yang tidak berdosa. Apalagi sampai membunuh,’’ tuturnya.

Zainut mengatakan MUI menduga pelaku kasus itu anggota dari jaringan terorisme yang masih beroperasi di Indonesia. Dugaan ini menyadarkan masyarakat bahwa gerakan paham radikal dan terorisme masih aktif di Indonesia. Sehingga menuntut kewaspadaan bersama. MUI meminta polisi untuk mengusut kasus ini sampai tutas dan ditemukan motifnya. 

Kepala LPSK Hasto Atmodjo menjelaskan saat ini pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian dan menunggu ekspos hasil penyelidikan. “Kami masih menunggu ekspos apakah kasus penyerangan terhadap Menkopolhukam dikategorikan sebagai serangan terorisme,” terang Hasto kemarin (10/10).

Dia menyayangkan penyerangan yang ternyata sampai menargetkan pejabat sehingga perlu diusut tuntas karena juga berbahaya bagi masyarakat biasa. Menurutnya, cara-cara kekerasan seharusnya tidak terjadi karena sudah ada hukum yang berlaku untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan kekerasan itu sendiri justru akan menambah korban jiwa. 

Wiranto sendiri selamat dan dibawa ke RSPAD. Sementara kapolsek yang berjaga ditemukan terluka di bagian punggung. “Kalau nantinya perbuatan pelaku penusukan dikategorikan terorisme, LPSK siap melindungi dan memenuhi hak-hak korban,” lanjutnya. 

Pelaku penikaman Menkopohukam, Wiranto ternyata pernah berdomisili di Jalan Alfakah VI, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.

Pelalu diketahui bernama Syahrial Alamsyah alias Abu Rara (31) selama menetap di Medan punya kemahiran mengoperasikam komputer. Dalam kèsehariannya, pria yang akrab disapa Alam ini jarang bergaul dan rajin beribadah ke Musala yang berada tidak jauh dari rumahnya.

“Saya tahu sekali, dia sering kami panggil Alam. Sebelum rumahnya digusur kena pembebasan tol, dia (Alam) sehari – hari pandainya main komputer. Tapi, dia jarang bergaul keluar rumah,” kata Ani warga sekitar.

Selama ini, pria yang telah memiliki 2 orang anak perempuan, ia telah bercerai dengan istrinya yang diduga akibat tidak memiliki pekerjaan menetap. Untuk aktivitas kesehariannya mengikuti jamaah pengajian, warga tidak begitu mengetahui. Namun, pria terduga teroris itu selalu menutup diri di dalam rumah.

“Dulu, sebelum dia (Alam) cerai dengan istrinya, sempat buka mesin judi dindong. Pernah pun digerebek polisi. Setelah itu, kami lihat dia (Alam) memilih untuk menekuni main laptop dan komputer di rumah,” beber warga yang heboh.

Setelah kabar perceraiannya, Alam tinggal bersama dengan 2 orang anaknya. Warga sekitar hanya mengetahui Alam rajin beribadah. Setelah adanya proyek tol pada tahun 2017, Alam tidak lagi tinggal di rumah itu setelah mendapat kompensasi ganti rugi.

“Setelah ganti rugi, kami tidak tahu ke mana si Alam pindah. Baru tahu kalau dia (Alam) ternyata pelaku penikaman Wiranto. Yang jelas, selama ini si Alam orangnya pendiam dan tertutup, kami benar – benar tidak menyangka,” celoteh warga di sela – sela kehebohan. 

Pascapenikaman dialami Menkopolhukam, Wiranto. Petugas Polres Pelabuhan Belawan mendatangi rumah kakak ipar pelaku, Risma (54) di Jalan Alfakah V, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kamis (10/10) pukul 14.00 WIB.

Kedatangan polisi dipimpin Kapolsek Medan Labuhan, AKP Edy Safari untuk meminta keterangan terhadap Risma. Tampak dari dalam rumah bercat kuning, wanita mengenakan baju daster warna merah merupakan kakak ipar dari Syahrial Alamsyah alias Abu Rara menjawab seputaran pertanyaan dari polisi.

Baca Juga :  Terdampar, Paus Bryde Mati di Perairan Mimika

Belum diketahui secara percis keterangan yang dimintai, rumah bercat kuning berpagar kuning tak jauh dari rumah pelaku dijaga ketat oleh pihak kepolisian. Suasana kehebohan menyelimuti hilir mudiknya polisi yang silih bergantian mendatangi rumah tersebut.

Pihak kepolisian terus berjaga – jaga belum bisa memberikan awak media untuk mewawancarai wanita berusia 54 tahun tersebut. Sehingga, proses informasi keterangan dari orang terdekat Alam belum bisa dimintai keterangan.

Kepling setempat, Rizaldi membenarkan Risma adalah kakak ipar dari Syahrial Alamsyah alias Abu Rara. Tetapi, suami Risam yang tak lain abang kandung Alam sudah lama meninggal dunia. 

“Selama ini Bu Risma memang tidak pernag komunikasi dengan si Alam. Bahkan, Bu Risma tidak tahu keseharia  si Alam dan telah pindah ke mana. Kejadian ini membuat Bu Risma terkejut, makanya dia (Risma) tidak tahu jauh tentang si Alam,” pungkas Kepling. 

Syahrial Alamsyah alias Abu Rara merupakan pelalu penikaman Menkopolhukam, Wiranto memiliki sosok orang pintar. Sebab, pria kelahiran tahun 1988 ini memiliki tamatan di SMA Negeri 3 Medan dan lulusan S1 dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Dibalik kepintarannya, pria akrab disapa Alam ternyata punya hubungan jauh dengan kerabat saudara dekatnya. Itu terbukti setelah polisi meminta keterangan dengan kakak iparnya, Trisnawati di Jalan Jalan Alfakah V, Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli.

Dalam keterangannya, wanita yang akrab disapa Trisna mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan Alam. Pasalnya, sebelum meninggal abang kandungnya, Alam tidak pernah berkunjung ke rumah kakak iparnya tersebut.

Bahkan, Alam yang punya karakter pendiam dan tertutup, ternyata Alam juga tidak melihat jenazah kematian abang kandungnya.

“Saya tidak pernah komunikasi dengan si Alam. Si Alam anak nomor 8 dari 9 bersaudara. Selama ini, saudara mereka tidak tahu entah dimana semua, yang jelas saya sejak dia (Alam) tinggal dekat sini sampai pindah tidak pernah ke rumah. Jadi, komunikasi kami renggang,” cerita Trisna dengan polisi yang mintai keterangan.

Begitu juga dengan keterangan warga, selama ini Alam tidak pernah terlihat mengunjungi rumah Trisna. Alam yang punya kemahiran berbagai bahas asing tidak diduga punya kekerabatan dengan Trisna. “Kami aja tidak tahu, selama ini si Alam itu keluarga Bu Trisna. Yang jelas, si Alam orangnya baik dan dulu memang tinggal di dekat sini,” cetus warga. (fac/idr/far/wa/deb/JPG)

SENTANI-Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah menyiapkan satu pesawat Hercules yang disiagakan di Base OPS Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayawijaya untuk mengangkut para pengungsi yang akan kembali ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Komandan Lanud (Danlanud) Silas Papare, Marsekal Pertama (Marsma) TNI, Tri Bowo Budi Santoso, mengatakan, TNI AU masih menyiapkan satu pesawat Hercules yang akan mengangkut para pengungsi yang ingin kembali ke Wamena.

“Saya mengimbau kepada paguyuban-paguyuban dan posko-posko, apabila ada warganya yang ingin kembali ke Wamena, silakan melapor kepada saya secara langsung atau petugas di Lanud Silas Papare,” ungkapnya kepada wartawan di Base OPS Lanud Silas Papare, Kamis (10/10).

Setelah mendaftar untuk dipulangkan, pihaknya akan meneruskan ke komando atas. “Kalau jumlahnya memadai  dan cukup diatas 50 orang atau kurang lebih 100 orang akan kita usulkan untuk diberangkatkan ke Wamena,” tambahnya.

Sementara itu, sebanyak 87 orang pengungsi Wamena asal Sumatera Utara (Sumut) kembali ke Wamena menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU dari Base OPS dari Lanud Silas Papare, Kamis (10/10).

Danlanud Silas Papare, Tri Bowo mengungkapkan, 87 orang warga paguyuban dari Sumatera Utama yang memilih kembali ke Wamena ini merupakan bagian dari kesadaran mereka sendiri. Untuk kembali ke Wamena, setelah beberapa minggu mengungsi ke Jayapura.

Ditambahkan, mayoritas penerbangan yang dilakukan sorti pertama ke Wamena adalah mengangkut para pengungsi asal Sumut yang kembali ke Wamena.

Tri Bowo berharap dengan adanya kepulangan para pengungsi asal Sumut ke Wamena, maka ini menjadi daya tarik bagi pengungsi dari daerah lainnya yang melakukan eksodus ke Jayapura dan yang sudah pulang ke kampungnya masing-masing, agar bisa kembali lagi ke Wamena. (bet/nat)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/