Wednesday, May 29, 2024
28.7 C
Jayapura

Jayapura Minim Jalur Evakuasi dan Hanya Miliki 1 Alat Sirene

JAYAPURA-Kepala BPBD Papua William Manderi mengeluhkan 1000-an gempa yang melanda Jayapura dan sekitarnya namun hanya memiliki 1 Sirene peringatan dini yang berlokasi di belakang Kantor MR. “Alatnya cuma di situ (belakang Kantor MRP-red) dan hanya satu. Alat itu fungsinya untuk memberikan pesan alarm kepada masyarakat ketika terjadi gempa dengan kapasitas Magnitudo yang lebih besar punya potensi terjadi tsunami, maka alat ini memberikan pesan kepada masyarakat sekitar untuk segera waspada ke tempat yang lebih tinggi untuk bisa berlindung,” ungkap Kepala BPBD Papua William Manderi kepada Cenderawasih Pos, Kamis (9/2). Dan alat itu kata Manderi jarak jangkauannya 3 Km dan sangat minim. Padahal kata Manderi, Jayapura khususnya di pesisir pantai mulai dari Base G hingga daerah Skouw rawan dan Sirene harusnya ada. Menurut Manderi, pihaknya sudah berupaya kerjasama dengan BMKG. Sebab, alat itu hanya ada di BMKG.
Baca Juga :  Koalisi LSM HAM Paniai Berdarah Minta Hakim Berikan Putusan Maksimal
“Beberapa hari lalu sudah dibicarakan dengan Plh Gubernur, mudah mudahan dalam tahun ini kita sudah mendapatkan alat alat ini. Sehingga kita bisa pasang di titik titik yang kita anggap memiliki potensi terjadi gempa, terjadi tsunami atau terjadi apapun yang diakibatkan bencana non alam,” terang Manderi. Manderi berharap, tahun ini sudah ada bantuan sehingga minimal 4 atau 5 titik bisa dilakukan pemasangan Sirene di sepanjang jalur pantai dari Base G hingga Holltekamp. Dengan begitu, masyarakat pesisir mendapat peringatan informasi lebih dulu melalui sirene. Sehingga mereka lebih cepat bergeser ke tempat yang lebih aman. Selain itu, Manderi juga menyebut pentingnya sosialisasi dan simulasi jalur evakuasi ketika kondisi darurat atau terjadi musibah. “Ada beberapa Kampung Tangguh yang sudah dibentuk, melalui kampung tangguh ini kerap dilakukan sosialiasi berkaitan dengan banjir, longsor, dan cuaca ekstrim ataupun gempa bumi. Kami sudah menyampaikan itu ke beberapa kampung dengan harapan mereka bisa memahami dan mengerti untuk bisa mengurangi resiko,” ungkapnya.
Baca Juga :  Derby Papua, Menjaga Peluang
“Di areal pantai, tanda jalur evakuasi itu harus ada. Kami sudah bicarakan dengan BPBD Kota supaya tahun ini alatnya diadakan. Mari sama sama untuk memberikan pesan tanda supaya masyarakat bisa tahu,” kata Manderi. Dikatakan Manderi, di gedung gedung pemerintahan jalur evakuasi itu pasti sudah ada. Tetapi perlu ada pelatihan atau sosialisasi yang rutin dilaukan, sehingga mereka yang melakukan ini sudah siap ketika terjadi gempa atau kebakaran. Sementara itu, Plh Gubernur Papua M Ridwan Rumasukun menyatakan, terkait dengan gempa yang masih terus terjadi di Jayapura untuk mitigasi sendiri akan ditindak lanjuti. “Kita akan segera tempatkan Sirene di wilayah sepanjang sini (perairan Kota Jayapura-red). Selain itu akan menempatkan Sirene juga di Saireri, Biak, Serui dan lainnya,” pungkasnya. (eri/fia/wen)
JAYAPURA-Kepala BPBD Papua William Manderi mengeluhkan 1000-an gempa yang melanda Jayapura dan sekitarnya namun hanya memiliki 1 Sirene peringatan dini yang berlokasi di belakang Kantor MR. “Alatnya cuma di situ (belakang Kantor MRP-red) dan hanya satu. Alat itu fungsinya untuk memberikan pesan alarm kepada masyarakat ketika terjadi gempa dengan kapasitas Magnitudo yang lebih besar punya potensi terjadi tsunami, maka alat ini memberikan pesan kepada masyarakat sekitar untuk segera waspada ke tempat yang lebih tinggi untuk bisa berlindung,” ungkap Kepala BPBD Papua William Manderi kepada Cenderawasih Pos, Kamis (9/2). Dan alat itu kata Manderi jarak jangkauannya 3 Km dan sangat minim. Padahal kata Manderi, Jayapura khususnya di pesisir pantai mulai dari Base G hingga daerah Skouw rawan dan Sirene harusnya ada. Menurut Manderi, pihaknya sudah berupaya kerjasama dengan BMKG. Sebab, alat itu hanya ada di BMKG.
Baca Juga :  Jam Malam Diberlakukan, Batas Kota Ditutup
“Beberapa hari lalu sudah dibicarakan dengan Plh Gubernur, mudah mudahan dalam tahun ini kita sudah mendapatkan alat alat ini. Sehingga kita bisa pasang di titik titik yang kita anggap memiliki potensi terjadi gempa, terjadi tsunami atau terjadi apapun yang diakibatkan bencana non alam,” terang Manderi. Manderi berharap, tahun ini sudah ada bantuan sehingga minimal 4 atau 5 titik bisa dilakukan pemasangan Sirene di sepanjang jalur pantai dari Base G hingga Holltekamp. Dengan begitu, masyarakat pesisir mendapat peringatan informasi lebih dulu melalui sirene. Sehingga mereka lebih cepat bergeser ke tempat yang lebih aman. Selain itu, Manderi juga menyebut pentingnya sosialisasi dan simulasi jalur evakuasi ketika kondisi darurat atau terjadi musibah. “Ada beberapa Kampung Tangguh yang sudah dibentuk, melalui kampung tangguh ini kerap dilakukan sosialiasi berkaitan dengan banjir, longsor, dan cuaca ekstrim ataupun gempa bumi. Kami sudah menyampaikan itu ke beberapa kampung dengan harapan mereka bisa memahami dan mengerti untuk bisa mengurangi resiko,” ungkapnya.
Baca Juga :  Giliran  KPU Yahukimo Diserang Massa Pendukung Caleg
“Di areal pantai, tanda jalur evakuasi itu harus ada. Kami sudah bicarakan dengan BPBD Kota supaya tahun ini alatnya diadakan. Mari sama sama untuk memberikan pesan tanda supaya masyarakat bisa tahu,” kata Manderi. Dikatakan Manderi, di gedung gedung pemerintahan jalur evakuasi itu pasti sudah ada. Tetapi perlu ada pelatihan atau sosialisasi yang rutin dilaukan, sehingga mereka yang melakukan ini sudah siap ketika terjadi gempa atau kebakaran. Sementara itu, Plh Gubernur Papua M Ridwan Rumasukun menyatakan, terkait dengan gempa yang masih terus terjadi di Jayapura untuk mitigasi sendiri akan ditindak lanjuti. “Kita akan segera tempatkan Sirene di wilayah sepanjang sini (perairan Kota Jayapura-red). Selain itu akan menempatkan Sirene juga di Saireri, Biak, Serui dan lainnya,” pungkasnya. (eri/fia/wen)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya