alexametrics
36.7 C
Jayapura
Saturday, July 2, 2022

Kerugian Konflik di Puncak Capai Rp 50 M

TINJAU LOKASI: Bupati Puncak Willem Wandik saat meninjau lokasi kebakaran di Ilaga, Kabupaten Puncak, Selasa (8/10) ( FOTO : Diskominfo Puncak for Cepos)

JAYAPURA-Bupati Puncak Willem Wandik menyebutkan, dampak kerugian dari aksi kontak senjata antara kelompok bersenjata dan aparat TNI-Polri yang berujung pada pembakaran gedung sekolah, rumah warga yang ada di Ilaga, September lalu mencapai Rp 50 Miliar.

Bupati Willem Wandik telah turun langsung ke lapangan memantau gedung SD dan belasan rumah warga yang dibakar di kampung Kimak dan Tagaloa, Kampung Kalebur, Distrik Ilaga yang dibakar oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat aksi kontak tembak.

“Khusus untuk gedung SD dan rumah warga di Distrik Ilaga yang dibakar oleh KKB terdiri atas gedung SD Inpres Tagaloa terdiri atas enam ruang kelas, satu ruang perpustakaan, dan lima unit rumah guru serta satu kantor kepala sekolah,” ungkap Bupati Willem Wandik dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Selasa (8/10). 

Sementara rumah warga mencapai 17 unit rumah yang dibakar sekaligus dijarah isinya. Hampir rata-rata rumah warga ini memiliki kios. 

Sedangkan kejadian di Distrik Gome, ada beberapa honai milik warga juga terbakar Agustus lalu. Hal ini dampak dari operasi penegakan hukum terhadap KKB di wilayah Gome oleh tim gabungan TNI-Polri.

Baca Juga :  Diduga Diperkosa, Tukang Pijat Tewas di Rumah Kontrakannya

“Yang utama adalah negara tetap ada di sini (Puncak-red). Kami butuh shearing dana antara kabupaten, provinsi dan pusat untuk membantu kita keluar dari perosoalan ini. Terutama untuk membangung kembali rumah yang sudah terbakar ini,” tutur Bupati.

Dirinya menyayangkan aksi dari KKB yang membakar gedung sekolah. Sebab baginya sekolah harusnya dijaga. Karena lewat sekolah dapat mendidik anak- anak generasi Kabupaten Puncak masa depan Puncak ada melalui sekolah.

“Perjuangan model apa ini, harusnya sekolah dijaga. Ini tempat mendidik generasi masa depan Puncak. Saya harap ini kejadian yang pertama dan terakhir di Puncak,”tegasnya.

SD Inpres Tegaloa lanjut Bupati Willem Wandik merupakan SD rujukan terbaik di Puncak yang merintis lahirnya generasi emas Puncak. Sayangnya sekolah tersebut malah dibakar. 

Oleh sebab itu, untuk sementara anak-anak sekolah akan dipindahkan sementara ke gedung sekolah di dalan kota sambil menunggu pembangunan gedung yang baru.

Baca Juga :  Partai Demokrat di Papua Tetap Solid, Jaya dan Bangkit

Sementara itu, kepala sekolah SD Inpres Tagaloa, Yance Kogoya mengaku sedih. Karena sekolah yang dipimpinnya tersebut merupakan sekolah rujukan terbaik di Kabupaten Puncak dan memiliki 300 lebih murid terhitung dari Kelas 1-6.

Dikatakan, saat ini anak kelas enam yang berjumlah 21 murid sementara sedang menyiapkan diri untuk memasuki ujian nasional 2020, terpaksa tidak bisa sekolah dengan baik lagi karena gedung sekolah sudah terbakar.

“Saya sedih sekali, anak-anak murid jadi korban. Teman-teman guru jadi takut ada yang mengungsi ke Timika, terpaksa sekolah kami kasih libur sementara sampai kondisi benar benar kondusif baru kami lanjutkan sekolah,”ungkapnya.

Pihaknya masih koordinasi dengan Dinas Pendidikan sehingga mendapatkan solusi. Sementara sekolah gabung ke SD lain atau seperti apa, sebab yang diinginkan proses pendidikan kembali jalan seperti semula. (fia/nat)

TINJAU LOKASI: Bupati Puncak Willem Wandik saat meninjau lokasi kebakaran di Ilaga, Kabupaten Puncak, Selasa (8/10) ( FOTO : Diskominfo Puncak for Cepos)

JAYAPURA-Bupati Puncak Willem Wandik menyebutkan, dampak kerugian dari aksi kontak senjata antara kelompok bersenjata dan aparat TNI-Polri yang berujung pada pembakaran gedung sekolah, rumah warga yang ada di Ilaga, September lalu mencapai Rp 50 Miliar.

Bupati Willem Wandik telah turun langsung ke lapangan memantau gedung SD dan belasan rumah warga yang dibakar di kampung Kimak dan Tagaloa, Kampung Kalebur, Distrik Ilaga yang dibakar oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat aksi kontak tembak.

“Khusus untuk gedung SD dan rumah warga di Distrik Ilaga yang dibakar oleh KKB terdiri atas gedung SD Inpres Tagaloa terdiri atas enam ruang kelas, satu ruang perpustakaan, dan lima unit rumah guru serta satu kantor kepala sekolah,” ungkap Bupati Willem Wandik dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Selasa (8/10). 

Sementara rumah warga mencapai 17 unit rumah yang dibakar sekaligus dijarah isinya. Hampir rata-rata rumah warga ini memiliki kios. 

Sedangkan kejadian di Distrik Gome, ada beberapa honai milik warga juga terbakar Agustus lalu. Hal ini dampak dari operasi penegakan hukum terhadap KKB di wilayah Gome oleh tim gabungan TNI-Polri.

Baca Juga :  Target Juara Umum

“Yang utama adalah negara tetap ada di sini (Puncak-red). Kami butuh shearing dana antara kabupaten, provinsi dan pusat untuk membantu kita keluar dari perosoalan ini. Terutama untuk membangung kembali rumah yang sudah terbakar ini,” tutur Bupati.

Dirinya menyayangkan aksi dari KKB yang membakar gedung sekolah. Sebab baginya sekolah harusnya dijaga. Karena lewat sekolah dapat mendidik anak- anak generasi Kabupaten Puncak masa depan Puncak ada melalui sekolah.

“Perjuangan model apa ini, harusnya sekolah dijaga. Ini tempat mendidik generasi masa depan Puncak. Saya harap ini kejadian yang pertama dan terakhir di Puncak,”tegasnya.

SD Inpres Tegaloa lanjut Bupati Willem Wandik merupakan SD rujukan terbaik di Puncak yang merintis lahirnya generasi emas Puncak. Sayangnya sekolah tersebut malah dibakar. 

Oleh sebab itu, untuk sementara anak-anak sekolah akan dipindahkan sementara ke gedung sekolah di dalan kota sambil menunggu pembangunan gedung yang baru.

Baca Juga :  Kabupaten Puncak Raih Opini WDP

Sementara itu, kepala sekolah SD Inpres Tagaloa, Yance Kogoya mengaku sedih. Karena sekolah yang dipimpinnya tersebut merupakan sekolah rujukan terbaik di Kabupaten Puncak dan memiliki 300 lebih murid terhitung dari Kelas 1-6.

Dikatakan, saat ini anak kelas enam yang berjumlah 21 murid sementara sedang menyiapkan diri untuk memasuki ujian nasional 2020, terpaksa tidak bisa sekolah dengan baik lagi karena gedung sekolah sudah terbakar.

“Saya sedih sekali, anak-anak murid jadi korban. Teman-teman guru jadi takut ada yang mengungsi ke Timika, terpaksa sekolah kami kasih libur sementara sampai kondisi benar benar kondusif baru kami lanjutkan sekolah,”ungkapnya.

Pihaknya masih koordinasi dengan Dinas Pendidikan sehingga mendapatkan solusi. Sementara sekolah gabung ke SD lain atau seperti apa, sebab yang diinginkan proses pendidikan kembali jalan seperti semula. (fia/nat)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/