Sudut Pandang Akademisi Terkait Tingginya Pengangguran
JAYAPURA–Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Provinsi Papua mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Papua berada pada angka 6,92 persen atau sekitar 32 ribu orang yang belum memiliki pekerjaan. Pengamat Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen), Mesak Iek, menilai tingginya angka pengangguran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pendidikan, migrasi penduduk, hingga minimnya investasi dan stagnasi penyerapan tenaga kerja.
Menurut Mesak, karakteristik pengangguran di Papua berbeda-beda berdasarkan tingkat pendidikan. Lulusan perguruan tinggi, khususnya sarjana, cenderung memilih pekerjaan di sektor formal dan enggan masuk ke sektor informal.
“Pengangguran ini ada dari tingkat SD sampai sarjana. Kalau kita lihat karakteristiknya, sarjana lebih banyak memilih pekerjaan di sektor formal dan agak enggan masuk ke sektor informal,” ujarnya, melalui sambungan telepon, Rabu (7/1).
Berbeda dengan lulusan SLTA ke bawah atau SMP, yang menurutnya lebih fleksibel dan bersedia bekerja di sektor informal selama ada peluang kerja. Selain faktor pendidikan, Mesak juga menyoroti kemungkinan pengangguran akibat arus migrasi.
Sudut Pandang Akademisi Terkait Tingginya Pengangguran
JAYAPURA–Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Provinsi Papua mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Papua berada pada angka 6,92 persen atau sekitar 32 ribu orang yang belum memiliki pekerjaan. Pengamat Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen), Mesak Iek, menilai tingginya angka pengangguran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pendidikan, migrasi penduduk, hingga minimnya investasi dan stagnasi penyerapan tenaga kerja.
Menurut Mesak, karakteristik pengangguran di Papua berbeda-beda berdasarkan tingkat pendidikan. Lulusan perguruan tinggi, khususnya sarjana, cenderung memilih pekerjaan di sektor formal dan enggan masuk ke sektor informal.
“Pengangguran ini ada dari tingkat SD sampai sarjana. Kalau kita lihat karakteristiknya, sarjana lebih banyak memilih pekerjaan di sektor formal dan agak enggan masuk ke sektor informal,” ujarnya, melalui sambungan telepon, Rabu (7/1).
Berbeda dengan lulusan SLTA ke bawah atau SMP, yang menurutnya lebih fleksibel dan bersedia bekerja di sektor informal selama ada peluang kerja. Selain faktor pendidikan, Mesak juga menyoroti kemungkinan pengangguran akibat arus migrasi.