Wednesday, January 21, 2026
22.7 C
Jayapura

Titus Pekei: Menjaga Noken Berarti Menjaga Kehidupan

JAYAPURA– Hampir setiap suku di Tanah Papua mengenal noken dalam bentuk, sebutan, dan fungsi yang beragam. Dari pedalaman Pegunungan Tengah hingga pesisir utara dan selatan, noken hadir sebagai simbol kebersamaan.

Ia dipakai untuk membawa hasil kebun, barang kebutuhan, bahkan bayi—menunjukkan ikatan antara manusia, keluarga, dan alam.

Dengan diakui dunia, identitas ini tidak lagi hanya dikenal secara lokal. noken menjadi penanda bahwa budaya Papua hidup, berharga, dan memiliki tempat dalam peta kebudayaan global. Titus memberi beberapa catatan terkait noken, pertama noke sebagai martabat. Martabat dalam noken tercermin dalam nilai-nilai dasar yang ia ajarkan: kerja keras, kesabaran, kemandirian, dan kesetiaan kepada alam.

Baca Juga :  Tak Hanya Minyak Tanah, Beli Solar juga Antre

Para perajin – terutama mama-mama Papua jangankan menjual noken, membuatnya saja membutuhkan waktu, ketelitian, dan penghayatan budaya. Ketika UNESCO mengangkat noken ke panggung dunia, martabat Orang Papua ikut terangkat.

Pengakuan ini membuktikan bahwa budaya yang lahir dari hutan-hutan adat, lembah-lembah, dan gunung-gunung Papua memiliki kapasitas untuk menginspirasi dunia tentang keberlanjutan, kedamaian, dan harmoni manusia dengan alam.

Lalu noken sebagai arah masa depan. Noken bukan hanya warisan masa lalu, ia adalah harapan masa depan. Melalui noken, masyarakat Papua diajak untuk melestarikan alam dan bahan baku tradisional. Serat alam yang menjadi bahan dasar noken adalah bagian dari ekosistem Papua.

“Menjaga noken berarti menjaga hutan, sungai, tumbuhan serat, dan seluruh sumber daya yang menopang kehidupan Papua,” beber Titus.

Baca Juga :  Setelah 49 Hari, Sarmi Kembali Bertambah Kasus

JAYAPURA– Hampir setiap suku di Tanah Papua mengenal noken dalam bentuk, sebutan, dan fungsi yang beragam. Dari pedalaman Pegunungan Tengah hingga pesisir utara dan selatan, noken hadir sebagai simbol kebersamaan.

Ia dipakai untuk membawa hasil kebun, barang kebutuhan, bahkan bayi—menunjukkan ikatan antara manusia, keluarga, dan alam.

Dengan diakui dunia, identitas ini tidak lagi hanya dikenal secara lokal. noken menjadi penanda bahwa budaya Papua hidup, berharga, dan memiliki tempat dalam peta kebudayaan global. Titus memberi beberapa catatan terkait noken, pertama noke sebagai martabat. Martabat dalam noken tercermin dalam nilai-nilai dasar yang ia ajarkan: kerja keras, kesabaran, kemandirian, dan kesetiaan kepada alam.

Baca Juga :  Setelah 49 Hari, Sarmi Kembali Bertambah Kasus

Para perajin – terutama mama-mama Papua jangankan menjual noken, membuatnya saja membutuhkan waktu, ketelitian, dan penghayatan budaya. Ketika UNESCO mengangkat noken ke panggung dunia, martabat Orang Papua ikut terangkat.

Pengakuan ini membuktikan bahwa budaya yang lahir dari hutan-hutan adat, lembah-lembah, dan gunung-gunung Papua memiliki kapasitas untuk menginspirasi dunia tentang keberlanjutan, kedamaian, dan harmoni manusia dengan alam.

Lalu noken sebagai arah masa depan. Noken bukan hanya warisan masa lalu, ia adalah harapan masa depan. Melalui noken, masyarakat Papua diajak untuk melestarikan alam dan bahan baku tradisional. Serat alam yang menjadi bahan dasar noken adalah bagian dari ekosistem Papua.

“Menjaga noken berarti menjaga hutan, sungai, tumbuhan serat, dan seluruh sumber daya yang menopang kehidupan Papua,” beber Titus.

Baca Juga :  Lama Buron, Satu KKB Asal Puncak Akhirnya Dibekuk

Berita Terbaru

Artikel Lainnya