JAYAPURA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura secara resmi menyetujui dan menetapkan perubahan motto daerah dalam sidang legislatif.
Perubahan filosofi ini ditandai dengan penambahan satu suku kata baru guna merepresentasikan dan mengakomodir keberadaan seluruh elemen masyarakat adat di Port Numbay secara utuh, khususnya suku Skouw yang selama ini belum terwakili dalam motto sebelumnya.
Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, menyampaikan bahwa penetapan ini merupakan momen bersejarah bagi tatanan adat dan pemerintahan di Kota Jayapura. Motto daerah yang sebelumnya berbunyi Hen Tecahi Yo Onomi, T’mar Ni Hanased kini disempurnakan menjadi Hen Tecahi Loma Aling Yo Onomi, T’mar Ni Hanased.
Rustan menjelaskan bahwa secara harafiah dan makna, motto baru tersebut berarti “Satu hati, satu jalan, membangun kota untuk kemuliaan Tuhan”.
Alasan utama di balik keputusan DPR dan Pemkot Jayapura untuk memperbarui motto daerah tersebut, karena selama ini terdapat suku lokal setempat yang merindukan keterwakilan identitas bahasa dan budayanya dalam motto resmi Kota Jayapura.
“Kenapa ini sangat menarik? Karena ada penambahan satu suku kata yang selama ini motto kita ternyata belum mengakomodir suku dari Skouw. Sehingga yang awalnya Hen Tecahi Yo Onomi, T’mar Ni Hanased, bertambah satu suku kata menjadi Hen Tecahi Loma Aling Yo Onomi, T’mar Ni Hanased,” ujar Rustan, Rabu (7/10).
Ia menjelaskan bahwa penambahan kata Loma Aling (satu jalan) melengkapi frasa Hen Tecahi (satu hati), sehingga ikatan persatuan antar-suku asli Port Numbay semakin solid dan tidak ada lagi yang merasa terabaikan dalam pembangunan daerah.
Lebih lanjut, Rustan menguraikan filosofi mendalam di balik lambang dan motto kota. Bagi jajaran pimpinan daerah, motto bukan sekadar kalimat pajangan atau pelengkap dokumen formalitas, melainkan roh kehidupan seluruh warga kota.
“Ini menunjukkan bahwa jati diri orang Port Numbay semua sudah terakomodir di dalam motto ini. Motto itu melambangkan jiwa. Kalau kita adalah tubuhnya, tubuh tanpa jiwa itu tidak ada gunanya. Tubuh bisa sakit, tetapi jiwa tidak akan pernah sakit,” terangnya secara filosofis.