Talud di Jalur Skyline Dinilai Tak Sesuai Konstruksi

JAYAPURA–Anggota Komisi IV DPR Papua (DPRP), Albert Merauje, menyoroti pekerjaan talud di jalur Skyline, tepatnya di sekitar Tugu Theys Eluay, yang saat ini tengah dikerjakan oleh Balai Jalan. Ia menilai metode pekerjaan proyek tersebut tidak sesuai dengan prinsip dan spesifikasi konstruksi teknik sipil.

Albert mengkritik sistem penahanan talud yang dilakukan dengan mengisi batu karang ke dalam karung, kemudian disusun sebagai penahan tanah. Menurutnya, metode tersebut tidak memiliki daya tahan jangka panjang dan berpotensi gagal struktur.

“Konsep pekerjaan ini tidak sesuai dengan konstruksi. Karung tidak punya daya tahan lama. Suatu saat karungnya akan rusak, lalu batu di dalamnya ambles lagi,” ujar Albert kepada wartawan, Senin (22/12).

Baca Juga :  Gubernur Disarankan Jangan Takut Hadapi KPK

Ia menegaskan, seharusnya pekerjaan penahan longsoran menggunakan bronjong yang memiliki kekuatan dan ketahanan lebih baik. Selain itu, pemasangan bronjong dinilai lebih cepat dan efektif dibandingkan metode karung berisi batu.

Albert Merauje (foto:Karel/Cepos)

“Kalau pakai bronjong, itu satu-dua hari sudah selesai. Ada kawat bronjong, diikat, diisi batu, lalu aman. Ini malah isi karang ke karung, kerjanya lambat dan tidak sesuai spesifikasi,” tegasnya.

Albert mengingatkan, jika karung tersebut hancur akibat cuaca atau usia material, maka saat hujan datang, batu di dalamnya akan terbawa air dan longsoran berpotensi terjadi kembali. “Kalau hujan datang, karung hancur, isinya hanyut semua, akhirnya longsor lagi. Itu sama saja pekerjaan sia-sia,” katanya.

Baca Juga :  Bahas Potensi Ekonomi dan Konektivitas Pasifik

JAYAPURA–Anggota Komisi IV DPR Papua (DPRP), Albert Merauje, menyoroti pekerjaan talud di jalur Skyline, tepatnya di sekitar Tugu Theys Eluay, yang saat ini tengah dikerjakan oleh Balai Jalan. Ia menilai metode pekerjaan proyek tersebut tidak sesuai dengan prinsip dan spesifikasi konstruksi teknik sipil.

Albert mengkritik sistem penahanan talud yang dilakukan dengan mengisi batu karang ke dalam karung, kemudian disusun sebagai penahan tanah. Menurutnya, metode tersebut tidak memiliki daya tahan jangka panjang dan berpotensi gagal struktur.

“Konsep pekerjaan ini tidak sesuai dengan konstruksi. Karung tidak punya daya tahan lama. Suatu saat karungnya akan rusak, lalu batu di dalamnya ambles lagi,” ujar Albert kepada wartawan, Senin (22/12).

Baca Juga :  Negara Abai Dengan Kasus Pelanggaran HAM di Papua

Ia menegaskan, seharusnya pekerjaan penahan longsoran menggunakan bronjong yang memiliki kekuatan dan ketahanan lebih baik. Selain itu, pemasangan bronjong dinilai lebih cepat dan efektif dibandingkan metode karung berisi batu.

Albert Merauje (foto:Karel/Cepos)

“Kalau pakai bronjong, itu satu-dua hari sudah selesai. Ada kawat bronjong, diikat, diisi batu, lalu aman. Ini malah isi karang ke karung, kerjanya lambat dan tidak sesuai spesifikasi,” tegasnya.

Albert mengingatkan, jika karung tersebut hancur akibat cuaca atau usia material, maka saat hujan datang, batu di dalamnya akan terbawa air dan longsoran berpotensi terjadi kembali. “Kalau hujan datang, karung hancur, isinya hanyut semua, akhirnya longsor lagi. Itu sama saja pekerjaan sia-sia,” katanya.

Baca Juga :  Jalur Ringroad Ditutup Total

Berita Terbaru

Artikel Lainnya