“Stop kekerasan, karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah,” tegas Uskup Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius Teofilus Matopai You, yang juga sebagai Ketua Umum PGGP dalam khotbahnya saat ibadah syukur dan KKR Hari Pekabaran Injil (HPI) ke-169, di GOR Cenderawasih, Senin (5/2) kemarin.
Bahkan yang membahagiakan, karena dari ketiga tahbisan tersebut satu diantaranya merupakan Putra Marind sekaligus menjadi orang keempat dari Suku Marind yang menjadi Pastor sejak Agama Katolik masuk Papua Selatan tahun 1905 lalu.
Natal bersama ini dihadiri sejumlah pastor degan selebran utama Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi dengan mengambil tema nasional Kemuliaan Bagi Allah dan Damai di Bumi dengan sub tema bangkit dan bergerak untuk keluarga, gereja, bangsa dna tanah air (pro familia ecclesia et patria).
Namun Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC memberikan sejumlah catatan moral kepada para pemilih di Keuskupan Agung Merauke dalam menjatuhkan pilihannya. Pertama, menurut Uskup Mandagi adalah harus mengetahui rekam jejak dari caleg yang akan dipilih tersebut.
Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, yang memimpin dan membawakan renungan pada natal terkait dengan kelahiran Yesus Kristus, dimana para gembala di padang gurun yang pertama mendapatkan kabar suka cita tentang kelahiran Yesus Kristus tersebut.
Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC menyampaikan terima kasih kepada Pj.Gubernur Papua Selatan yang telah membantu melancarkan jalannya open house tersebut dimana diketahui telah memasuki tahun 2024 sehingga menyambut tahun baru ini yaitu dengan penuh harapan yang baik.
Prosesi misa penjubahan tersebut diawali dengan penyambutan tari-tarian Papua, kemudian dilanjutkan dengan tarian adat dari Suku Tanimbar, Maluku Tenggara. Dalam prosesi tersebutm satu persatu dari calon imam ini dipanggil kemudian menuju Uskup Mandagi kemudian dilakukan penjubahan.
Karena itu, menyongsong hari yang sangat kudus dan suci ini, Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You, menyampaikan pesan Natal untuk tahun 2023 ini. Dalam surat gembalanya, Uskup menyebut bahwa meski tahun politik atau pesta demokrasi dilaksanakan tahun 2024 mendatang, namun saat ini sudah mulai terasa.
“Kita dituntut untuk menjaga persatuan dan kesatuan, baik dengan 9 paroki yang ada di wilayah Dekenat Pegunungan Tengah maupun dengan gereja lain serta dengan agama lain untuk bersama –sama membangun Lembah Baliem dalam suasana yang damai,”ungkapnya dalam misa syukuran bersama ribuan umat Katolik dari 9 Paroki di Jayawijaya.
Uskup Yanuarius langsung dijemput Wakil Bupati Jayawijaya, Marthin Yogibi, SH, MHum, Asisten 1 Sekda Provinsi Papua Pegunungan, Drs, Wasuok Demianus Siep, Pastor Dekenat Pegunungan Tengah, Cornelis Kopong Pr, dan sejumlah pastor Paroki yang ada di wilayah itu.