JAYAPURA-Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua menyiapkan generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui bimbingan teknis (bimtek) pembuatan eco enzyme.
Kegiatan tersebut digelar di halaman Kantor DKLH Papua, Jumat (13/2), dengan melibatkan 11 sekolah di Jayapura, terdiri atas dua sekolah dasar (SD) dan sembilan sekolah menengah pertama (SMP).
Sekretaris DKLH Papua, sekaligus narasumber proses pembuatan eco enzyme, Aries Toteles Ap, mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali pelajar dengan keterampilan mengelola sampah organik menjadi produk yang bermanfaat, terutama untuk pemupukan tanaman di lingkungan sekolah.
Menurutnya, eco enzyme dibuat dari limbah buah-buahan yang difermentasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair ramah lingkungan. Melalui praktik tersebut, sampah organik tidak lagi terbuang percuma, melainkan diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
“Kami berharap pelajar memiliki kemampuan menjaga lingkungan dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka,” katanya kepada Cenderawasih Pos.
Ia menambahkan, setelah mengikuti pelatihan, sekolah diharapkan dapat menerapkan pembuatan eco enzyme secara mandiri dan mendukung program sekolah berwawasan lingkungan, termasuk Adiwiyata.
“Setelah para pelajar mengikuti Bimtek mereka bisa memiliki kemampuan untuk menjaga alam yang ada di sekitar mereka. Kita harap juga sekolah yang kita undang hari ini ikut dalam Adiwiyata Nasional,” ujarnya.
JAYAPURA-Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua menyiapkan generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui bimbingan teknis (bimtek) pembuatan eco enzyme.
Kegiatan tersebut digelar di halaman Kantor DKLH Papua, Jumat (13/2), dengan melibatkan 11 sekolah di Jayapura, terdiri atas dua sekolah dasar (SD) dan sembilan sekolah menengah pertama (SMP).
Sekretaris DKLH Papua, sekaligus narasumber proses pembuatan eco enzyme, Aries Toteles Ap, mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali pelajar dengan keterampilan mengelola sampah organik menjadi produk yang bermanfaat, terutama untuk pemupukan tanaman di lingkungan sekolah.
Menurutnya, eco enzyme dibuat dari limbah buah-buahan yang difermentasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair ramah lingkungan. Melalui praktik tersebut, sampah organik tidak lagi terbuang percuma, melainkan diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
“Kami berharap pelajar memiliki kemampuan menjaga lingkungan dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka,” katanya kepada Cenderawasih Pos.
Ia menambahkan, setelah mengikuti pelatihan, sekolah diharapkan dapat menerapkan pembuatan eco enzyme secara mandiri dan mendukung program sekolah berwawasan lingkungan, termasuk Adiwiyata.
“Setelah para pelajar mengikuti Bimtek mereka bisa memiliki kemampuan untuk menjaga alam yang ada di sekitar mereka. Kita harap juga sekolah yang kita undang hari ini ikut dalam Adiwiyata Nasional,” ujarnya.