Dari silaturahmi tersebut, Dirlantas Polda Papua, Kombes. Pol. Abrianto Pardede juga menyerahkan bantuan kasih untuk meringankan kondisi para korban. Ini sekaligus menjadi bentuk dukungan moril kepada para korban untuk tetap semangat dan mau bangkit.
Kasat Reserse Kriminal Polres Merauke AKP Haris Baltasar Nasution, STK, SIK, saat memimpin langsung oleh TKP mengungkapkan bahwa kasus penemuan jenasah tersebut diduga pembunuhan. Pasalnya, di tubuh korban ditemukan banyak bekas pemukulan benda tumpul baik di kepala maupun tubuhnya. Tak hanya itu, korban juga sebelum dibunuh diduga terlebih dahulu diperkosa.
“Kegiatan bakti kesehatan yang kami gelar ini merupakan bentuk kepedulian Polres Keerom, dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara gratis, dengan turun langsung ke lapangan melihat masyarakat di kampung-kampung,” ungkap dr. Rebeka dalam rilisnya.
Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Victor Mackbon menyampaikan terkait penemuan dua jenazah orok bayi ini, ia meminta anggotanya terus melakukan penyelidikan. Mencari keterangan tambahan untuk menemukan siapa ibu jabang bayi yang tega membuang anaknya.
“Kedua terduga pelaku kami amankan saat kami menggelar razia di Jalan Trans Papua, saat digeledah dari 'RF' kami temukan 1 bungkus plastik bening berukuran kecil berisi ganja kering. Sementara dari 'NAK' kami temukan 2 bungkus plastik bening ukuran kecil berisi ganja kering,” ungkap Aipda Yan Hendrik.
Kapolres Merauke AKBP I Ketut Suaryana, SH, SIK melalui Kasat Lantas AKP Novi Gultom, SIK membenarkan laka tunggal yang terjadi tersebut. Menurut Kasat Lantas, laka tunggal ini berawal saat korban mengendarai sepeda motor Kawasaki KLX D-Tracker No. Pol PA 1006 FT yang saat itu diduga dalam pengaruh minuman beralkohol melaju dari arah selatan ke utara atau dari arah Jalan Ahmad Yani menuju Lingkaran Brawijaya (Libra).
Dari tujuh orang yang kabur, polisi akhirnya berhasil menemukan tiga orang sehingga tersisa empat orang lagi. Terkait empat tahanan yang masih kabur, Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Victor Mackbon meminta untuk para pelaku yang kabur untuk segera menyerahkan diri.
Pihak rumah sakit dalam hal ini RS Bhayangkara tempat jenazah disimpan, juga belum bisa melakukan autopsi. Sebab menurut kaur Pelayanan Dokpol RS Bhayangkara jayapura, dr. Annisa R. Alkatiry, pihaknya masih menunggu permintaan penyidik.
Suasana pembelanjaan di Rumah Honai Gabus Papua Pintar, terlihat para peserta didik melantai dan belajar dengan menggunakan meja yang merupakan bantuan atas kepedulian buta aksara yang cukup tinggi di Kab. Jayapura.
Jika dilihat dari rekaman CCTV yang menyebar di media social, para pelaku yang terbilang masih berusia muda ini, keluar dari ruang tahanan dengan cara membobol pintu sel bagian bawah kemudian satu persatu keluar.