“Untuk pembinaan politik kepada perempuan juga masih kami lakukan. Ada yang sudah menjabat dan lolos kami minta mereka berbagi pengalaman, bercerita dan memberikan pendidikan politik kepada mereka yang baru mau berkecimpung,” beber Betty Puy di Engros pekan kemarin.
Semangatnya untuk belajar tampaknya tidak hanya sampai di situ, namun dia kembali melanjutkan pendidikannya ke Jenjang S2, dan pada tahun 2007 dia berhasil meraih S2 Manajemen Pembangunan Daerah di IPB Bogor Jawa Barat.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen Marlina Dr. Flassy mengaku bangga karena selain sebagai dosen FISIP tapi Prof. DR. Vince kembali mencetak sejarah sebagai perempuan ke-2 yang meraih jabatan guru besar di Uncen.
Kapolres Jayapura AKBP Fredrickus W.A Maclarimboen, S.IK., MH melalui Kasat Reskrim AKP Sugarda A.B. Trenggoro, S.TK., MH saat dikonfirmasi membenarkan kasus penemuan mayat bayi yang diduga sengaja dibuang di tempat sampah.
Dengan tema yang diangkat Empowering Women, pihaknya inigin menekankan kepada anak muda, agar isu kesetaraan gender bisa diketahui dan dipahami dengan baik oleh teman-teman pemuda.
Dimana Hak-hak perempuan itu antara lain, hak politik, hak perempuan dalam birokrasi, ekonomi , pendidikan dan kesehatan serta berbagai hal lainnya agar perempuan juga setera dengan laki – laki dalam pengambilan keputusan apapun.
Berkaitan dengan hari perempuan ini, beberapa perempuan di Jayapura ikut bersuara, soal perjuangan, emansipasi perempuan, penghormatan terhadap kaum perempuan. Termasuk hentikan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun.
Kekerasan yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga (KDRT) sering kali dianggap aib keluarga. Ironisnya perempuan dan anak yang sering menjadi korban, masih sulit untuk mendapatkan keadilan. Ujung-ujungnya, kasus kekerasan ini terus terbiar dan cenderung meningkat.
Dikatakan Nona, pemerintah tak boleh diam atau membiarkan perempuan dan anak mencari perlindungan sendiri di tengah konflik. Pasalnya, perempuan dan anak anak merupakan kaum rentan yang rawan jadi korban di tengah konflik.
“Air bersih di sana (Lapas Perempuan-red) memang tidak layak, cuman mereka juga bingung mau ambil dari mana. Sementara untuk beli satu kali pesan harus mengeluarkan Rp 800 ribu/tangki,” ucap Nona.