KARUBAGA– Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos menyatakan musibah kebakaran yang melanda kawasan padat penduduk Giling Batu hingga pertengahan Kogome, Distrik Karubaga, pada 28 Januari lalu bukan bencana biasa, melainkan bencana perkotaanyang memerlukan penanganan lintas sektoral dari pemerintah pusat.
Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos dalam laporan resminya, mengisahkan bahwa kebakaran pertama kali terpantau berasal dari lantai dua salah satu kios milik warga di kawasan permukiman padat.
Berdasarkan keterangan awal saksi di lapangan dan hasil pemeriksaan sementara aparat kepolisian, kebakaran diduga kuat dipicu oleh korsleting arus listrik, meskipun penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan resmi.
“Dalam hitungan menit sejak api muncul, kebakaran berkembang sangat cepat dan menjalar ke bangunan di sekitarnya, meluas dari satu unit kios ke rumah-rumah tinggal warga, kos-kosan masyarakat, kios usaha rakyat, warung makan, dan bengkel kendaraan serta berbagai unit usaha kecil produktif,” ucap Bupati Willem Wandik.
Dalam hitungan menit api cepat menjalar dipengaruhi oleh kombinasi faktor struktural wilayah, antara lain, epadatan bangunan yang berdiri berhimpitan tanpa jarak aman, dominasi material kayu dan bahan mudah terbakar, hembusan angin lembah pegunungan yang cukup kencang, dan ketiadaan sistem air pemadam kebakaran siap pakai.
Peristiwa kebakaran di Karubaga telah menimbulkan dampak multidimensi yang signifikan, baik secara sosial, fisik, ekonomi, maupun terhadap stabilitas kawasan perkotaan pegunungan. Kebakaran berdampak langsung terhadap 246 Kepala Keluarga (KK) yang kehilangan tempat tinggal, akses terhadap kebutuhan dasar dan umber mata pencaharian utama.
Sebagian besar warga terdampak merupakan pelaku usaha mikro dan keluarga berpenghasilan harian yang menggantungkan hidup pada, kios, warung makan, usaha kuliner lokal, bengkel kendaraan dan jasa teknis serta kos-kosan.
Akibat kejadian ini terjadi peningkatan pengungsian darurat, muncul kerentanan sosial dan ekonomi rumah tangga, dan potensi meningkatnya kemiskinan.
Dari segi kerusakan fisik infrastruktur dan bangunan, tercatat sekitar ±200 unit bangunan hangus terbakar dengan tingkat kerusakan 100% (total loss), terdiri dari bangunan hunian, bangunan usaha dan ekonomi rakyat, tempat usaha produktif rakyat.
Berdasarkan perhitungan awal yang mencakup nilai bangunan, aset perdagangan, stok barang, hingga kerusakan sarana lingkungan, total kerugian material diperkirakan mencapai ± Rp156.000.000.000,-.Angka ini diprediksi masih bisa bertambah jika menghitung kehilangan pendapatan masyarakat jangka panjang dan biaya relokasi yang diperlukan oleh pemerintah daerah.
Sebagai bentuk respons cepat, Pemerintah Kabupaten Tolikara di bawah kepemimpinan Bupati Willem Wandik segera mengambil langkah-langkah strategis penanganan darurat secara terkoordinasi, terpadu, dan berjenjang mulai dari Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana, Pembentukan dan Pengoperasian Posko Induk Penanganan Darurat, Pengerahan Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Tolikara, hingga Penetapan Masa Transisi dari Tanggap Darurat ke Rehabilitasi dan Rekonstruksi.