Pada PON Beladiri II di Kudus pada Oktober 2025, dari rencana 10 cabor, hanya 6 cabor yang berangkat (Kempo, Wushu, Pencak Silat, Jujitsu, Karate, Taekwondo). Hasilnya, Papua meraih 1 Emas, 1 Perak serta 1 Perunggu.
Di SEA Games Thailand, Papua sukses mengirimkan 32 atlet terbaiknya untuk memperkuat kontingen Indonesia di berbagai nomor pertandingan, membuktikan kualitas atlet Papua tetap diperhitungkan di level internasional dengan meraih 6 emas, 8 perak dan 12 perunggu.
Tahun 2025 menjadi tahun yang berat dari sisi finansial. Dari total rencana kebutuhan dana sebesar Rp 21.603.350.000, realisasi yang diterima hanya sebesar Rp 200.000.000.
Dampak dari terbatasnya anggaran pembinaan berkelanjutan ini sangat terasa. Sebanyak 11 atlet berprestasi (eks peraih medali PON, Kejuaraan Asia, dan Dunia) memutuskan pindah ke provinsi lain demi kelangsungan karier mereka.
Sementara alokasi dana, realisasi anggaran yang ada digunakan secara selektif untuk gaji 20 karyawan aktif (November-Desember), perjalanan dinas Rakernas KONI Pusat, CdM Meeting PON Beladiri, serta operasional rutin sekretariat.
Menatap tahun 2026, KONI Papua telah menyusun agenda strategis seperti Rapat Kerja Provinsi (RAKERPROV) pada Maret, Musyawarah Olahraga Provinsi (MUSORPROV) di bulan Juni, Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) pada September sebagai ajang pembuktian pembinaan daerah.
Perjalanan KONI Papua di tahun 2025 menunjukkan dedikasi yang tinggi di tengah keterbatasan. Harapannya, pada tahun 2026, dukungan anggaran dapat lebih maksimal guna menghentikan arus mutasi atlet dan mengembalikan kejayaan olahraga Papua di pentas nasional.
“Kita berharap ada dukungan dari pemerintah agar pembinaan atlet bisa kita lakukan dan menjaga prestasi atlet-atlet Papua,” ungkap Sekretaris Umum KONI Papua, George Weyasu kepada Cenderawasih Pos, Selasa (30/12). (eri/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos