alexametrics
24.7 C
Jayapura
Wednesday, June 22, 2022

Trend Ujaran Kebencian di Kalangan Pengguna Medsos di Papua Meningkat

JAYAPURA – Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua mengklaim trend ujaran kebencian di kalangan pengguna media sosial di Papua mengalami peningkatan. Salah satu pemicunya yakni pengaruh kontestasi Pemilu tahun 2024 mendatang.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Papua, Jery Agus Yudianto menerangkan, kontestasi politik sangat mempengaruhi munculnya ujaran kebencian.

Jery memperkirakan hal ini akan semakin besar satu tahun jelang Pemilu 2024 mendatang. Sebab, pertumbuhan ujaran kebencian ini karena semakin banyak orang yang mengakses internet. “Memang dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” kata Jery, Selasa (21/6) kemarin.

Menurutnya, kontestasi politik yang sedang terjadi tidak perlu dibawa ke ranah kehidupan pribadi, sehingga kemudian terjadi ujaran kebencian atas dasar ketidakpuasan dan lainnya.

Baca Juga :  Agustus, Erwin Gutawa Akan Bersimponi Bersama Musisi Papua

“Kalau kita sadari terkait politik itu, setiap lima tahun pasti ada pergantian kok. Tidak usah terlalu dibawa ke kehidupan pribadi lah,” tegasnya.

Lanjutnya, selain pengaruh politik kata Jery, masalah ujaran kebencian ini juga dilatarbelakangi kurangnya literasi dan minimnya penegakan hukum karena enggannya korban melapor ke pihak berwajib.

“Literasi ini penting, ketika melihat gambar atau foto atau video di medsos yah disaring dulu sebelum disharing sehingga tidak memantik reaksi dari individu atau kelompok mengungkapkan kata-kata tidak sepantasnya,” tandasnya. (fia/gin)

JAYAPURA – Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua mengklaim trend ujaran kebencian di kalangan pengguna media sosial di Papua mengalami peningkatan. Salah satu pemicunya yakni pengaruh kontestasi Pemilu tahun 2024 mendatang.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Papua, Jery Agus Yudianto menerangkan, kontestasi politik sangat mempengaruhi munculnya ujaran kebencian.

Jery memperkirakan hal ini akan semakin besar satu tahun jelang Pemilu 2024 mendatang. Sebab, pertumbuhan ujaran kebencian ini karena semakin banyak orang yang mengakses internet. “Memang dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” kata Jery, Selasa (21/6) kemarin.

Menurutnya, kontestasi politik yang sedang terjadi tidak perlu dibawa ke ranah kehidupan pribadi, sehingga kemudian terjadi ujaran kebencian atas dasar ketidakpuasan dan lainnya.

Baca Juga :  Belum Ada Petunjuk Dari Gubernur Terkait Karateker

“Kalau kita sadari terkait politik itu, setiap lima tahun pasti ada pergantian kok. Tidak usah terlalu dibawa ke kehidupan pribadi lah,” tegasnya.

Lanjutnya, selain pengaruh politik kata Jery, masalah ujaran kebencian ini juga dilatarbelakangi kurangnya literasi dan minimnya penegakan hukum karena enggannya korban melapor ke pihak berwajib.

“Literasi ini penting, ketika melihat gambar atau foto atau video di medsos yah disaring dulu sebelum disharing sehingga tidak memantik reaksi dari individu atau kelompok mengungkapkan kata-kata tidak sepantasnya,” tandasnya. (fia/gin)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/