Monday, March 9, 2026
26.9 C
Jayapura

Ternyata Perempuan Lebih Rentan Menderita Radang Sendi Dibanding Laki-laki

JAKARTA– Data medis menunjukkan bahwa untuk menderita penyakit radang sendi kaum perempuan lebih tinggi kemungkinannya jika dibandingkan dengan laki-laki, khususnya untuk kategori Artritis Rematoid (AR).

Salah satu elemen krusial yang melandasi fenomena ini adalah keberadaan hormon estrogen. Hormon esterogen memiliki kemampuan untuk memengaruhi sistem kekebalan tubuh, saat hormon esterogen meningkat akan menimbulkan kerentanan terhadap munculnya reaksi peradangan.Penjelasan ini diperkuat oleh dr. Andry Reza Rahmadi, SpPD, MKes, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RS Hasan Sadikin Bandung.

Dr. Andry memaparkan bahwa hormon estrogen memang memegang pengaruh yang signifikan terhadap cara kerja mekanisme autoimun di dalam tubuh manusia.Faktor hormonal itulah yang menyebabkan berbagai jenis penyakit autoimun, termasuk Artritis Rematoid, memiliki angka kejadian yang jauh lebih dominan pada populasi perempuan.

Baca Juga :  Dianggap Cacat Formil, PKPU Tentang Syarat Capres-Cawapres Digugat ke MA

Jika kita melihat perbandingan kasus Artritis Rematoid, rasionya antara perempuan dan laki-laki berada di angka sekitar 4 berbanding 1. Bahkan pada kasus lupus, perbandingannya jauh lebih tajam, yakni bisa menyentuh angka 9 berbanding 1. Dengan kata lain, di antara sembilan perempuan yang terdiagnosa, kemungkinan hanya ada satu laki-laki yang mengalami kondisi serupa. Data tersebut mengonfirmasi bahwa esterogen sendiri memiliki peran yang besar.

Dr. Andry, yang juga aktif sebagai anggota Indonesian Rheumatology Associations (IRA), menjabarkan bahwa kondisi autoimun adalah situasi di mana sistem pertahanan tubuh mengalami kesalahan dalam mengenali targetnya. Sistem imun justru mengidentifikasi jaringan tubuh sendiri sebagai zat asing yang berbahaya. Dampaknya, antibodi yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang organ tubuh, termasuk bagian persendian.

Baca Juga :  Perempuan Gereja Kemah Injil Kingmi Harus Jadi Pribadi yang Mandiri dan Kuat

“Seharusnya sistem imun melindungi tubuh, tapi pada kondisi autoimun justru menyerang jaringan sendiri. Di sendi, reaksi ini memicu peradangan yang ditandai dengan nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa panas,” jelasnya.

JAKARTA– Data medis menunjukkan bahwa untuk menderita penyakit radang sendi kaum perempuan lebih tinggi kemungkinannya jika dibandingkan dengan laki-laki, khususnya untuk kategori Artritis Rematoid (AR).

Salah satu elemen krusial yang melandasi fenomena ini adalah keberadaan hormon estrogen. Hormon esterogen memiliki kemampuan untuk memengaruhi sistem kekebalan tubuh, saat hormon esterogen meningkat akan menimbulkan kerentanan terhadap munculnya reaksi peradangan.Penjelasan ini diperkuat oleh dr. Andry Reza Rahmadi, SpPD, MKes, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RS Hasan Sadikin Bandung.

Dr. Andry memaparkan bahwa hormon estrogen memang memegang pengaruh yang signifikan terhadap cara kerja mekanisme autoimun di dalam tubuh manusia.Faktor hormonal itulah yang menyebabkan berbagai jenis penyakit autoimun, termasuk Artritis Rematoid, memiliki angka kejadian yang jauh lebih dominan pada populasi perempuan.

Baca Juga :  Pelayanan di Rumah Sakit  Tak Boleh Terganggu

Jika kita melihat perbandingan kasus Artritis Rematoid, rasionya antara perempuan dan laki-laki berada di angka sekitar 4 berbanding 1. Bahkan pada kasus lupus, perbandingannya jauh lebih tajam, yakni bisa menyentuh angka 9 berbanding 1. Dengan kata lain, di antara sembilan perempuan yang terdiagnosa, kemungkinan hanya ada satu laki-laki yang mengalami kondisi serupa. Data tersebut mengonfirmasi bahwa esterogen sendiri memiliki peran yang besar.

Dr. Andry, yang juga aktif sebagai anggota Indonesian Rheumatology Associations (IRA), menjabarkan bahwa kondisi autoimun adalah situasi di mana sistem pertahanan tubuh mengalami kesalahan dalam mengenali targetnya. Sistem imun justru mengidentifikasi jaringan tubuh sendiri sebagai zat asing yang berbahaya. Dampaknya, antibodi yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang organ tubuh, termasuk bagian persendian.

Baca Juga :  Cegah HIV/AIDS, Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Komprehensif

“Seharusnya sistem imun melindungi tubuh, tapi pada kondisi autoimun justru menyerang jaringan sendiri. Di sendi, reaksi ini memicu peradangan yang ditandai dengan nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa panas,” jelasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya