Gaya Hidup Serba Online Picu Ancaman Kesehatan

JAKARTA – Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pemesanan makanan. Namun di balik kepraktisan layanan pesan antar berbasis aplikasi, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh dr. Hj. Anumakarti Resi Oetomo Sp.PD KGH-FINASIM yang menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat sejak maraknya layanan makanan online.

Menurutnya, kemudahan akses melalui platform digital telah mengubah kebiasaan makan, terutama di kalangan generasi muda. “Dulu orang harus keluar rumah untuk membeli makanan. Sekarang cukup lewat ponsel, makanan datang sendiri. Ini memang praktis, tapi ada dampak kesehatan yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Layanan pesan antar makanan mulai berkembang pesat di Indonesia sejak 2015-2016. Kehadiran berbagai aplikasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor UMKM, tetapi juga memicu perubahan pola konsumsi masyarakat ke arah makanan siap saji. Dr. Nunuk, sapaannya menjelaskan, sebagian besar makanan yang tersedia di platform online cenderung tinggi kalori, garam, dan gula, namun rendah serat. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas.

Baca Juga :  Tragedi Dokter Muda: Tiga Peserta Internship Wafat dalam Sebulan

“Ketika asupan kalori berlebih tidak diimbangi aktivitas fisik, maka berat badan akan naik. Dari situ muncul risiko penyakit seperti diabetes dan hipertensi,” jelasnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyakit tidak berhenti pada tahap tersebut. Kondisi kronis seperti stroke, penyakit jantung koroner, hingga gagal ginjal juga berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan.

Kelompok yang paling rentan, lanjutnya, adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Faktor kepraktisan membuat mereka lebih sering memesan makanan daripada memasak sendiri. “Ini juga berkaitan dengan gaya hidup sedentari. Orang jadi semakin jarang bergerak karena semua bisa dilakukan dari rumah,” tambahnya. Selain dampak kesehatan, kebiasaan memesan makanan online juga dinilai kurang efisien secara ekonomi. Harga makanan yang dipesan melalui aplikasi umumnya lebih mahal dibandingkan memasak sendiri atau membeli langsung di tempat.

Baca Juga :  Sanksi Menanti yang Live Saat Jam Kerja

Data dari berbagai survei nasional menunjukkan adanya peningkatan signifikan konsumsi makanan jadi sejak hadirnya layanan pesan antar. Menu favorit seperti ayam goreng, nasi goreng, pizza, hingga minuman manis menjadi pilihan utama masyarakat. Menurut dr. Anumakarti, fenomena ini menandakan adanya transisi pola makan yang perlu diantisipasi sejak dini.

JAKARTA – Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pemesanan makanan. Namun di balik kepraktisan layanan pesan antar berbasis aplikasi, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh dr. Hj. Anumakarti Resi Oetomo Sp.PD KGH-FINASIM yang menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat sejak maraknya layanan makanan online.

Menurutnya, kemudahan akses melalui platform digital telah mengubah kebiasaan makan, terutama di kalangan generasi muda. “Dulu orang harus keluar rumah untuk membeli makanan. Sekarang cukup lewat ponsel, makanan datang sendiri. Ini memang praktis, tapi ada dampak kesehatan yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Layanan pesan antar makanan mulai berkembang pesat di Indonesia sejak 2015-2016. Kehadiran berbagai aplikasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor UMKM, tetapi juga memicu perubahan pola konsumsi masyarakat ke arah makanan siap saji. Dr. Nunuk, sapaannya menjelaskan, sebagian besar makanan yang tersedia di platform online cenderung tinggi kalori, garam, dan gula, namun rendah serat. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas.

Baca Juga :  Digitalisasi Retribusi Parkir, Pemkot Jayapura Gandeng BRI

“Ketika asupan kalori berlebih tidak diimbangi aktivitas fisik, maka berat badan akan naik. Dari situ muncul risiko penyakit seperti diabetes dan hipertensi,” jelasnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyakit tidak berhenti pada tahap tersebut. Kondisi kronis seperti stroke, penyakit jantung koroner, hingga gagal ginjal juga berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan.

Kelompok yang paling rentan, lanjutnya, adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Faktor kepraktisan membuat mereka lebih sering memesan makanan daripada memasak sendiri. “Ini juga berkaitan dengan gaya hidup sedentari. Orang jadi semakin jarang bergerak karena semua bisa dilakukan dari rumah,” tambahnya. Selain dampak kesehatan, kebiasaan memesan makanan online juga dinilai kurang efisien secara ekonomi. Harga makanan yang dipesan melalui aplikasi umumnya lebih mahal dibandingkan memasak sendiri atau membeli langsung di tempat.

Baca Juga :  Permudah Layanan Publik, Wali Kota Launching Kampung Digital 

Data dari berbagai survei nasional menunjukkan adanya peningkatan signifikan konsumsi makanan jadi sejak hadirnya layanan pesan antar. Menu favorit seperti ayam goreng, nasi goreng, pizza, hingga minuman manis menjadi pilihan utama masyarakat. Menurut dr. Anumakarti, fenomena ini menandakan adanya transisi pola makan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya